Ilustrasi burung sedang berkomunikasi (Foto: Pixabay)
Jakarta, Jurnas.com - Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa berbagai jenis hewan, mulai dari serangga hingga mamalia, memiliki pola komunikasi yang serupa, yakni menggunakan ritme yang hampir sama. Temuan ini mengungkap adanya “irama universal” dalam cara makhluk hidup saling berkomunikasi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS Biology menunjukkan bahwa banyak hewan berkomunikasi dengan tempo sekitar 2 hertz, atau setara dengan dua sinyal per detik. Pola ini ditemukan pada beragam spesies, terlepas dari perbedaan bentuk komunikasi seperti suara, cahaya, maupun gerakan tubuh.
Dikutip dari Earth, salah satu penulis studi dari Northwestern University, Guy Amichay, menyebut bahwa fenomena ini cukup mengejutkan. Menurutnya, hewan sebenarnya mampu berkomunikasi pada ritme yang lebih cepat, namun sebagian besar tetap berada pada kisaran 2 hingga 3 hertz.
Penelitian ini bermula dari pengamatan kunang-kunang di Thailand. Saat itu, para peneliti melihat pola kedipan kunang-kunang tampak seirama dengan suara jangkrik di sekitarnya. Meski kemudian diketahui keduanya tidak benar-benar sinkron, keduanya ternyata berkomunikasi dengan tempo yang hampir sama.
Temuan tersebut mendorong peneliti untuk menganalisis lebih luas berbagai bentuk komunikasi hewan. Mereka mengkaji beragam studi sebelumnya yang mencakup sinyal cahaya kunang-kunang, suara jangkrik dan katak, tarian kawin burung, hingga komunikasi suara dan gerakan pada mamalia.
Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar sinyal komunikasi hewan berada dalam rentang 0,5 hingga 4 hertz, dengan titik konsentrasi di sekitar 2 hertz. Hal ini menarik karena batas tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan fisik hewan.
Peneliti kemudian mengaitkan temuan ini dengan cara kerja otak. Bersama fisikawan teoretis Vijay Balasubramanian dari University of Pennsylvania, mereka menemukan bahwa neuron dalam otak bekerja dalam rentang waktu yang serupa.
Neuron membutuhkan waktu untuk menerima, memproses, dan merespons sinyal. Karena itu, sistem saraf diduga paling optimal dalam memproses informasi yang datang dalam interval tertentu—sekitar beberapa ratus milidetik, atau setara dengan ritme 2 hertz.
Melalui simulasi komputer, peneliti menemukan bahwa rangkaian saraf sederhana memberikan respons paling kuat terhadap sinyal dalam tempo tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pola komunikasi hewan kemungkinan berkembang menyesuaikan dengan kemampuan otak dalam memproses informasi.
Peneliti dari Northwestern University lainnya, Daniel Abrams, menjelaskan bahwa ritme ini mungkin berfungsi sebagai “pembawa” sinyal, sementara informasi utama disampaikan di atasnya yang mirip seperti nada dalam musik yang mengikuti ketukan.
Menariknya, pola ini juga terlihat dalam kehidupan manusia. Banyak musik populer memiliki tempo sekitar 120 ketukan per menit, yang setara dengan 2 hertz. Ritme ini juga sesuai dengan gerakan alami tubuh manusia, seperti berjalan.
Meski belum membuktikan bahwa semua makhluk hidup memiliki sumber yang sama untuk ritme tersebut, penelitian ini membuka kemungkinan bahwa hewan, termasuk manusia, memiliki preferensi waktu yang serupa dalam berkomunikasi, yang berakar pada cara kerja sistem saraf.
Para peneliti berharap studi lanjutan dapat menguji lebih banyak spesies dan memperdalam pemahaman tentang bagaimana otak merespons berbagai ritme komunikasi. (*)
Selasa, 14/04/2026 21:18 WIB