https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Komisi VII Nilai Kenaikan BBM Tekan Manufaktur

Sundari | Selasa, 09/06/2026 08:56 WIB



Tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai mulai membebani sektor manufaktur nasional. Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini. (Foto: DOk. DPR.GO.ID)

Jakarta, Jurnas.com - Tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai mulai membebani sektor manufaktur nasional. Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini meminta pemerintah segera menyiapkan langkah mitigasi konkret agar industri, terutama skala kecil dan menengah, tidak menanggung dampak ekonomi secara sendiri di tengah meningkatnya biaya energi dan logistik.

Sorotan tersebut disampaikan Novita dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR RI bersama Menteri Perindustrian di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026). Menurutnya, gejolak harga energi yang terjadi sepanjang 2025 hingga 2026 telah menimbulkan tekanan serius terhadap keberlangsungan usaha manufaktur di berbagai daerah.

Politisi Fraksi PDI Perjuangan itu menyoroti meningkatnya biaya produksi industri, terganggunya distribusi logistik, hingga ketidakpastian usaha yang dinilai makin dirasakan pelaku industri kecil dan menengah. Karena itu, ia mempertanyakan sejauh mana kesiapan Kementerian Perindustrian dalam memetakan dampak ekonomi yang ditanggung sektor manufaktur akibat kenaikan biaya energi.

Baca juga :
Legislator PDIP Desak Kemenpar Ukur Daya Saing Pariwisata RI di ASEAN

“Pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap dampak berantai yang saat ini dirasakan industri manufaktur. Kenaikan biaya energi dan logistik secara langsung menekan biaya produksi, sementara pelaku usaha tidak selalu bisa menaikkan harga produknya. Akibatnya margin usaha terus tergerus,” tegas Novita sebagaimana keterangan tertulisnya, di Jakarta, Senin (8/6).

Dalam rapat tersebut, Novita juga mempertanyakan apakah Kementerian Perindustrian telah memiliki pemetaan yang komprehensif mengenai besaran kenaikan biaya produksi yang harus ditanggung sektor manufaktur akibat gejolak harga energi sepanjang 2025 hingga 2026.

Baca juga :
Komisi VII Bentuk Panja SNI, Dorong Pengawasan Produk Lebih Ketat

Ia menilai pemerintah perlu segera menyusun langkah mitigasi konkret guna menjaga keberlangsungan industri nasional. Menurutnya, opsi kebijakan seperti insentif fiskal, relaksasi pajak, subsidi energi industri, hingga dukungan logistik bagi kawasan industri terdampak perlu dipertimbangkan agar pelaku usaha tetap mampu bertahan.

Lebih lanjut, Novita mengingatkan bahwa persoalan logistik dan energi yang tidak segera diselesaikan berpotensi menurunkan daya saing industri nasional, termasuk kemampuan Indonesia memenuhi kontrak ekspor. Gangguan distribusi bahan baku maupun produk jadi, kata dia, dapat memengaruhi tingkat kepercayaan pasar internasional terhadap industri Indonesia.

Baca juga :
Legislator PKB Sebut Pendampingan Jadi Kunci UMKM Naik Kelas

“Jika biaya logistik terus meningkat dan distribusi terganggu, bukan hanya industri yang dirugikan. Kita juga berisiko kehilangan pasar ekspor, kehilangan investasi, dan pada akhirnya mengancam lapangan kerja nasional,” ungkapnya.

Menurut Novita, sektor manufaktur merupakan salah satu penopang penting pertumbuhan ekonomi nasional sehingga pemerintah perlu hadir dengan kebijakan yang memberikan kepastian bagi dunia usaha. Ia menegaskan industri tidak boleh dibiarkan menghadapi tekanan biaya produksi tanpa dukungan kebijakan yang terukur dan responsif.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Komisi VII DPR Novita Hardini Kenaikan BBM Tekan Manufaktur

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777