Kulit pisang (Foto: Daily Star)
Jakarta, Jurnas.com - Limbah dapur sederhana seperti kulit pisang kini terbukti memiliki potensi besar sebagai pupuk alami yang mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman. Sejumlah penelitian menunjukkan, penggunaan kulit pisang bahkan dapat mengungguli kondisi tanah tanpa perlakuan pupuk.
Temuan ini mengemuka dalam kajian terbaru yang dipimpin peneliti dari University of Mpumalanga, Nokuthula Khanyile. Penelitian tersebut mengompilasi hasil dari 126 studi yang menguji efektivitas pupuk berbahan kulit pisang pada berbagai jenis tanaman.
Hasilnya, tanaman yang diberi perlakuan berbasis kulit pisang cenderung tumbuh lebih tinggi, memiliki daun lebih banyak, serta berkecambah lebih cepat dibandingkan tanaman tanpa perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa limbah dapur tersebut memiliki manfaat signifikan bagi pertanian.
Kulit pisang diketahui kaya akan unsur hara penting seperti kalium, nitrogen, fosfor, kalsium, dan magnesium—komponen utama yang juga terdapat dalam pupuk kimia komersial. Namun, selama ini sebagian besar kulit pisang justru berakhir di tempat pembuangan sampah, menyumbang emisi gas rumah kaca.
Peneliti menyebut, pengolahan kulit pisang menjadi pupuk termasuk dalam kategori biofertilizer atau pupuk hayati. Metodenya relatif sederhana, mulai dari pengeringan dan penggilingan menjadi bubuk, hingga difermentasi atau diolah menjadi cairan pupuk yang dapat langsung diserap akar tanaman.
Dalam sejumlah uji coba, campuran kulit pisang dan kulit jeruk terbukti mampu meningkatkan luas daun dan panjang akar tanaman. Sementara itu, pupuk cair dari ekstrak kulit pisang juga menunjukkan hasil lebih optimal dibandingkan bentuk bubuk dalam beberapa kasus.
Salah satu eksperimen pada tanaman kacang polong menemukan bahwa kulit pisang yang terurai selama dua bulan memberikan hasil pertumbuhan terbaik. Namun, waktu penguraian yang terlalu lama justru menurunkan efektivitasnya.
Di sisi lain, penggunaan pupuk kimia sintetis berbasis nitrogen, fosfor, dan kalium masih mendominasi pertanian modern. Padahal, produksi dan penggunaannya berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan, termasuk eutrofikasi dan emisi gas rumah kaca.
Badan Environmental Protection Agency mencatat bahwa kelebihan nitrogen dari pupuk dapat memicu polusi udara dan menurunkan kualitas air minum. Karena itu, alternatif seperti pupuk dari limbah organik dinilai lebih ramah lingkungan.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa masih dibutuhkan uji lapangan jangka panjang untuk memastikan efektivitas pupuk kulit pisang hingga masa panen. Variasi kandungan nutrisi juga dipengaruhi oleh jenis pisang, iklim, dan metode pengolahan.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Agriculture ini membuka peluang baru bagi pertanian berkelanjutan. Jika dimanfaatkan secara luas, limbah kulit pisang berpotensi mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sekaligus menekan limbah rumah tangga. (*)
Sumber: Earth
Jum'at, 24/04/2026 17:05 WIB
Kamis, 23/04/2026 06:30 WIB
Jum'at, 24/04/2026 10:05 WIB