https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Masuk Kategori Gangguan Mental, Disosiasi Berbeda dari Melamun

Mutiul Alim | Kamis, 29/01/2026 16:19 WIB



Disosiasi yang mulai dikenal di media sosial kerap kali dimaknai dengan istilah melamun, perasaan kosong, tidak fokus, atau terlepas dari situasi tertentu Ilustrasi penderita disosiasi (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Disosiasi yang mulai dikenal di media sosial kerap kali dimaknai dengan istilah melamun, perasaan kosong, tidak fokus, atau terlepas dari situasi tertentu. Sayangnya, anggapan ini keliru.

Sebagian orang menganggap disosiasi hanyalah lamunan biasa atau sekadar kehilangan fokus sementara. Di sisi lain, ada pula yang mengira disosiasi adalah kondisi langka dan ekstrem, nyaris seperti fiksi film psikologis.

Menurut para ahli, kedua pandangan ekstrem ini sama-sama berbahaya karena dapat meremehkan pengalaman nyata orang yang hidup dengan disosiasi setiap hari, sebagaimana dikutip dari Earth pada Kamis (29/1).

Baca juga :
Jangan Disepelkan! Lima Kebiasaan Kecil Ini Bisa Mengubah Hidupmu

Dikutip dari buku Working with Dissociation in Clinical Practice, disosiasi merupakan fenomena serius, kompleks, dan sering berakar pada trauma, terutama trauma jangka panjang yang dialami sejak usia dini.

Salah satu alasan disosiasi sering disalahpahami adalah karena hampir semua orang pernah mengalami respons yang menyerupai disosiasi.

Baca juga :
Filsafat Jadi Solusi Gangguan Mental di Era Digital

Dalam situasi darurat, misalnya, seseorang bisa menjadi mati rasa secara emosional, bertindak otomatis, dan baru merasakan dampak emosionalnya setelah keadaan aman. Respons mematikan perasaan agar bisa bertahan ini tergolong normal dan sementara.

Pengalaman umum tersebut membuat banyak orang mengira bahwa disosiasi selalu ringan, singkat, dan tidak berbahaya. Namun, bagi individu yang mengalami trauma berulang atau trauma berat tanpa rasa aman dan keterikatan yang stabil, disosiasi dapat berkembang menjadi pola yang menetap dan mendalam.

Baca juga :
Bising Lalu Lintas Bisa Tingkatkan Risiko Gangguan Mental, Studi Ungkap Alasannya

Dalam konteks ini, disosiasi bukan lagi mekanisme koping sementara, melainkan cara jangka panjang pikiran dan tubuh melindungi diri. Ironisnya, mekanisme perlindungan ini justru bisa mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, hubungan sosial, dan fungsi emosional seseorang.

Disosiasi pada dasarnya adalah respons adaptif, sebuah strategi bertahan hidup bawaan ketika pengalaman terasa terlalu intens untuk diproses saat itu juga. Disosiasi bukan tren, bukan label gaya hidup, dan bukan akting. Ia bekerja sebagai refleks otomatis sistem saraf.

Ditekankan bahwa disosiasi sama umumnya dengan gangguan kesehatan mental serius lainnya, tetapi tetap menjadi salah satu pengalaman yang paling kurang dikenali dan paling disalahpahami dalam layanan kesehatan mental.

Dari sudut pandang evolusioner, disosiasi dipahami sebagai pertahanan terhadap ancaman yang luar biasa, dengan cara mengurangi kesadaran terhadap pengalaman traumatis yang tak tertahankan.

Disosiasi juga bukan satu pengalaman tunggal yang seragam, melainkan mencakup spektrum pengalaman yang sangat luas. Ada yang merasa terlepas dari tubuhnya sendiri, seolah-olah mengamati diri dari luar. Ada pula yang merasa dunia di sekitarnya tidak nyata, seperti berada dalam kabut atau mimpi.

Sebagian orang mengalami kebingungan identitas, perubahan perilaku mendadak, atau celah ingatan yang sulit dijelaskan. Bagi mereka yang mengalami trauma berat, terutama sejak masa kanak-kanak tanpa kelekatan yang aman, pola disosiasi yang kronis dan berat dapat berkembang dan mengakar seiring waktu.

Keragaman pengalaman inilah yang sering disederhanakan oleh budaya populer. Film dan serial cenderung menampilkan versi disosiasi yang paling dramatis, sehingga publik mengira disosiasi selalu tampak ekstrem. Akibatnya, orang dengan bentuk disosiasi yang lebih sunyi sering tidak dikenali atau dianggap tidak cukup parah untuk diperhatikan.

Para ahli juga menepis anggapan bahwa disosiasi adalah kondisi yang sangat langka. Sekitar 1,1 hingga 1,5 persen populasi umum kemungkinan mengalami gangguan identitas disosiatif, sementara sekitar 4,1 persen lainnya mengalami gangguan disosiatif secara lebih luas.

Penelitian ilmu saraf juga memperkuat pemahaman bahwa disosiasi bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. Studi pencitraan otak menunjukkan pola aktivasi otak yang berbeda pada individu dengan gangguan disosiatif.

Pada gangguan identitas disosiatif, kondisi otak bahkan dapat berubah secara bermakna tergantung pada keadaan disosiatif yang sedang aktif.

Masalah lainnya ialah keterbatasan penanganan. Tanpa pendekatan yang memahami disosiasi, terapi standar justru bisa terasa membingungkan atau destabilizing bagi pasien. Disosiasi yang tidak tertangani juga dikaitkan dengan masalah kesehatan fisik, regulasi emosi yang buruk, serta kesulitan fungsi sosial.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

arti disosiasi trauma psikologis mekanisme bertahan hidup gangguan disosiatif gangguan mental

Terkini | Minggu, 26/04/2026 13:09 WIB

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777