https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Begini Perbedaan Tambak BUBK dengan Tradisional

Redaksi | Kamis, 09/03/2023 21:50 WIB



Begini Perbedaan Tambak BUBK dengan Tradisional Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono. (Foto dokumentasi Humas KKP)

Jakarta, Jurnas.com - Tambak budidaya udang berbasis kawasan (BUBK) di Kebumen memiliki beberapa perbedaan dibandingkan dengan tambak udang tradisional. Hal ini, dikatakan Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono, di Kawasan tambak BUBK Kebumen, Kamis (9/3).

"Pertama penataan kolam budidayanya, itu tertata dengan baik dengan sistem dan alur yang benar. jadi airnya dimulai dari masuk, kemudian masuk ke ruang tandon, ruang penampungan awal, kemudian dialirkan ke kolam budidaya," ujar Trenggono dalam keterangannya diterima di Jakarta, Kamis (9/3).

Kemudian, lanjut Menteri Trenggono, bibit udang vaname yang akan ditebar juga dipastikan melewati pengecekan untuk memastikan benih sehat dan terbebas dari virus atau penyakit.

"Kalau itu diyakini sudah bersih masuknya ke kolam tandon tadi sebelum masuk ke kolam budidaya yang kotak-kotak ini, itu di tes lagi, begitu diyakini airnya sudah clear tidak ada bibit penyakit, yang kedua benur yang mau ditebar juga pula harus dipastikan benurnya tidak mengandung penyakit, di-PCR juga," paparnya.

Kemudian air limbah budidaya ini, lanjut dia, harus mengalir ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sehingga sebelum masuk ke laut dipastikan airnya bersih. Selanjutnya, kotoran dari air limbah ini, bakal ditampung untuk diproses menjadi pupuk dan beragam produk lain.

Sementara tambak udang tradisional, menurut Trenggono, tidak memikirkan pengecekan terhadap air, kesehatan bibit, serta pakan, padahal udang sangat rawan penyakit atau virus.

"Kalau tradisional cenderung abai. Tidak ada checking pakan bahkan cenderung di kasih kadang tidak, yang menyebabkan akhirnya produksi udangnya menjadi kuntet, itulah yang menyebabkan kemudian terjadi kanibalisasi sehingga menyebabkan produktifitinya 0,6 ton per hektare," tukasnya.

Untuk diketahui, tambak seluas 60 hektare ini memiliki produktivitas 40 ton per hektare per tahun dan masih akan ditingkatkan hingga mencapai 80 ton per hektare per tahun dengan menambah padat tebar benih. Ini merupakan salah satu strategi KKP untuk meningkatkan produktivitas udang nasional yang ditargetkan pada tahun 2024 mencapai dua juta ton.

 

Baca juga :
Bolehkah Makan Daging Kurban Sendiri? Segini Takarannya

 

Baca juga :
KBIHU Dilarang Kavling Tenda Armuzna, Izin Dicabut jika Bandel
Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

KKP Sakti Wahyu Trenggono tambak BUBK tradisional

Terpopuler

Humanika

Minggu, 05/07/2026 23:59 WIB

Apakah Sholat Safar Harus di Masjid?

Minggu, 05/07/2026 23:30 WIB

Lima Doa Setelah Melaksanakan Sholat Safar

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777