Wakil Ketua Umum Vox Point Indonesia, Indra Charismiadji (Foto: Muti/Jurnas.com)
Jakarta, Jurnas.com - Vox Point Indonesia menyoroti fenomena salah kaprah yang lazim dalam dunia pendidikan Indonesia, khususnya waktu yang tepat dalam memberikan anak pengajaran mengenai membaca, menulis, dan berhitung (calistung).
Praktisi pendidikan sekaligus Wakil Ketua Umum Vox Point Indonesia, Indra Charismiadji, mengatakan bahwa anak berusia di bawah tujuh tahun idealnya tidak langsung diajarkan calistung, melainkan dilatih untuk mendengarkan bacaan.
"Banyak orang tua mendidik anak dengan gaya outsourcing. Orang Indonesia itu bangga anaknya dua tahun bisa calistung. Mereka senang sekali melihat anaknya pintar," kata Indra dalam peluncuran Digital Storytelling `Kisah Santo bersama Ki Petrus` dan `Cerita Rakyat Nyi Dayat`, pada Jumat (5/6) di Jakarta.
Menurut berbagai riset akademis internasional, lanjut Indra, calistung pada usia pra-sekolah dasar berisiko merusak kemampuan literasi dan penalaran. Sehingga, banyak negara maju baru menerapkan calistung pada usia tujuh tahun atau fase sekolah dasar.
"Dikenalkan dengan huruf dan angka itu tujuh tahun. Sebelum tujuh tahun, justru banyak membacakan cerita. Bukan anak dipaksa membaca, tapi orang tua yang membacakan cerita untuk anak," dia menambahkan.
Berdasarkan riset inilah, Indra meluncurkan dua kanal storytelling digital di dua platform media sosial YouTube, Instagram, dan TikTok. Uniknya, seluruh kontennya ditampilkan dengan menggunakan video kecerdasan aritifisial (AI).
Inda menambahkan, kanal `Kisah Santo bersama Ki Petrus` lebih banyak menceritakan berbagai kisah inspiratif yang familiar di kalangan umat Kristiani mengenai sosok Santo Santa.
"Sedangkan untuk `Cerita Rakyat Nyi Dayat` berisi cerita-cerita Indonesia yang kaya makna, untuk memperkenalkan budaya, bahasa, dan kebijaksanaan lokal," ujar Indra.
Jum'at, 29/05/2026 14:53 WIB