https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Jejak Purba di Indonesia Ungkap Kemungkinan Baru Asal-usul Homo Sapiens

Agus Mughni | Sabtu, 27/06/2026 18:59 WIB



Penemuan terbaru menunjukkan manusia modern atau Homo sapiens kemungkinan telah hidup di hutan hujan sejak ratusan ribu tahun lalu Banyak kelompok masyarakat pemburu-peramu kontemporer tinggal di kawasan hutan hujan tropis (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Penemuan terbaru menunjukkan manusia modern atau Homo sapiens kemungkinan telah hidup di hutan hujan sejak ratusan ribu tahun lalu, jauh lebih awal dari yang selama ini diyakini ilmuwan.

Selama puluhan tahun, para ilmuwan meyakini bahwa manusia modern atau Homo sapiens pertama kali berevolusi di padang savana Afrika Timur sebelum akhirnya menyebar ke berbagai wilayah dunia. Namun, serangkaian temuan terbaru mulai mengguncang teori lama tersebut.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa nenek moyang manusia modern kemungkinan telah hidup dan beradaptasi di hutan hujan tropis sejak ratusan ribu tahun lalu. Jika terbukti, temuan ini dapat mengubah pemahaman ilmuwan tentang asal-usul dan evolusi manusia.

Baca juga :
Mengapa Hanya Manusia yang Memiliki Dagu? Fakta Evolusi Masih Diperdebatkan

Dikutip dari Live Science, salah satu petunjuk penting datang dari Pulau Sulawesi, Indonesia. Pada awal 2026, para peneliti mengumumkan penemuan seni cadas tertua di dunia yang berusia sekitar 70.000 tahun di kawasan tersebut.

Penemuan itu tidak hanya penting dari sisi arkeologi, tetapi juga menunjukkan bahwa manusia modern telah mampu bertahan dan berkembang di lingkungan hutan hujan tropis jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya.

Baca juga :
Studi: Kawin Silang Manusia dan Neanderthal Didominasi Pria Neanderthal

Arkeolog dan antropolog dari Max Planck Institute of Geoanthropology, Patrick Roberts, mengatakan kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan berbagai lingkungan, termasuk hutan hujan, bisa menjadi salah satu ciri paling khas dari spesies manusia modern.

"Memahami bagaimana, kapan, dan di mana manusia modern menghuni hutan hujan dapat memberi kita wawasan tentang apa yang membuat manusia menjadi spesies yang unik," kata Roberts.

Baca juga :
Kenapa Manusia Berani Memburu dan Memakan Gajah di Zaman Purba?

Dari Satu Asal Usul Menjadi Banyak Populasi

Pandangan tradisional selama ini menyebut manusia modern berasal dari satu populasi di savana Afrika Timur. Namun teori tersebut mulai berubah setelah ditemukannya fosil manusia modern tertua di Jebel Irhoud, Maroko, pada 2017.

Setahun kemudian, peneliti yang dipimpin arkeolog Eleanor Scerri menggabungkan bukti fosil, arkeologi, dan genetika. Hasilnya menunjukkan bahwa Homo sapiens kemungkinan muncul dari berbagai populasi yang tersebar di banyak wilayah Afrika.

Populasi-populasi tersebut hidup terpisah selama ribuan tahun, beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda, kemudian kembali bertemu dan saling bertukar gen.

"Jika asal manusia bukan hanya dari satu tempat, maka mungkin juga bukan dari satu ekosistem," ujar Scerri.

Temuan tersebut membuka kemungkinan bahwa sebagian populasi manusia awal berevolusi di kawasan hutan hujan tropis, bukan hanya di padang rumput terbuka.

Bukti Berusia 150.000 Tahun

Bukti paling mengejutkan muncul dari Pantai Gading. Pada 2025, para ilmuwan mengungkap bahwa alat-alat batu yang ditemukan di kawasan hutan hujan negara tersebut ternyata berusia sekitar 150.000 tahun.

Karena wilayah tersebut juga merupakan hutan hujan pada masa itu, penemuan ini menjadi bukti kuat bahwa manusia telah menghuni hutan tropis jauh lebih awal dibandingkan perkiraan sebelumnya.

"Ini menunjukkan bahwa manusia menghuni hutan hujan jauh lebih awal dari yang selama ini diperkirakan," kata arkeolog sekaligus geokronolog, Eslem Ben Arous.

