https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

PBB Minta Pengungsi dan Pencari Suaka Tak Dipolitisasi

Mutiul Alim | Rabu, 29/07/2026 14:08 WIB



Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyoroti fenomena para pengungsi yang melarikan diri dari persekusi, kerap menghadapi pembatasan hak perlindungan Pengungsi menyeberang di perbatasan Suriah-Lebanon (Foto: Reuters)

Jenewa, Jurnas.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyoroti fenomena para pengungsi yang melarikan diri dari persekusi, kerap menghadapi pembatasan hak perlindungan akibat perdebatan mengenai suaka yang semakin kental dengan nuansa politis.

Dalam acara peringatan ke-75 Konvensi Pengungsi, Kepala Pengungsi PBB Barham Salih mendesak komunitas global untuk beralih dari sekadar mengelola tingginya angka pengungsian menuju upaya nyata untuk menyelesaikan masalah tersebut.

"Kita berkumpul pada saat perdebatan yang semakin dipolitisasi tentang pengungsi dan suaka," kata Salih di Palais des Nations PBB di Jenewa sebagaiman dikutip dari Arab News pada Rabu (29/7).

Baca juga :
Niat Cari Suaka, Ratusan Orang Malah Tewas dan Hilang di Laut

"Terlalu sering, orang-orang yang terpaksa melarikan diri menjadi kambing hitam atas kecemasan sosial, ekonomi, dan politik yang lebih luas. Terlalu sering, pengungsi digambarkan sebagai beban atau ancaman alih-alih sebagai sesama manusia," dia menambahkan.

Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mencatat sekitar 117,8 juta jiwa di seluruh dunia terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka pada akhir 2025. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan rekor tertinggi pada 2024 yang mencapai 123,2 juta orang.

Baca juga :
PBB: 2025 Tahun Paling Mematikan bagi Pengungsi Rohingya di Laut

Dari total tersebut, sebanyak 35,6 juta orang berstatus sebagai pengungsi di bawah mandat UNHCR, di mana dua pertiganya berasal dari Venezuela, Ukraina, Suriah, Afghanistan, dan Sudan.

Penurunan tahun lalu merupakan yang pertama kali terjadi dalam satu dekade terakhir. Hal ini didorong oleh konflik di Iran dan Lebanon yang memaksa banyak pengungsi di sana untuk pulang ke negara asal mereka, seperti Suriah dan Afghanistan, meski harus menghadapi kondisi yang penuh risiko.

Baca juga :
Kamp Al-Hol di Suriah Jebol, Ribuan Keluarga ISIS Kabur

Salih menambahkan bahwa jika dunia bertindak lebih cepat untuk menghentikan perang saudara periode 2011-2024, jutaan warga mungkin tidak perlu melarikan diri ke negara-negara tetangga maupun Eropa.

Yusra Mardini, perenang asal Suriah yang nyaris tenggelam saat mengungsi sebelum akhirnya tampil di Olimpiade 2016 dan 2020, membagikan pengalamannya. Dia juga baru pertama kali kembali ke Suriah beberapa bulan lalu.

"Saya menyaksikan keluarga-keluarga menyeberang kembali ke negara mereka dengan air mata kebahagiaan, hanya untuk menemukan rumah, sekolah, jalan, dan rumah sakit hancur total," ujarnya.

Mardini merupakan satu dari 75 penandatangan pertama inisiatif `Janji` yang menegaskan kembali hak kaum teraniaya untuk mencari perlindungan di negara lain. Dia bersanding dengan sejumlah tokoh ternama seperti Angelina Jolie, Cate Blanchett, Ben Stiller, serta peraih Hadiah Nobel Perdamaian Malala Yousafzai dan Nadia Murad.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Hak Suaka Krisis Pengungsi UNHCR PBB Politisasi Pengungsi

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777