https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Mengapa Zuhud Jadi Kunci Kuatnya Agama?

Vaza Diva | Sabtu, 27/06/2026 08:08 WIB



Salah satu nilai yang mendapat perhatian besar dalam tradisi Islam adalah zuhud, yakni sikap tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan. Ilustrasi - zuhud terhadap dunia menjadi salah satu kunci kuatnya kita beragama (Foto: AI)

Jakarta, Jurnas.com - Di tengah kehidupan modern yang sering diwarnai persaingan materi, status sosial, dan gaya hidup konsumtif, ajaran Islam kembali mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat.

Salah satu nilai yang mendapat perhatian besar dalam tradisi Islam adalah zuhud, yakni sikap tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan.

Pesan tersebut tercermin dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Sayyidina Ali Beliau berkata:

Baca juga :
Dua Indikator Utama Seorang Benar-Benar Paham Agama

إِنَّ مِنْ أَعْوَنِ الْأَخْلَاقِ عَلَى الدِّينِ الزُّهْدَ فِي الدُّنْيَا

"Sesungguhnya di antara akhlak yang paling menolong dalam menegakkan agama adalah zuhud terhadap dunia." (Al-Kafi, Jilid 2, hlm. 128)

Baca juga :
Jumat Berkah, Lebih Utama Berbagi di Masjid atau Jalan?

Hadis ini menunjukkan bahwa kekuatan seseorang dalam menjalankan agama tidak hanya ditentukan oleh banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga oleh kemampuan mengendalikan kecintaan yang berlebihan terhadap urusan duniawi.

Zuhud bukan berarti meninggalkan pekerjaan, harta, atau aktivitas sosial, melainkan menempatkan semuanya pada posisi yang semestinya.

Baca juga :
Ini Syarat Sahnya Sholat Jumat dan Jumlah Minimal Jamaah

Dalam pemahaman para ulama, zuhud adalah sikap hati yang tidak bergantung pada kenikmatan dunia. Seseorang boleh memiliki harta, jabatan, atau kedudukan, tetapi semua itu tidak menguasai dirinya dan tidak membuatnya lalai dari kewajiban kepada Allah SWT.

Di era yang serba cepat saat ini, nilai zuhud menjadi semakin relevan. Banyak orang mengukur keberhasilan semata-mata dari kekayaan, popularitas, atau pencapaian materi.

Akibatnya, tidak sedikit yang mengalami tekanan hidup, kecemasan, bahkan kehilangan arah ketika target duniawi yang diinginkan tidak tercapai.

Melalui hadis ini, Ali mengajarkan bahwa ketenangan dan kekuatan spiritual lahir dari kemampuan untuk tidak menjadikan dunia sebagai pusat kehidupan.

Ketika hati tidak terikat secara berlebihan pada urusan materi, seseorang akan lebih mudah bersikap jujur, adil, bersyukur, dan istiqamah dalam menjalankan ajaran agama.

Zuhud juga tidak identik dengan kemiskinan. Banyak tokoh dalam sejarah Islam yang memiliki kekayaan dan pengaruh besar, tetapi tetap hidup sederhana serta menggunakan apa yang dimiliki untuk kemaslahatan masyarakat.

Sikap inilah yang mencerminkan hakikat zuhud sebagaimana diajarkan dalam Islam.

Di tengah berbagai tantangan kehidupan modern, pesan Imam Ali menjadi pengingat bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari apa yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan menjaga hati agar tetap dekat dengan Allah SWT.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Info Keislaman Zuhud Dunia Ali bin Abi Thalib Agama Islam

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777