https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Studi: Katak Betina Kesulitan Memilih Pasangan Saat Terlalu Banyak Pejantan

Agus Mughni | Sabtu, 15/08/2026 19:05 WIB



Penelitian terbaru menunjukkan, terlalu banyak suara pejantan justru dapat membuat katak betina lebih lambat, kurang akurat, bahkan enggan memilih pasangan Katak pohon abu-abu Cope berjenis kelamin betina (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Bagi katak pohon abu-abu Cope, memiliki banyak pilihan pasangan ternyata tidak selalu menguntungkan. Penelitian terbaru menunjukkan, terlalu banyak suara pejantan justru dapat membuat katak betina lebih lambat, kurang akurat, bahkan enggan memilih pasangan.

Temuan tersebut berasal dari penelitian terhadap Cope’s gray treefrog, yang hidup di wilayah timur Amerika Utara. Pada musim kawin, pejantan berkumpul dan mengeluarkan suara secara bersamaan untuk menarik perhatian betina.

Dalam kondisi seperti itu, betina harus memilah banyak suara sekaligus sebelum menentukan pejantan yang akan dipilih. Peneliti menemukan, bertambahnya jumlah suara dapat menimbulkan apa yang disebut choice overload atau kelebihan pilihan.

Baca juga :
Ini Yang Mesti Anda Ketahui Saat Memilih Pendamping Hidup

Dikutip dari Earth, peneliti menguji respons katak betina melalui rekaman suara pejantan yang diputar menggunakan pengeras suara. Jumlah suara pesaing dibuat bervariasi, sementara tingkat kebisingan latar juga diubah.

Hasilnya cukup jelas. Ketika hanya mendengar dua suara, 97 persen katak betina memilih mengejar pasangan. Angka itu turun menjadi 82 persen ketika jumlah suara meningkat menjadi delapan.

Kemampuan memilih pejantan tertentu juga menurun. Dari 76 persen ketika hanya ada dua suara, tingkat keberhasilan memilih suara target turun menjadi 25 persen ketika delapan suara diperdengarkan secara bersamaan.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan ikut meningkat. Katak betina rata-rata membutuhkan 114 detik ketika hanya ada dua suara, tetapi menjadi sekitar 183 detik ketika delapan suara bersaing menarik perhatiannya.

Peneliti sebelumnya banyak melihat persoalan tersebut sebagai efek energetic masking, yakni kondisi ketika suara yang bertumpuk membuat sinyal tertentu lebih sulit terdengar.

Namun penelitian ini menunjukkan ada persoalan lain. Bahkan ketika faktor kebisingan diperhitungkan, semakin banyak suara pejantan tetap membuat kemampuan katak betina dalam memilih menurun.

“Kami terkejut melihat betapa jelasnya hasil penelitian ini,” kata Jessie Tanner, penulis senior sekaligus asisten profesor di University of Tennessee.

Menurutnya, dengan atau tanpa kebisingan tambahan, peningkatan jumlah suara yang diterima katak betina membuat kinerjanya menurun dalam beberapa aspek.

Claire Hemingway, penulis utama penelitian sekaligus asisten profesor di University of Tennessee, menggambarkan persoalan tersebut melalui analogi kehidupan manusia.

Pertanyaannya, apakah katak betina kesulitan memilih karena tidak bisa mendengar suara pejantan dengan jelas di tengah keramaian, atau karena terlalu banyak pilihan yang harus dibandingkan?

Hasil penelitian lebih mengarah pada kemungkinan kedua. Artinya, suara pejantan yang tetap terdengar belum tentu membuat proses pemilihan menjadi lebih mudah.

Katak betina tetap harus memproses dan membandingkan berbagai pilihan sebelum menentukan pasangan.

Temuan ini memperlihatkan bahwa proses memilih pasangan bukan hanya bergantung pada kualitas sinyal yang diberikan pejantan. Kemampuan otak betina dalam memproses banyak informasi sekaligus juga dapat memengaruhi hasil perkawinan.

Dalam lingkungan dengan banyak pejantan yang bersuara bersamaan, sebagian pejantan mungkin lebih sulit dipilih bukan semata-mata karena kualitas suaranya, tetapi karena terlalu banyak alternatif yang harus diproses betina.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi sexual selection, yaitu proses evolusi yang membuat karakteristik tertentu menjadi lebih atau kurang umum karena keberhasilannya dalam menarik pasangan.

Meski demikian, penelitian ini tidak membuktikan bahwa choice overload selalu menjadi faktor utama dalam semua kondisi alami. Eksperimen dilakukan di laboratorium menggunakan rekaman suara, sehingga situasi tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi di kolam perkembangbiakan alami.

Penelitian ini juga tidak meniadakan pengaruh suara yang saling bertumpuk. Temuannya menunjukkan bahwa jumlah pilihan dapat menjadi tantangan tersendiri, bahkan setelah pengaruh kebisingan diperhitungkan. (*)

Studi tersebut dipublikasikan di jurnal iScience.

Sumber: Earth

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Katak Betina Memilih Pasangan Katak Pejantan Kawin Katak

Terkini | Sabtu, 15/08/2026 21:18 WIB

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777