Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Foto: AP)
Washington, Jurnas.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa dirinya tidak ingin memperpanjang masa gencatan senjata dengan Iran.
Dalam sebuah wawancara bersama CNBC pada Selasa (21/4), Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat berada dalam posisi negosiasi yang kuat dan meyakini akan mengakhiri perundingan tersebut dengan kesepakatan besar.
"Saya tidak ingin melakukan itu (perpanjangan). Kita tidak punya banyak waktu," ujar Trump dikutip dari Arab News.
Meskipun pembicaraan damai tahap kedua dijadwalkan berlangsung di Pakistan, Trump memberikan sinyal keras bahwa AS siap melanjutkan operasi militer jika kesepakatan tidak segera tercapai.
"Saya memperkirakan akan ada pengeboman karena menurut saya itu adalah sikap yang lebih baik untuk dibawa masuk (ke perundingan). Namun, kami sudah siap. Maksud saya, militer sudah sangat tidak sabar untuk bergerak."
Di sisi lain, pemerintah Pakistan melalui Kementerian Luar Negerinya mendesak kedua belah pihak untuk mempertimbangkan perpanjangan gencatan senjata demi memberikan ruang bagi jalur diplomasi.
Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menekankan pentingnya dialog saat bertemu dengan Kuasa Usaha AS di Pakistan, Natalie A. Baker.
Ketegangan tetap tinggi seiring pernyataan Ketua Parlemen Iran, Mohammed Bagher Qalibaf, yang mengeklaim bahwa Teheran memiliki "kartu-kartu baru di medan perang" yang belum diungkapkan.
Meskipun retorika perang meningkat, pejabat regional melaporkan bahwa kedua negara tetap mengirimkan negosiator tingkat tinggi mereka ke Islamabad.
Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammed Bagher Qalibaf dijadwalkan tiba pada Rabu pagi waktu setempat. Perundingan ini dipandang sebagai upaya terakhir untuk mencegah pecahnya kembali perang terbuka sebelum masa gencatan senjata yang rapuh tersebut kedaluwarsa.
Selasa, 14/04/2026 21:18 WIB