https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Diet Rendah Serat Bikin Usus Rentan Rusak Sejak Usia Muda

Mutiul Alim | Minggu, 18/01/2026 14:01 WIB



Selama ini, kanker usus sering dianggap sebagai penyakit orang lanjut usia. Namun, data medis menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Ilustrasi makanan tinggi serat (Foto: Hello Tempayy)

Jakarta, Jurnas.com - Selama ini, kanker usus sering dianggap sebagai penyakit orang lanjut usia. Namun, data medis menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Kasus kanker usus pada usia muda terus meningkat, dan salah satu pemicunya adalah pola makan rendah serat.

Generasi modern tumbuh dengan makanan cepat saji, roti putih, daging olahan, dan minuman manis. Makanan tersebut mengenyangkan, tetapi miskin serat alami yang sangat dibutuhkan sistem pencernaan.

Serat memiliki fungsi mekanis dan biologis. Secara mekanis, serat membantu mempercepat pergerakan sisa makanan. Secara biologis, serat menjadi bahan bakar utama bagi bakteri baik di usus.

Baca juga :
Awas! Konsumsi Daging Sapi Tingkatkan Risiko Kanker Usus

Tanpa serat yang cukup, proses pencernaan melambat. Limbah metabolik lebih lama menempel di dinding usus, meningkatkan kontak jaringan dengan senyawa toksik dan karsinogen.

Kontak berkepanjangan ini memicu iritasi mikro yang terjadi terus-menerus. Dalam jangka panjang, iritasi tersebut dapat menyebabkan perubahan struktur sel yang bersifat prakanker.

Baca juga :
Waspada! Sering Hirup Udara Berpolusi Picu Kerusakan Usus dan Jantung

Masalahnya, perubahan ini terjadi secara diam-diam. Banyak penderita kanker usus muda tidak pernah mengalami keluhan berarti sebelum diagnosis ditegakkan.

Mikrobiota usus juga ikut terdampak. Ketika serat minim, bakteri baik berkurang, sementara bakteri patogen lebih mudah berkembang. Lingkungan usus pun berubah menjadi lebih inflamatorik.

Baca juga :
Kesalahan Pola Makan saat Diare yang Sering Dianggap Sepele

Dikutip dari American Cancer Society, peradangan kronis di usus merupakan salah satu faktor utama pembentukan polip. Polip inilah yang sering menjadi tahap awal perkembangan kanker kolorektal.

Selain itu, serat membantu mengikat zat sisa empedu dan kolesterol berlebih. Tanpa serat, senyawa tersebut dapat berubah menjadi zat berbahaya bagi dinding usus.

Diet rendah serat juga berkaitan dengan obesitas dan resistensi insulin, dua kondisi yang semakin memperbesar risiko kanker usus melalui jalur metabolik.

Ironisnya, banyak anak muda merasa sudah makan cukup karena tidak merasa lapar. Padahal, rasa kenyang dari makanan olahan tidak mencerminkan kecukupan nutrisi.

Konsumsi sayur dan buah sering tergeser oleh makanan instan yang lebih praktis. Akibatnya, kebutuhan serat harian jarang tercapai.

Para ahli gizi menekankan bahwa perlindungan usus harus dimulai sejak usia produktif, bukan menunggu gejala muncul. Pola makan tinggi serat terbukti menurunkan risiko kanker usus secara signifikan dalam berbagai penelitian jangka panjang.

Menjaga usus berarti menjaga sistem imun, metabolisme, dan kualitas hidup secara keseluruhan. Pencegahan kanker usus bukan hanya tugas dunia medis, tetapi juga tanggung jawab setiap individu terhadap pola makannya sendiri.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

diet rendah serat kanker usus kesehatan usus pencegahan kanker

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777