https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Peneliti Kaitkan Suhu Panas dengan Lonjakan Masalah Kesehatan Mental Anak

Agus Mughni | Minggu, 09/08/2026 19:05 WIB



Kenaikan suhu dan gelombang panas berpotensi berkaitan dengan meningkatnya masalah kesehatan mental pada anak dan remaja ilustrasi kenaikan suhu bumi (Foto: UPI.com)

Jakarta, Jurnas.com - Kenaikan suhu dan gelombang panas berpotensi berkaitan dengan meningkatnya masalah kesehatan mental pada anak dan remaja. Temuan tersebut berasal dari tinjauan global yang menganalisis penelitian mengenai dampak suhu terhadap kesehatan mental kelompok usia hingga 25 tahun.

Peneliti meninjau 23 studi yang diterbitkan pada periode 2003 hingga 2024. Sebanyak 19 penelitian mengamati perubahan suhu harian, sedangkan empat lainnya meneliti periode gelombang panas.

Dikutip dari Earth, hasil gabungan menunjukkan setiap kenaikan suhu harian sebesar 1 derajat Celsius berkaitan dengan peningkatan masalah kesehatan mental sekitar 0,9 persen.

Baca juga :
Suhu Tembus 42,5 Celsius, Seoul Terbitkan Peringatan Panas Parah

Masalah yang tercatat dalam berbagai penelitian mencakup kunjungan ke unit gawat darurat, rawat inap, layanan kesehatan jiwa, panggilan bantuan krisis, serta diagnosis gangguan kesehatan mental.

Perbedaan terlihat berdasarkan usia. Pada anak berusia 5 hingga 18 tahun, kenaikan suhu berkaitan dengan peningkatan risiko masalah kesehatan mental sebesar 1,5 persen.

Baca juga :
AC Picu Kebakaran di Panti Asuhan Aljazair, 11 Orang Tewas

Sementara pada anak berusia di bawah 5 tahun, penelitian yang ditinjau belum menemukan hubungan yang jelas antara kenaikan suhu dan masalah kesehatan mental.

Risiko terlihat lebih besar ketika anak usia sekolah menghadapi gelombang panas. Kelompok usia 5 hingga 18 tahun memiliki risiko masalah kesehatan mental 25,3 persen lebih tinggi selama gelombang panas dibandingkan periode tanpa gelombang panas.

Baca juga :
Gelombang Panas Landa Belanda, 911 Orang Dilaporkan Meninggal

Epidemiolog Flinders University, Jacqueline Stephens, mengatakan anak lebih rentan karena perubahan iklim juga dapat mengganggu aktivitas luar ruangan, pendidikan, dan kegiatan rekreasi.

Masa remaja juga merupakan periode penting dalam perkembangan kesehatan mental sehingga paparan panas ekstrem dapat menjadi faktor tambahan yang perlu diperhatikan.

Suhu tinggi dapat memberikan tekanan fisik melalui dehidrasi serta perubahan keseimbangan cairan dan garam dalam tubuh. Kondisi panas juga dapat mengganggu tidur, terutama ketika suhu malam tetap tinggi.

Gangguan tidur dapat memengaruhi kesejahteraan dan kemampuan mengatur emosi. Gelombang panas juga dapat meningkatkan stres keluarga dan tekanan terhadap orang tua atau pengasuh.

Peneliti mencatat suhu tinggi juga telah dikaitkan dengan penurunan kemampuan belajar dan performa akademik pada anak.

Namun, penelitian tersebut belum dapat memastikan mekanisme biologis tertentu yang menyebabkan kenaikan suhu berkaitan dengan masalah kesehatan mental.

Hubungan antara suhu dan masalah kesehatan mental berbeda antarwilayah. Risiko tertinggi ditemukan di wilayah beriklim subtropis lembap dan wilayah dengan musim panas lembap, dengan peningkatan sekitar 2 persen untuk setiap kenaikan suhu 1 derajat Celsius.

Di negara berpendapatan tinggi, risikonya meningkat sekitar 1,4 persen untuk setiap kenaikan 1 derajat Celsius. Sementara itu, penelitian belum menemukan hubungan yang jelas di negara berpendapatan menengah.

Perbedaan tersebut tidak berarti anak-anak di negara berpendapatan menengah lebih aman dari dampak panas. Peneliti menilai perbedaan pencatatan kasus, akses layanan kesehatan mental, serta pemantauan kesehatan dapat memengaruhi hasil penelitian.

Studi yang ditinjau juga memiliki keterbatasan geografis. Tidak ada penelitian yang berasal dari Afrika atau kawasan Pasifik, sementara hanya publikasi berbahasa Inggris yang dimasukkan dalam analisis.

Para peneliti menilai perencanaan menghadapi cuaca panas sebaiknya tidak hanya berfokus pada dampak fisik, tetapi juga kesehatan mental anak dan remaja.

Beberapa langkah yang disarankan mencakup penyediaan ruang kelas yang lebih sejuk, ventilasi yang memadai, serta area luar ruangan yang terlindung dari panas.

Peneliti juga menekankan perlunya penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah perubahan lingkungan tersebut benar-benar dapat mengurangi dampak panas terhadap kesehatan mental anak.

Studi ini diterbitkan dalam International Journal of Epidemiology. Para peneliti menilai bukti yang tersedia masih berada pada tingkat sedang dan hubungan yang ditemukan belum membuktikan bahwa suhu tinggi secara langsung menyebabkan masalah kesehatan mental. (*)

Suber: Earth

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Kenaikan Suhu Gelombang Panas Masalah Kesehatan Mental Anak

Terkini | Minggu, 09/08/2026 20:48 WIB

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777