Ilustrasi pasangan sedang marah (Foto: Icons8 Team/Unsplash)
Jakarta, Jurnas.com - Fenomena tantrum pada orang dewasa semakin banyak dibicarakan, terutama ketika mulai berdampak pada kualitas hubungan. Banyak orang mengira tantrum hanya terjadi pada anak-anak, padahal orang dewasa pun bisa meluapkan emosi secara berlebihan ketika merasa terpicu.
Perilaku ini sering kali muncul dalam bentuk kemarahan mendadak, ledakan emosi yang tidak sebanding dengan masalahnya, atau reaksi dramatis yang justru memperkeruh suasana.
Di tahap awal pendekatan, tanda-tanda ini sering kali tidak terlalu terlihat, karena pasangan masih berada dalam fase terbaiknya. Namun, beberapa sinyal halus sebenarnya sudah dapat dikenali jika Anda memperhatikan pola respons emosionalnya.
Mengenali perilaku ini sejak awal akan membantu Anda menghindari hubungan yang melelahkan dan menjaga kesehatan emosional Anda di masa depan.
Untuk memahami apakah seseorang cenderung suka tantrum, Anda bisa memperhatikan cara mereka merespons tekanan, kekecewaan, dan perubahan kecil dalam situasi sehari-hari.
Calon pasangan yang suka tantrum biasanya menunjukkan reaksi emosional berlebihan terhadap hal-hal kecil. Misalnya, langsung tersinggung ketika candaan Anda tidak sesuai ekspektasinya atau marah besar hanya karena jawaban pesan Anda sedikit terlambat. Intensitas emosinya sering kali jauh lebih besar daripada pemicu masalahnya.
Mereka mungkin meninggikan suara, bersikap impulsif, atau mengambil tindakan ekstrem seperti walk out saat emosi sedang memuncak. Ketidakstabilan ini bisa muncul bahkan ketika masalahnya masih dapat dibicarakan baik-baik.
Orang yang suka tantrum biasanya sulit mengambil tanggung jawab atas tindakannya. Mereka lebih memilih menyalahkan situasi, kondisi, atau bahkan Anda ketika terjadi konflik. Pola ini menunjukkan kurangnya kedewasaan emosional yang sangat penting dalam hubungan.
Beberapa orang memanfaatkan ledakan emosi atau drama untuk mendapatkan perhatian. Ketika mereka merasa kurang diperhatikan, reaksi emosionalnya meningkat drastis. Ini dilakukan sebagai cara untuk memastikan bahwa fokus sepenuhnya tertuju pada mereka.
Tantrum tidak selalu berupa teriakan, beberapa orang melakukannya dalam bentuk drama yang berlebihan, menjadikan diri sebagai korban, atau memberikan silent treatment berkepanjangan. Taktik ini sering digunakan untuk memancing rasa bersalah.
Saat terjadi perbedaan pendapat, mereka mungkin menolak mendengarkan penjelasan Anda. Keinginan untuk benar sendiri membuat percakapan menjadi satu arah dan tidak produktif. Bahkan ketika Anda mencoba bicara dengan tenang, respons mereka tetap defensif atau meledak-ledak.
Seseorang yang suka tantrum biasanya menunjukkan perubahan suasana hati secara drastis. Mereka bisa sangat manis satu saat dan tiba-tiba marah besar pada saat berikutnya tanpa alasan jelas. Ketidakstabilan ini membuat Anda sulit memprediksi reaksi mereka.
Jum'at, 01/05/2026 05:30 WIB
Jum'at, 01/05/2026 01:10 WIB
Kamis, 30/04/2026 23:53 WIB
Sabtu, 25/04/2026 04:04 WIB
Kamis, 23/04/2026 06:30 WIB