Foto bersama dengan latar Monas di Jakarta (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Jakarta hari ini dikenal sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, dan bisnis terbesar di Indonesia. Namun, di balik hiruk-pikuk gedung pencakar langit dan kemacetan yang mewarnai kesehariannya, kota ini menyimpan sejarah panjang yang membentang hampir lima abad.
Pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-499, tidak sedikit orang kembali bertanya: bagaimana sebenarnya asal muasal Jakarta? Dari mana nama Jakarta berasal, dan mengapa tanggal 22 Juni diperingati sebagai hari jadi ibu kota Jakarta? Berikut ini ulasannya dihimpun dari berbagai sumber.
Dikutip dari laman Jakarta, sejarah Jakarta bermula dari sebuah pelabuhan penting bernama Sunda Kelapa yang terletak di muara Sungai Ciliwung. Pada masanya, pelabuhan ini menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar di Nusantara.
Sunda Kelapa menjadi tempat bertemunya para pedagang dari berbagai belahan dunia, mulai dari Tiongkok, India, Timur Tengah, Jepang, hingga Eropa. Posisinya yang strategis menjadikan kawasan ini sebagai jalur utama perdagangan rempah-rempah di Asia.
Momentum penting dalam sejarah Jakarta terjadi pada 22 Juni 1527. Saat itu, pasukan gabungan Kesultanan Demak dan Cirebon yang dipimpin Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa.
Setelah kemenangan tersebut, nama Sunda Kelapa kemudian diubah menjadi Jayakarta. Dalam bahasa Sanskerta, Jayakarta berarti "kemenangan yang sempurna" atau "kota kemenangan".
Peristiwa inilah yang kemudian dijadikan sebagai tonggak kelahiran Jakarta dan diperingati setiap tanggal 22 Juni.
Perjalanan sejarah kota ini tidak berhenti di era Jayakarta. Pada 1619, Belanda melalui perusahaan dagang VOC merebut dan menghancurkan kota tersebut.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, nama Jayakarta diubah menjadi Batavia. Nama itu kemudian digunakan selama lebih dari tiga abad sebagai simbol kekuasaan kolonial Belanda di Nusantara.
Batavia berkembang menjadi pusat administrasi, perdagangan, dan pemerintahan Hindia Belanda hingga awal abad ke-20.
Nama Batavia bertahan hingga masa pendudukan Jepang pada 1942. Saat Jepang menguasai Indonesia, kota ini diberi nama Jakarta Tokubetsu Shi atau Kota Istimewa Jakarta.
Setelah Indonesia merdeka, nama Jakarta tetap dipertahankan dan akhirnya menjadi identitas resmi ibu kota negara hingga sekarang.
Menariknya, penetapan 22 Juni sebagai Hari Ulang Tahun Jakarta baru dilakukan pada era 1950-an. Saat menjabat sebagai Wali Kota Jakarta, Raden Soediro berinisiatif menetapkan hari lahir kota yang mencerminkan identitas nasional, bukan sejarah kolonial.
Bersama sejumlah tokoh dan sejarawan, dilakukan penelusuran sejarah secara akademik untuk menentukan momen paling tepat sebagai hari lahir Jakarta.
Hasil kajian tersebut menyepakati bahwa kemenangan Fatahillah atas Portugis pada 22 Juni 1527 merupakan peristiwa paling representatif untuk menandai lahirnya Jakarta.
Keputusan tersebut kemudian disahkan melalui sidang Dewan Perwakilan Kota Sementara pada 22 Juni 1956 dan mulai diperingati secara resmi sejak 1957.
Meski telah diterima luas, sebagian sejarawan masih memperdebatkan validitas historis tanggal 22 Juni 1527.
Sejarawan Adolf Heuken SJ, misalnya, pernah menyebut bahwa istilah "Jayakarta" belum ditemukan dalam dokumen VOC hingga puluhan tahun setelah peristiwa tersebut. Sementara sejumlah budayawan juga menilai tidak terdapat dokumen resmi yang benar-benar dapat dianggap sebagai "akta kelahiran" Jakarta.
Namun terlepas dari perdebatan akademis tersebut, tanggal 22 Juni tetap memiliki makna simbolis yang kuat bagi masyarakat Jakarta.
Bagi banyak orang, hari jadi Jakarta bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan simbol perjuangan, keberagaman, dan perjalanan panjang sebuah kota yang terus tumbuh menjadi salah satu megapolitan terbesar di dunia. (*)
Sabtu, 27/06/2026 21:11 WIB
Sabtu, 27/06/2026 20:35 WIB
Sabtu, 13/06/2026 06:46 WIB
Sabtu, 13/06/2026 06:26 WIB
Sabtu, 13/06/2026 05:40 WIB