Menurut Ben Arous, keberadaan alat-alat batu tersebut memperlihatkan bahwa manusia purba telah mengembangkan teknologi untuk bertahan hidup di lingkungan hutan yang lebat dan kompleks.

Hutan Hujan Jadi Tantangan Besar bagi Ilmuwan

Meski bukti semakin banyak ditemukan, meneliti evolusi manusia di hutan hujan bukanlah perkara mudah.

Tanah hutan tropis yang sangat asam membuat tulang dan material organik cepat hancur. Akibatnya, fosil manusia purba di wilayah tropis sangat jarang ditemukan.

Paleobiolog Antonio Rosas bahkan mengaku hampir menyerah mencari fosil manusia di hutan hujan Guinea Ekuatorial setelah bertahun-tahun melakukan penelitian.

"Sejujurnya, saya hampir menyerah untuk menemukan fosil dengan baik," ujarnya.

Karena minimnya fosil, para ilmuwan kini lebih banyak mengandalkan artefak batu, analisis isotop pada gigi manusia purba, hingga penelitian DNA purba dari lingkungan sekitar.

Kemampuan Beradaptasi Jadi Kunci Kesuksesan Manusia

Para ilmuwan menilai kemampuan beradaptasi terhadap berbagai lingkungan, termasuk hutan hujan tropis yang panas, lembap, dan penuh tantangan, menjadi salah satu alasan utama keberhasilan Homo sapiens bertahan dan menyebar ke seluruh dunia.

Kemampuan tersebut memungkinkan manusia modern menjelajahi Asia Tenggara, termasuk wilayah tropis seperti Indonesia, serta beradaptasi dengan berbagai kondisi ekstrem lainnya.

Roberts menegaskan bahwa kemampuan menyesuaikan diri dengan beragam ekosistem kemungkinan merupakan karakteristik paling unik yang dimiliki manusia modern.

"Kemampuan untuk beradaptasi dengan banyak lingkungan dan mengembangkan sifat khusus untuk bertahan hidup di sana adalah sesuatu yang benar-benar unik pada spesies kita," kata Roberts.

Kini, para peneliti meyakini bahwa hutan hujan bukan lagi wilayah pinggiran dalam sejarah evolusi manusia. Sebaliknya, kawasan tropis kemungkinan memainkan peran jauh lebih besar dalam membentuk perjalanan panjang Homo sapiens daripada yang pernah dibayangkan sebelumnya. (*)

Sumber: Live Science

 
Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Homo Sapiens Manusia Modern Evolusi Manusia Pulau Sulawesi Seni Cadas Tertua

Terkini | Sabtu, 27/06/2026 21:33 WIB

Humanika

Asal Usul Jakarta: Dari Sunda Kelapa, Jayakarta, hingga Jadi Ibu Kota

News

Rosan Ajak Perguruan Tinggi Implementasikan Riset ke Industri Hilirisasi

Gaya Hidup

Ini 9 Hal Paling Identik dengan Jakarta, Nomor 6 Sulit Dipisahkan

Gaya Hidup

Studi Ungkap Badai Matahari Bisa Ubah Cuaca Bumi dalam Hitungan Jam

Gaya Hidup

Jejak Purba di Indonesia Ungkap Kemungkinan Baru Asal-usul Homo Sapiens

News

Kemenhut Gagalkan Upaya Penyelundupan Satwa Liar ke Oman

News

Menteri PPPA Kecam Penyiksaan Balita, Desak Penegakan Hukum-Pemulihan Korba

News

Mentrans Sebut Transmigrasi Patriot Diikuti Pendaftar dari Kampus Dunia

News

Menteri ESDM Beberkan Strategi Ketahanan Energi di Hadapan Akademisi

News

Wamenaker: Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Seha

News

Menteri ESDM Jamin Cadangan BBM Aman, Harga Subsidi Tidak Naik

Warta MPR

Eddy Soeparno: Presiden Tegaskan Komitmen Transisi Energi dan Aksi Iklim

News

MUI Dorong Indonesia Jadi Jembatan Perdamaian Dunia di Era Multipolar

News

MUI Gelar FGD Pra-Kongres, Bahas Penguatan Umat dan Kedaulatan Bangsa

News

Tiga Negara Teken Kerangka Kerja Kesepakatan Akhiri Konflik Lebanon

Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Inggris vs Panama

News

Adopsi Konvensi ILO, Menaker Siapkan Regulasi Pekerja Platform Digital

Ototekno

Hamilton Bidik Gelar Juara Dunia Bersama Ferrari

Terpopuler

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777