https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Mengenal Sultan Mehmed, Penakluk Konstantinopel yang Mengakhiri Bizantium

Agus Mughni | Jum'at, 27/02/2026 22:29 WIB



Sultan Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II tercatat sebagai salah satu penguasa paling berpengaruh dalam sejarah dunia Sultan Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmed II (Foto: via Turkiye Today)

Jakarta, Jurnas.com - Sultan Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II tercatat sebagai salah satu penguasa paling berpengaruh dalam sejarah dunia. Penaklukannya atas Penaklukan Konstantinopel pada 29 Mei 1453 mengakhiri riwayat panjang Kekaisaran Bizantium dan mengukuhkan Utsmaniyah sebagai kekuatan besar baru di Eurasia.

Ia lahir pada 30 Maret 1432 di Edirne, ibu kota Utsmaniyah saat itu, sebagai putra Sultan Murad II dan Hüma Hatun. Sejak kecil ia dipersiapkan menjadi pemimpin melalui pendidikan agama, militer, bahasa, serta ilmu pengetahuan.

Karena itu, pada usia sekitar 11 tahun ia dikirim memerintah Amasya guna melatih kepemimpinan dan ketahanan politiknya. Ia bahkan sempat naik takhta pada usia 12 tahun sebelum kembali berkuasa penuh pada 1451 setelah wafatnya sang ayah.

Baca juga :
Ketika Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Ramadan, Vlad Vs Ottoman

Setelah kembali naik takhta di usia 19 tahun, Mehmed memusatkan perhatian pada ambisi lama para penguasa Muslim, yakni menaklukkan Konstantinopel. Kota itu memiliki posisi strategis di antara Laut Marmara dan Selat Bosporus serta dilindungi benteng Theodosian yang selama berabad-abad sulit ditembus.

DIkutip dari berbagai sumber, secara historis, Konstantinopel didirikan kembali oleh Konstantinus I pada abad ke-4 sebagai ibu kota baru Romawi. Karena itu, kota tersebut bukan hanya pusat militer dan ekonomi, tetapi juga simbol peradaban Kristen Timur yang dipertahankan mati-matian oleh Bizantium.

Baca juga :
Bagaimana Strategi Sultan Mehmed Taklukkan Konstantinopel dan Ubah Sejarah

Pengepungan dimulai pada 6 April 1453 dengan strategi terpadu darat dan laut yang disiapkan secara sistematis. Mehmed memanfaatkan artileri berat, termasuk meriam raksasa yang dikenal dalam sumber Barat sebagai “Great Turkish Bombard”, untuk menggempur tembok pertahanan kota.

Namun hambatan terbesar datang dari rantai raksasa yang membentang di Teluk Tanduk Emas guna menghalangi armada Utsmaniyah. Sebagai respons, Mehmed memerintahkan puluhan kapal ditarik melewati daratan berbukit dengan alas kayu berlapis lemak hingga akhirnya memasuki perairan di balik pertahanan Bizantium.

Baca juga :
12 Perang yang Membuat Islam Berpengaruh di Dunia, dari Arab hingga Eropa

Langkah taktis itu mengubah keseimbangan pengepungan dan memungkinkan serangan dari berbagai arah. Selain itu, tekanan pasukan elit Janisari mempercepat runtuhnya pertahanan yang telah berdiri lebih dari seribu tahun.

Pada 29 Mei 1453, pasukan Utsmaniyah menembus Konstantinopel, sementara Kaisar Bizantium terakhir, Konstantinus XI Palaiologos, gugur dalam pertempuran. Peristiwa ini secara luas dipandang sebagai penanda berakhirnya Abad Pertengahan dan awal pergeseran kekuatan politik global.

Selanjutnya, Mehmed menjadikan kota itu sebagai ibu kota baru yang kelak dikenal sebagai Istanbul. Ia mempertahankan komunitas Kristen Ortodoks melalui sistem administrasi yang memberi otonomi terbatas dalam urusan keagamaan dan sosial.

Di sisi lain, ia merevitalisasi kota dengan membangun pusat pemerintahan, pendidikan, dan perdagangan. Transformasi ini menjadikan Istanbul berkembang sebagai pusat peradaban lintas budaya yang menghubungkan Eropa dan Asia.

Selama masa pemerintahannya hingga 1481, wilayah Utsmaniyah meluas ke Balkan, Anatolia, dan kawasan Laut Hitam. Reformasi administrasi dan militer yang ia lakukan memperkokoh fondasi kekaisaran yang kelak bertahan hingga awal abad ke-20.

Mehmed II wafat pada 3 Mei 1481 dan dimakamkan di Istanbul, sementara takhta dilanjutkan oleh Bayezid II. Dengan demikian, ia tidak hanya dikenang sebagai penakluk Konstantinopel, melainkan sebagai arsitek perubahan geopolitik besar yang membentuk arah sejarah dunia selama berabad-abad. (*)

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Sultan Mehmed Penaklukan Konstantinopel Sultan Muhammad Al-Fatih

Terkini | Minggu, 02/08/2026 21:11 WIB

Info Bank BNI

BNI Dukung Akad Massal 62.710 KPR Rumah Subsidi

Gaya Hidup

Studi: Konsumsi Protein Berlebih Tanpa Olahraga Berpotensi Percepat Penuaan

Gaya Hidup

Korsel Catat Suhu Terpanas Sepanjang Sejarah, Tembus 42,5 Derajat Celsius

Gaya Hidup

Fenomena Langka 12 Agustus 2026, Ada Gerhana Matahari hingga Hujan Meteor

News

BGN: TEP 2026 Jadi Mitra Strategis Sukseskan Program MBG di Wilayah 3T

News

Kemenkop Dorong TEP 2026 Jadi Agen Perubahan Koperasi Kawasan Transmigrasi

News

Komdigi: Indonesia dan India Buka Babak Baru Kemitraan Digital

Humanika

Kumpulan Doa Memohon Jodoh Terbaik dalam Islam Lengkap dengan Artinya

News

Kemkomdigi Imbau Masyarakat Makin Cermat Periksa Konten di Ruang Digital

Gaya Hidup

Studi Ungkap Kurangi Hoaks di Medsos Tak Otomatis Ubah Keyakinan Pengguna

Gaya Hidup

Ini 6 Aktivitas Quality Time Ayah dan Anak yang Bikin Makin Dekat

Gaya Hidup

Makanan Dihinggapi Lalat, Apakah Masih Aman Dimakan?

Gaya Hidup

Begini Cara Membuat Email Profesional untuk Kerja dan Bisnis

News

Menteri LH Ajak Walhi Galakkan Tobat Ekologis Demi Keberlanjutan Ekonomi

News

69.500 Migran Tinggalkan Ceuta, Spanyol Perketat Perbatasan dengan Maroko

News

Lawan Konten Menyesatkan, Content Creator Dibekali Ilmu Jurnalistik

News

Pesawat Wisata Kecil Jatuh dan Terbakar, 13 Orang Tewas

News

Pameran Kampus Taiwan, Belasan Ribu Pelajar RI Berburu Beasiswa

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777