Militer Israel menggunakan zat diduga fosfor putih dalam serangan di Lebanon (Foto: AFP)
Beirut, Jurnas.com - Sedikitnya enam orang dilaporkan tewas akibat gelombang serangan udara terbaru yang diluncurkan militer Israel ke Kota Tayr Debba di Distrik Tyre, Lebanon selatan.
Badan Pertahanan Sipil Lebanon mengonfirmasi bahwa serangan mematikan ini terjadi di tengah gencarnya bombardir Israel ke sejumlah wilayah pemukiman warga.
Sebelumnya, Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam mengungkapkan bahwa Israel telah meluncurkan hampir 3.500 serangan udara dan ratusan aksi pembongkaran paksa di Lebanon sejak Amerika Serikat (AS) mengumumkan gencatan senjata untuk negara tersebut pada 16 April lalu.
Dalam pernyataan yang dirilis oleh kantornya di platform X pasca-rapat kabinet, Salam memaparkan bahwa sejak 17 April hingga 7 Juni, Israel telah melakukan 3.491 serangan udara, 407 pembongkaran bangunan, dan enam operasi "perataan tanah" yang menyapu bersih seluruh desa di wilayah paling selatan Lebanon.
Salam menegaskan bahwa Lebanon terus berupaya keras untuk mempertahankan kesepakatan gencatan senjata tersebut.
Namun, eskalasi terbaru yang terjadi antara Iran dan Israel justru memicu gelombang pengungsian baru, yang kian membebani kemampuan negara untuk menampung keluarga-keluarga yang melarikan diri.
"(Perdana Menteri) menyoroti bahaya dari eskalasi Iran-Israel beserta dampaknya, terutama terkait gelombang pengungsian tambahan yang ditimbulkan serta bagaimana cara menampung mereka. Mengingat saat ini kapasitas tampung di Beirut, Sidon, dan wilayah lainnya telah mencapai batas maksimal," tulis unggahan tersebut.
Sumber: Aljazeera
Rabu, 10/06/2026 19:25 WIB
Jum'at, 29/05/2026 14:53 WIB