https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Mengenal Jenis-Jenis Baju Adat Betawi dan Sejarah di Baliknya

Muhammad Habib Saifullah | Kamis, 02/07/2026 17:01 WIB



Secara historis, stratifikasi sosial dan variasi acara membedakan jenis pakaian yang digunakan oleh masyarakat Betawi. Ilustrasi baju adat betawi (Foto: Seni Budaya Betawi)

Jakarta, Jurnas.com - Pakaian adat Betawi merupakan salah satu bukti autentik dari sejarah panjang akulturasi budaya di pesisir pulau Jawa.

Sebagai kota pelabuhan utama sejak era Sunda Kelapa hingga Batavia, Jakarta menjadi titik temu bagi berbagai etnis dan bangsa dunia.

Interaksi dengan kebudayaan Arab, Tionghoa, Melayu, serta Eropa Barat pada akhirnya membentuk identitas sandang unik yang tercermin dalam jenis-jenis baju adat Betawi saat ini.

Baca juga :
Lima Fakta Menarik Jakarta yang Perlu Diketahui

Secara historis, stratifikasi sosial dan variasi acara membedakan jenis pakaian yang digunakan oleh masyarakat Betawi.

Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ini jenis-jenis baju adat Betawi beserta latar belakang sejarahnya:

Baca juga :
Enam Rekomendasi Wisata Sejarah Populer di Jakarta

1. Baju Sadariah (Pakaian Sehari-hari Pria)

Baju Sadariah merupakan pakaian tradisional yang digunakan oleh pria Betawi untuk aktivitas harian, keagamaan, maupun acara kasual.

Baca juga :
Dari Sunda Kelapa ke Metropolitan, Menelusuri Sejarah Lahirnya Jakarta

Setelan ini terdiri dari baju koko putih atau polos berkerah Shanghai (kerah tertutup), celana kain bermotif batik parang atau loreng yang longgar, serta peci hitam berbahan beludru.

Pakaian ini dilengkapi dengan kain sarung pelekat yang dilipat dan diselempangkan di leher atau bahu.

Struktur Baju Sadariah dipengaruhi kuat oleh budaya perdagangan Timur Tengah (Arab) dan Tionghoa.

Kerah Shanghai pada baju merupakan adopsi dari pakaian saudagar Tionghoa, sementara penggunaan baju takwa/koko dan peci identik dengan penyebaran nilai Islam oleh pedagang Arab dan Gujarat. Kain sarung yang diselempangkan melambangkan kesiapsiagaan beribadah sekaligus bela diri.

2. Kebaya Encim / Kerancang (Pakaian Sehari-hari Wanita)

Kebaya Encim merupakan pakaian tradisional bagi wanita Betawi yang menampilkan potongan simetris pas badan dengan bagian bawah meruncing ke depan.

Ciri khas utama kebaya ini terletak pada teknik kerancang, yaitu sulaman bordir halus yang melubangi pinggiran kain hingga membentuk motif flora atau fauna. Kebaya ini dipadukan dengan sarung batik pesisiran bertekstur cerah.

Istilah "Encim" merujuk pada sebutan untuk wanita Tionghoa yang sudah menikah. Pada abad ke-19, kebaya ini lahir dari interaksi antara wanita peranakan Tionghoa dengan busana pribumi lokal.

Awalnya, kebaya menggunakan material kain impor Eropa seperti lace atau brokat yang dipadukan dengan teknik bordir lokal, menciptakan perpaduan estetika Tionghoa, Eropa, dan Melayu.

3. Baju Ujung Serong (Pakaian Resmi Bangsawan)

Baju Ujung Serong merupakan pakaian formal yang dikhususkan bagi kaum pria. Setelan ini terdiri dari jas tutup (jas kerah tegak) berwarna gelap yang dipadukan dengan celana pantalon sewarna.

Bagian pinggang dililit oleh kain batik yang diatur sedemikian rupa sehingga ujung kainnya menjuntai miring atau serong di atas lutut.

Kelengkapannya meliputi peci hitam, pisau raut (senjata hiasan) di pinggang, dan arloji saku berantai emas yang disematkan di kantung jas.

Secara historis, baju ini merupakan pakaian dinas resmi bagi para pamong praja, demang, atau bangsawan Betawi yang bekerja di birokrasi pemerintahan Hindia Belanda.

Desain jas dan celana pantalon mengadopsi gaya berpakaian formal pria Eropa Barat abad ke-19, namun disesuaikan dengan nilai lokal melalui penambahan peci dan kain batik nusantara.

4. Dandanan Care Haji (Pakaian Pengantin Pria)

Pakaian pengantin pria Betawi menampilkan kemewahan melalui setelan yang terdiri dari jubah panjang (jubah) berbahan beludru atau satin berhias benang emas, serta baju bagian dalam (gamis).

Bagian kepala ditutup dengan sorban atau peci khusus yang dililit kain tenun bersulam emas yang disebut Alfi, serta dilengkapi untaian melati yang menjuntai.

Pakaian ini mengadopsi secara langsung gaya berpakaian para bangsawan Arab dan jamaah haji kelas atas pada masa lampau. Kehadiran baju ini merepresentasikan tingginya penghormatan masyarakat Betawi terhadap nilai-nilai spiritualitas Islam dan kultur Timur Tengah.

5. Dandanan Care None Penganten Chine (Pakaian Pengantin Wanita)

Pakaian pengantin wanita Betawi dirancang sangat megah dengan paduan baju kurung beludru berlengan pendek (tuaki) yang dipenuhi sulaman benang emas bermotif burung hong, naga, atau bunga teratai.

Bagian bawahnya dilengkapi rok panjang (kun). Sisi paling mencolok berada di bagian kepala, di mana pengantin wanita mengenakan mahkota kuno (siangko) yang dilengkapi cadar tirai emas penutup wajah serta hiasan kembang goyang.

Sesuai dengan namanya, pakaian ini diadopsi dari pakaian adat pernikahan Dinasti Qing kuno di Tiongkok.

Keberadaan cadar emas (siangko) berfungsi simbolis untuk menjaga kesucian pengantin wanita sebelum resmi diserahkan kepada mempelai pria, sekaligus menegaskan pengaruh dominan budaya Tionghoa peranakan dalam tradisi pernikahan Betawi.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Sejarah Jakarta Baju Adat Betawi Kebudayaan Betawi

Terpopuler

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777