https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Studi Ungkap Peran Lautan Bumi Selama Seabad Cegah Mega-Kekeringan Global

Agus Mughni | Minggu, 15/03/2026 22:59 WIB



Para peneliti menemukan bahwa pola suhu permukaan laut memainkan peran penting dalam memecah sinkronisasi kekeringan antar benua Bumi (Foto: Pexels/Pixabay)

Jakarta, Jurnas.com - Perubahan iklim selama beberapa dekade terakhir meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya kekeringan besar yang melanda berbagai wilayah dunia secara bersamaan.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sistem iklim Bumi memiliki mekanisme alami yang selama lebih dari satu abad membantu mencegah terjadinya “mega-kekeringan” global yang terjadi secara serempak.

Para peneliti menemukan bahwa pola suhu permukaan laut memainkan peran penting dalam memecah sinkronisasi kekeringan antar benua. Dengan kata lain, ketika satu wilayah mengalami kekeringan parah, wilayah lain sering kali justru berada dalam kondisi yang berbeda karena pengaruh dinamika laut dan atmosfer.

Baca juga :
Kebakaran Hutan Kini Aktif Sepanjang Malam, Studi Ungkap Penyebab-Dampaknya

Studi yang dilakukan tim ilmuwan dari Indian Institute of Technology Gandhinagar menganalisis data iklim global dari tahun 1901 hingga 2020. Hasilnya menunjukkan bahwa kekeringan yang terjadi secara bersamaan di berbagai wilayah dunia umumnya hanya mencakup sekitar 1,8 hingga 6,5 persen daratan global pada satu waktu.

Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan perkiraan sebelumnya yang menyebut hingga seperenam daratan dunia dapat mengalami kekeringan serentak. Temuan ini menunjukkan bahwa sistem iklim global tidak bergerak secara seragam, melainkan membentuk pola yang berubah-ubah seperti mosaik.

Baca juga :
Apa Itu Super El Nino? Ini Prediksi Terbaru dan Dampaknya ke Dunia

Penelitian tersebut memandang kekeringan sebagai peristiwa yang saling terhubung dalam sebuah jaringan global. Ketika dua wilayah jauh mengalami kekeringan dalam periode waktu yang hampir bersamaan, peristiwa tersebut dianggap sebagai bagian dari pola sinkronisasi iklim.

Melalui pemetaan ribuan hubungan semacam itu, para ilmuwan menemukan bahwa pola suhu laut mampu mengganggu atau memecah penyebaran kekeringan sebelum fenomena tersebut meluas secara seragam di berbagai benua.

Baca juga :
Ilmuwan Temukan Tanaman Terus Naik ke Puncak Himalaya, Ini Penyebabnya

Dari analisis tersebut juga muncul sejumlah wilayah yang disebut sebagai “pusat kekeringan global”. Kawasan seperti Australia, Amerika Selatan, Afrika bagian selatan, serta sebagian wilayah Amerika Utara tercatat sering menjadi titik awal yang berhubungan dengan kekeringan di wilayah lain.

Keberadaan pusat-pusat ini penting karena dapat menjadi indikator awal bagi potensi gangguan terhadap produksi pangan dunia. Jika kekeringan mulai muncul di kawasan tersebut, dampaknya dapat merambat ke sistem pertanian dan pasar global meskipun tidak berkembang menjadi krisis global secara serempak.

Penelitian juga menunjukkan bahwa bahkan kekeringan dengan tingkat sedang dapat memberikan dampak besar terhadap produksi pangan. Analisis terhadap hasil panen gandum, padi, jagung, dan kedelai memperlihatkan bahwa ketika kekeringan moderat terjadi, risiko gagal panen dapat meningkat hingga lebih dari 25 persen.

Di beberapa wilayah pertanian utama dunia, risiko tersebut bahkan dapat melonjak hingga 40 hingga 50 persen, terutama pada tanaman seperti jagung dan kedelai. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap ketahanan pangan global tidak selalu berasal dari bencana ekstrem, tetapi juga dari kekeringan yang tampaknya tidak terlalu parah.

Salah satu faktor utama yang memecah sinkronisasi kekeringan global adalah siklus suhu laut yang kompleks. Fenomena iklim seperti El Niño–Southern Oscillation atau ENSO memiliki pengaruh besar terhadap pola curah hujan di berbagai belahan dunia.

Pada fase El Niño, misalnya, Australia sering menjadi salah satu wilayah yang rentan terhadap kekeringan. Sebaliknya, ketika fase La Niña terjadi, pola kekeringan dapat bergeser ke wilayah lain.

