https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Perempuan Single Berisiko Terkena Kanker Ovarium, Benarkah?

Vaza Diva | Jum'at, 08/05/2026 11:05 WIB



Kanker ovarium masih menjadi salah satu penyakit yang paling ditakuti perempuan karena sering terdeteksi pada stadium lanjut. Ilustrasi - Vagina, alat kelamin perempuan (Foto: Alomedika)

Jakarta, Jurnas.com - Kanker ovarium masih menjadi salah satu penyakit yang paling ditakuti perempuan karena sering terdeteksi pada stadium lanjut.

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan reproduksi, muncul anggapan bahwa perempuan yang masih single atau belum menikah lebih berisiko terkena kanker ovarium.

Secara medis, status `single` sebenarnya bukan penyebab langsung kanker ovarium.

Baca juga :
Perempuan Single Berisiko Terkena Kanker Ovarium

Namun, sejumlah penelitian dan lembaga kesehatan dunia menyebut perempuan yang belum pernah hamil memiliki risiko lebih tinggi dibanding perempuan yang pernah melahirkan. Faktor inilah yang kerap dikaitkan dengan perempuan lajang.

Menurut data yang dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention pada Jumat (8/5), perempuan yang belum pernah melahirkan atau mengalami kesulitan hamil termasuk dalam kelompok dengan risiko lebih tinggi terkena kanker ovarium.

Baca juga :
Perempuan, Hati-hati Gunakan Bedak di Bagian Ini

Risiko lainnya meliputi faktor usia, riwayat keluarga, obesitas, endometriosis, hingga mutasi genetik seperti BRCA1 dan BRCA2.

Sementara itu, Mayo Clinic menyebut belum pernah hamil dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker ovarium. Meski demikian, hal tersebut bukan berarti semua perempuan single pasti akan terkena penyakit tersebut.

Dokter menjelaskan risiko itu berkaitan dengan proses ovulasi yang terus berlangsung sepanjang hidup perempuan.

Semakin sering ovarium mengalami ovulasi, semakin besar peluang terjadinya perubahan sel abnormal.

Kehamilan dan menyusui diketahui dapat mengurangi frekuensi ovulasi sehingga dianggap membantu menurunkan risiko kanker ovarium.

Selain faktor reproduksi, gaya hidup juga ikut berpengaruh. Obesitas, penggunaan terapi hormon pascamenopause dalam jangka panjang, pola makan tidak sehat, hingga kurang aktivitas fisik menjadi faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker secara umum.

Gejala kanker ovarium sering kali samar dan menyerupai gangguan pencernaan biasa.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain perut kembung terus-menerus, cepat kenyang, nyeri panggul, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, serta sering buang air kecil.

Karena itu, tenaga medis mengimbau perempuan untuk rutin memeriksakan kesehatan reproduksi, terutama jika memiliki riwayat keluarga dengan kanker ovarium atau kanker payudara. Deteksi dini dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Perempuan Single Kanker ovarium penyakit perempuan Hari Kanker Ovarium Sedunia

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777