https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Begini Rumus Menghitung Jarak Aman saat Berkendara

Mutiul Alim | Selasa, 02/06/2026 06:15 WIB



Kecelakaan beruntun atau tabrakan dari belakang menjadi salah satu jenis insiden yang paling sering terjadi di jalan raya, terutama di jalan tol Ilustrasi mobil kecelakaan di jalan tol (Foto: Jurnas/Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Kecelakaan beruntun atau tabrakan dari belakang menjadi salah satu jenis insiden yang paling sering terjadi di jalan raya, terutama di jalur cepat seperti jalan tol.

Sebagian besar dari peristiwa mengerikan ini dipicu oleh kelalaian fatal yang sama, yaitu kegagalan pengendara di belakang untuk menjaga jarak aman dengan kendaraan di depannya.

Ketika mobil di barisan depan melakukan pengereman mendadak karena adanya hambatan, kendaraan di belakangnya yang melaju terlalu rapat tidak lagi memiliki ruang dan waktu yang cukup untuk berhenti.

Baca juga :
Kecelakaan Beruntun di Cawang, Dua Orang Dilarikan ke Rumah Sakit

Akibatnya, benturan keras pun tidak terhindarkan dan sering kali memicu efek domino bagi kendaraan-kendaraan lain di belakangnya.

Untuk mencegah hal ini terjadi, dalam teori defensive driving, parameter jarak aman yang ideal di antara dua mobil tidak dihitung menggunakan satuan meter, melainkan dengan durasi waktu, yakni rumus tiga detik.

Baca juga :
Ahmad Sahroni: Pembakar Jerami di Dekat Jalan Tol Harus Ditangkap Polisi!

Pemilihan hitungan detik ini dinilai jauh lebih efektif karena waktu relatif lebih mudah disesuaikan dengan fluktuasi kecepatan mobil di jalan raya.

Selain itu, durasi tiga detik merupakan estimasi waktu paling realistis yang dibutuhkan oleh kendaraan untuk melakukan pengereman secara aman dan nyaman bagi penumpang di dalamnya.

Baca juga :
Truk Pertamina Seruduk Mobil dan Motor, Korban Bergeletakan di Jalan

Secara teknis, durasi tiga detik ini merupakan akumulasi dari tiga tahapan respons krusial saat mengemudi. Tahap pertama adalah waktu reaksi manusia, ketika otak membutuhkan sekitar 0,5 hingga 1 detik untuk memproses situasi darurat dan mengirim perintah ke otot kaki agar menginjak pedal rem.

Tahap kedua ialah reaksi mekanis kendaraan, yakni sistem pengereman memerlukan waktu sekitar 0,5 hingga 1 detik untuk mulai memperlambat putaran roda setelah pedal mendapat tekanan.

Tahap terakhir ialah proses pemberhentian objek. Mobil membutuhkan waktu sekitar 0,5 hingga 1 detik untuk benar-benar berhenti total setelah sistem rem bekerja. Durasi tiga detik menjadi waktu yang sangat ideal untuk mengakomodasi seluruh rangkaian proses pengereman tersebut.

Jika diaplikasikan dalam hitungan matematis, sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan 100 kilometer per jam (kpj) sebenarnya menempuh jarak sejauh 27,7 meter dalam setiap satu detiknya.

Melalui rumus tiga detik, pengemudi tinggal mengalikan jarak tempuh per detik tersebut dengan tiga, sehingga menghasilkan jarak aman minimum sekitar 83,1 meter dari kendaraan di depannya.

Bagi pengemudi yang merasa kesulitan melakukan konversi matematis saat sedang fokus berkendara, terdapat metode visual yang jauh lebih praktis untuk diterapkan.

Pengemudi hanya perlu memastikan bahwa pandangan mereka tidak terhalang untuk melihat roda belakang mobil di depannya, tepat pada titik di mana ban tersebut menyentuh permukaan tanah.

Kemampuan visual untuk melihat roda belakang kendaraan lain ini menjadi indikator kuat bahwa mobil masih memiliki ruang gerak yang cukup untuk bermanuver atau menghindar apabila terjadi situasi mendadak di area depan.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Jarak Aman Berkendara Rumus Tiga Detik Kecelakaan Beruntun

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777