Perubahan suhu laut tersebut menciptakan dampak yang berbeda-beda pada curah hujan di setiap kawasan. Akibatnya, kekeringan tidak menyebar secara merata di seluruh dunia, melainkan berpindah-pindah mengikuti dinamika laut dan atmosfer.

Penelitian ini juga menemukan bahwa sekitar dua pertiga perubahan jangka panjang dalam tingkat kekeringan global dipengaruhi oleh perubahan curah hujan. Sementara itu, sepertiga sisanya berkaitan dengan peningkatan suhu udara yang membuat proses penguapan air dari tanah dan tanaman menjadi lebih tinggi.

Artinya, meskipun curah hujan masih menjadi faktor utama, pemanasan global semakin memperkuat tekanan terhadap ekosistem daratan. Kondisi ini terutama terlihat di wilayah lintang menengah seperti Eropa dan sebagian Asia yang mulai mengalami peningkatan tekanan iklim.

Para peneliti menilai bahwa memahami pola kekeringan global sebagai sebuah jaringan dapat membantu meningkatkan sistem peringatan dini. Dengan memantau wilayah-wilayah pusat kekeringan, pemerintah dan pelaku pasar dapat mengantisipasi potensi gangguan pada produksi pangan sebelum dampaknya meluas ke pasar global.

Temuan ini juga menegaskan pentingnya kerja sama internasional dalam menjaga stabilitas pangan dunia. Karena kekeringan tidak terjadi secara bersamaan di semua wilayah, perdagangan global, penyimpanan pangan, serta kebijakan yang fleksibel dapat membantu menyeimbangkan pasokan ketika satu kawasan mengalami penurunan produksi.

Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa penelitian ini bukan berarti risiko kekeringan menjadi lebih kecil. Sebaliknya, perubahan iklim tetap meningkatkan tekanan terhadap sistem pertanian dan ekosistem, terutama karena suhu yang semakin tinggi membuat tanah dan tanaman kehilangan kelembapan lebih cepat.

Namun setidaknya, sistem laut Bumi sejauh ini masih berperan sebagai penyeimbang alami yang mencegah seluruh planet mengalami kekeringan ekstrem pada waktu yang sama. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara laut, curah hujan, dan suhu global, para pembuat kebijakan memiliki peluang lebih besar untuk merancang strategi menghadapi krisis iklim di masa depan. (*)

Sumber: Earth

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Peran Lautan Mega-Kekeringan Global Perubahan Iklim Suhu Permukaan Laut

Terkini | Minggu, 28/06/2026 01:24 WIB

News

Rudianto Lallo: Kenaikan Kepercayaan Publik Modal Polri Perkuat Reformasi

Humanika

Asal Usul Jakarta: Dari Sunda Kelapa, Jayakarta, hingga Jadi Ibu Kota

News

Rosan Ajak Perguruan Tinggi Implementasikan Riset ke Industri Hilirisasi

Gaya Hidup

Ini 9 Hal Paling Identik dengan Jakarta, Nomor 6 Sulit Dipisahkan

Gaya Hidup

Studi Ungkap Badai Matahari Bisa Ubah Cuaca Bumi dalam Hitungan Jam

Gaya Hidup

Jejak Purba di Indonesia Ungkap Kemungkinan Baru Asal-usul Homo Sapiens

News

Kemenhut Gagalkan Upaya Penyelundupan Satwa Liar ke Oman

News

Menteri PPPA Kecam Penyiksaan Balita, Desak Penegakan Hukum-Pemulihan Korba

News

Mentrans Sebut Transmigrasi Patriot Diikuti Pendaftar dari Kampus Dunia

News

Menteri ESDM Beberkan Strategi Ketahanan Energi di Hadapan Akademisi

News

Wamenaker: Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Seha

News

Menteri ESDM Jamin Cadangan BBM Aman, Harga Subsidi Tidak Naik

Warta MPR

Eddy Soeparno: Presiden Tegaskan Komitmen Transisi Energi dan Aksi Iklim

News

MUI Dorong Indonesia Jadi Jembatan Perdamaian Dunia di Era Multipolar

News

MUI Gelar FGD Pra-Kongres, Bahas Penguatan Umat dan Kedaulatan Bangsa

News

Tiga Negara Teken Kerangka Kerja Kesepakatan Akhiri Konflik Lebanon

Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Inggris vs Panama

News

Adopsi Konvensi ILO, Menaker Siapkan Regulasi Pekerja Platform Digital

Terpopuler

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777