https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Pengamat Intelijen: Ada Operasi Delegitimasi terhadap Prabowo di Medsos

Samrut Lellolsima | Kamis, 28/05/2026 11:53 WIB



Tujuan akhirnya bukan hanya membuat pemerintah dikritik, tapi menciptakan ketidakpercayaan publik secara luas. Itu yang disebut delegitimasi. Presiden RI Prabowo Subianto. (Foto: Ist)

 

Jakarta, Jurnas.com - Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai gelombang serangan terhadap Presiden Prabowo Subianto di media sosial dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan pola yang tidak biasa. Serangan di berbagai platform digital dinilai berlangsung secara sistematis, massif, dan terstruktur.

Baca juga :
Sapi Kurban Presiden Bentuk Bantuan Pemerintah bagi Masyarakat

Menurut Amir, pola serangan yang muncul di Facebook, X, YouTube, Instagram hingga Threads tidak dapat dipandang sekadar kritik spontan masyarakat. Ia menilai terdapat orkestrasi narasi yang sengaja dibangun untuk menggiring persepsi publik terhadap pemerintahan Prabowo.

“Kalau kita lihat polanya, ini bukan sekadar kritik spontan masyarakat. Ada orkestrasi narasi, ada pengulangan isu, ada penggiringan emosi publik, dan ada target utama yaitu menurunkan legitimasi Presiden Prabowo di mata rakyat,” kata Amir Hamzah kepada wartawan, Kamis (28/5).

Baca juga :
MUI Nilai Prabowo Beli Sapi Qurban Pakai Banpres Tidak Masalah

Ia menjelaskan, dalam perspektif intelijen modern, perang opini di ruang digital kini menjadi instrumen penting dalam pertarungan politik. Operasi semacam itu, kata dia, dikenal sebagai psychological operation atau psyops digital yang bertujuan membentuk persepsi publik secara masif.

“Tujuan akhirnya bukan hanya membuat pemerintah dikritik, tapi menciptakan ketidakpercayaan publik secara luas. Itu yang disebut delegitimasi,” ujarnya.

Baca juga :
Kala Soekarno Nyaris Tewas saat Salat Iduladha di Istana Negara

Amir menilai salah satu indikator operasi digital terstruktur adalah munculnya isu seragam secara simultan di banyak platform dalam waktu hampir bersamaan. Narasi tersebut kemudian diperkuat oleh akun anonim, influencer politik, meme, hingga potongan video pendek yang terus diproduksi.

Ia juga melihat pola serangan terhadap Prabowo memiliki kemiripan dengan operasi digital yang pernah terjadi di sejumlah negara ketika pemerintah mulai digoyang melalui perang opini sebelum tekanan politik yang lebih besar muncul.

“Sekarang perang itu hybrid war. Medan tempurnya bukan hanya militer, tetapi juga media sosial. Kalau opini publik berhasil dikendalikan, maka stabilitas politik bisa diguncang tanpa harus mengerahkan pasukan,” katanya.

Lebih lanjut, Amir menduga terdapat sumber daya besar di balik operasi digital tersebut. Menurutnya, aktivitas yang berlangsung secara terus-menerus lintas platform membutuhkan pembiayaan yang tidak kecil.

“Operasi seperti ini mahal. Butuh buzzer, tim produksi konten, distribusi isu, penguatan algoritma, sampai pengelolaan trending topic. Jadi kalau berlangsung massif dan konsisten, sulit disebut organik,” ujarnya.

Amir bahkan menduga terdapat keterlibatan kelompok elite tertentu yang memiliki pengalaman dalam operasi intelijen dan perang informasi. Ia menyebut ada indikasi peran mantan petinggi intelijen yang disebut kecewa terhadap pemerintahan saat ini.

Menurut dia, sosok tersebut pernah dicopot setelah dianggap gagal mengantisipasi kerusuhan besar yang terjadi pada Agustus 2025.

“Dalam dunia intelijen, kegagalan membaca eskalasi kerusuhan adalah persoalan serius. Apalagi jika sebelumnya diberi posisi strategis di kabinet. Maka ketika muncul kekecewaan politik, potensi konflik elite bisa bermigrasi ke perang opini,” katanya.

Meski demikian, Amir tidak menyebut secara rinci sosok yang dimaksud. Ia hanya menegaskan bahwa operasi digital semacam itu umumnya tidak berdiri sendiri dan kerap berkaitan dengan pertarungan kepentingan di lingkar elite kekuasaan.

Ia juga menyoroti bagaimana isu-isu tertentu terus dimainkan untuk membentuk persepsi negatif terhadap Presiden Prabowo. Menurutnya, kondisi itu dapat memicu kelelahan psikologis publik dan menggerus kepercayaan terhadap pemerintah.

“Kalau setiap hari publik disuguhi narasi negatif, lama-lama terbentuk kesan bahwa negara sedang gagal. Itu teknik klasik dalam operasi persepsi,” ujarnya.

Karena itu, Amir mengingatkan pemerintah agar tidak menganggap enteng perang opini di media sosial. Ia menilai destabilitas politik modern kerap dimulai dari perang narasi yang tampak sederhana namun perlahan mengikis legitimasi pemerintah.

“Intelijen modern harus mampu membaca traffic opini digital. Karena hari ini serangan terhadap negara bisa dimulai dari algoritma,” pungkasnya.

 

 

 

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Presiden RI Prabowo Subianto operasi digital media sosial perang narasi Amir Hamzah

Terkini | Minggu, 02/08/2026 21:50 WIB

News

Kebakaran KMP Mutiara Santosa 2: 4 Penumpang Tewas, 218 Lainnya Selamat

News

Komdigi Tegur YouTube Imbas Promosi Vape Libatkan Anak, Beri Tenggat 3 Hari

Info Bank BNI

BNI Dukung Akad Massal 62.710 KPR Rumah Subsidi

Gaya Hidup

Studi: Konsumsi Protein Berlebih Tanpa Olahraga Berpotensi Percepat Penuaan

Gaya Hidup

Korsel Catat Suhu Terpanas Sepanjang Sejarah, Tembus 42,5 Derajat Celsius

Gaya Hidup

Fenomena Langka 12 Agustus 2026, Ada Gerhana Matahari hingga Hujan Meteor

News

BGN: TEP 2026 Jadi Mitra Strategis Sukseskan Program MBG di Wilayah 3T

News

Kemenkop Dorong TEP 2026 Jadi Agen Perubahan Koperasi Kawasan Transmigrasi

News

Komdigi: Indonesia dan India Buka Babak Baru Kemitraan Digital

Humanika

Kumpulan Doa Memohon Jodoh Terbaik dalam Islam Lengkap dengan Artinya

News

Kemkomdigi Imbau Masyarakat Makin Cermat Periksa Konten di Ruang Digital

Gaya Hidup

Studi Ungkap Kurangi Hoaks di Medsos Tak Otomatis Ubah Keyakinan Pengguna

Gaya Hidup

Ini 6 Aktivitas Quality Time Ayah dan Anak yang Bikin Makin Dekat

Gaya Hidup

Makanan Dihinggapi Lalat, Apakah Masih Aman Dimakan?

Gaya Hidup

Begini Cara Membuat Email Profesional untuk Kerja dan Bisnis

News

Menteri LH Ajak Walhi Galakkan Tobat Ekologis Demi Keberlanjutan Ekonomi

News

69.500 Migran Tinggalkan Ceuta, Spanyol Perketat Perbatasan dengan Maroko

News

Lawan Konten Menyesatkan, Content Creator Dibekali Ilmu Jurnalistik

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777