https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Pakar: Korupsi Kepala Daerah Imbas Mahalnya Biaya Politik

Mutiul Alim | Senin, 08/12/2025 13:58 WIB



Guru Besar UGM, Prof. Gabriel Lele menilai motif utama tindak korupsi di kalangan kepala daerah karena mahalnya ongkos pencalonan. Ilustrasi serangan fajar dalam pemilihan kepala daerah (Foto: UGM)

Jakarta, Jurnas.com - Belum setahun menjabat, setidaknya sudah tiga kepala daerah yang ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selama rentang Agustus hingga November 2025.

KPK mencatat bahwa 51 persen dari kasus korupsi yang ditangani berasal dari pejabat daerah. Kasus ini menambah panjang daftar 167 kepala daerah terjerat korupsi sepanjang 2004-2024.

Menyikapi fenomena tersebut, Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Bidang Tata Kelola Kebijakan Publik, Prof. Gabriel Lele, menilai motif utama tindak pidana korupsi berakar dari mahalnya biaya politik ketika pencalonan.

Baca juga :
KPK Sebut Biaya Politik Mahal Jadi Akar Korupsi Kepala Daerah

Hal ini terjadi lantaran kurangnya kesejahteraan yang diberikan negara dalam mengembalikan dana yang telah mereka keluarkan selama pencalonan.

"Sebagian kepala daerah pembiayaannya bukan ditanggung partai tetapi mayoritas harus mencari sendiri," kata Prof. Gabriel dikutip dari laman UGM pada Senin (8/12).

Baca juga :
Cegah Korupsi, KPK Bersama Pemerintah Bahas Revitalisasi APIP

Menurut Gabriel, pemerintah sebenarnya telah melakukan beberapa upaya untuk menurunkan tindak korupsi. Pertama dengan mengubah sistem kepartaian dari partai massa menuju ke partai kader. Partai kader umumnya memiliki ideologi yang jelas serta anggota yang tetap.

Kedua, pembiayaan politik untuk persiapan kampanye ditanggung oleh negara, dengan risiko yang besar bahwa dana tersebut akan digunakan sebaik-baiknya.

Baca juga :
Mendagri Tjahjo Kumolo Temui Pimpinan KPK, Ada Apa?

Selain dari pemerintah, bagi Gabriel menekankan bahwa idealnya masyarakat yang memutuskan memilih seseorang atau sebuah partai karena pertimbangan programatik calon pemimpin, bukan karena hal lain atau politik uang.

"Kalau publiknya mau berani menolak serangan fajar misalnya, bantuan-bantuan tidak jelas dengan motif politik, saya kira partai politik juga akan memikirkan kembali hal tersebut," ujar dia.

Bagi Gabriel, untuk menekan korupsi para kepala daerah ini kuncinya pada kesadaran politik atau pendidikan politik masyarakat. Selama mayoritas masyarakat masih terhimpit dengan kemiskinan, tingkat pendidikan rendah, tidak akan ada perubahan.

Dengan meningkatkan kesadaran politik maka masyarakat semakin sadar bahwa suara mereka penting dan tidak bisa diperjualbelikan.

"Yang berhak mendapatkan suara mereka adalah calon pemimpin yang memiliki program yang jelas," dia menambahkan.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Korupsi Kepala Daerah Gabriel Lele Biaya Politik Ongkos Pencalonan

Terpopuler

Rabu, 08/07/2026 02:02 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Spanyol vs Belgia

Kamis, 09/07/2026 03:03 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Argentina vs Swiss

Rabu, 08/07/2026 13:30 WIB
Olahraga

MU Incar Tchouameni, Madrid Pasang Harga Rp2,1 Triliun

Olahraga

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777