Pasukan Boko Haram (Foto: Doknet)
Abuja, Jurnas.com - Kelompok separatis Boko Haram akhirnya membebaskan lebih dari 400 warga yang diculik awal tahun ini, dari sebuah desa di negara bagian Borno, Nigeria timur laut.
Otoritas kepemudaan setempat mengonfirmasi bahwa ratusan korban yang terdiri dari perempuan dan anak-anak tersebut telah dilepaskan pada Sabtu (6/6) setelah sempat disandera di wilayah konflik.
Dikutip dari AFP pada Minggu (7/6), insiden penculikan massal demi uang tebusan kini telah menjadi taktik utama bagi kelompok Boko Haram dalam menjalankan aksi pemberontakan mereka yang telah berlangsung selama 17 tahun terhadap pemerintah Nigeria, dengan fokus sebaran pergerakan yang berpusat di wilayah timur laut negara tersebut.
Meskipun ratusan sandera telah berhasil dipulangkan dalam keadaan selamat, proses di balik kesepakatan pembebasan para korban ini masih belum dipaparkan secara mendetail oleh pihak-pihak terkait.
"Militer kami telah mengamankan pembebasan seluruh 416 wanita dan anak-anak yang diculik dari Ngoshe," ujar Presiden Borno South Youth Alliance (BOSYA), Samaila Kaigama.
Diketahui, Ngoshe merupakan wilayah bukit strategis yang terletak kurang dari 10 kilometer dari perbatasan Kamerun, yang selama ini menjadi basis pertahanan kuat Boko Haram.
Anggota Senat dari Borno, Mohammed Ali Ndume, turut membenarkan kabar pembebasan massal tersebut meski ia mengaku tidak mengetahui secara pasti skema atau prasyarat yang terjadi di lapangan.
Di sisi lain, pemerintah Nigeria secara konsisten membantah adanya pembayaran uang tebusan kepada kelompok milisi, walaupun sejumlah analis independen menilai bahwa transaksi finansial terselubung oleh otoritas maupun keluarga korban merupakan praktik yang lumrah terjadi.
Di sisi lain, krisis penculikan di Nigeria kian meluas dan melibatkan berbagai faksi bersenjata termasuk geng kriminal bandit dan kelompok separatis. Berdasarkan laporan data dari lembaga konsultan SBM Intelligence yang berbasis di Lagos, rentetan aksi penculikan di seantero negeri diperkirakan telah menghasilkan perputaran uang tebusan fantastis hingga mencapai 1,66 juta dolar AS sepanjang periode Juli 2024 hingga Juni 2025.
Sejak pemberontakan Boko Haram pertama kali pecah pada 2009 silam, eskalasi konflik bersenjata di wilayah ini telah merenggut puluhan ribu nyawa masyarakat sipil serta memaksa jutaan warga lainnya mengungsi dari kampung halaman mereka.
Jum'at, 29/05/2026 14:53 WIB