Jakarta, Jurnas.com- Kehadiran sosok misterius bernama Mohini sukses mencuri perhatian dalam malam puncak Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2026. Tampil sebagai tamu VIP di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Rabu (4/11/2026), Penyanyi Mohini memperkenalkan karakter unik dengan mengenakan Topeng Pecah Rupa berlapis emas dan gaun hitam berhias sayap kupu-kupu.
Kemunculan perdana tersebut sekaligus menjadi awal perjalanan proyek musik baru yang siap meramaikan industri musik Indonesia. Berbeda dari kebanyakan penyanyi, Mohini memilih menyembunyikan identitas dan wajahnya di balik topeng. Ia ingin menjadikan karya musik sebagai cara utama untuk memperkenalkan dirinya kepada publik.
Nama Mohini diambil dari bahasa Sanskerta yang memiliki arti sosok perempuan memikat dan penuh misteri. Namun, di balik penampilan artistiknya, terdapat pesan mendalam mengenai kejujuran, ketulusan, serta keberanian menerima ketidaksempurnaan.
“Saya tidak datang untuk menang apa pun. Saya datang memperkenalkan wajah yang retak, dan mengatakan bahwa retak itu tidak apa-apa,” ujar Mohini dalam pernyataan perdananya.
Manajer Mohini, Andy Permana, menjelaskan bahwa kehadiran sang musisi di AMI Awards 2026 merupakan langkah awal untuk memperkenalkan karakter dan konsep yang akan menjadi identitasnya di industri musik.
Menurut Andy, Mohini dijadwalkan meluncurkan single perdana pada Januari 2027. Saat ini, proses rekaman masih berlangsung dengan mengusung genre pop yang disesuaikan dengan karakter vokalnya.
“Mohini datang ke AMI Awards karena memang seorang musisi. Dia akan merilis single pada Januari 2027. Jadi, ini simbol seorang wanita yang jujur, tulus, tetapi tidak sempurna. Nanti dia akan mengeluarkan atau bersuara dalam bentuk musik,” kata Andy.
Konsep yang diusung Mohini tidak hanya mengandalkan penampilan misterius. Topeng Pecah Rupa menjadi simbol utama yang menggambarkan energi dan ekspresi dari dalam diri yang akhirnya menemukan jalan keluar melalui musik.
“Konsepnya memang Topeng Pecah Rupa. Dari pecahan ini adalah energinya dia yang akan keluar, dan keluarnya itu dalam bentuk musik, karya-karyanya. Jujur, tulus, walaupun tidak sempurna,” ungkap Andy.
Salah satu hal yang membuat MOHINI menarik perhatian adalah keputusannya untuk terus menggunakan topeng, baik ketika tampil di hadapan publik maupun dalam aktivitas di luar panggung.
Andy menegaskan bahwa penggunaan topeng merupakan pilihan pribadi Mohini, bukan arahan dari pihak manajemen.
Menurutnya, konsep tersebut ingin menyampaikan bahwa seorang perempuan tetap bisa berkarya dan menunjukkan kemampuannya tanpa harus selalu menonjolkan identitas pribadi.
Topeng bukan dimaksudkan untuk menutup diri, melainkan menjadi ruang untuk menjaga privasi sekaligus memberikan kebebasan dalam berekspresi.
“Memang menyembunyikan, tetapi bukan berarti menutup diri. Bahkan membuktikan kalau kita ingin berkarya, tidak perlu menonjolkan diri,” jelas Andy.
Mohini sendiri menggunakan retakan pada topeng berlapis emas sebagai gambaran kekuatan yang muncul dari dalam diri. Filosofi tersebut menjadi bagian dari pesan bahwa ketidaksempurnaan bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Selain Topeng Pecah Rupa, elemen kupu-kupu pada gaun hitam yang dikenakan Mohini juga memiliki makna tersendiri.
Sayap kupu-kupu menggambarkan proses metamorfosis, perjuangan, serta kebebasan perempuan untuk menemukan kekuatan dari dalam dirinya.
Retakan pada topeng diibaratkan seperti kepompong yang terbuka akibat dorongan dari dalam. Filosofi ini menggambarkan perjalanan perempuan dalam menghadapi tekanan, menerima kerapuhan, hingga akhirnya berani menunjukkan potensi dan kemampuan yang dimiliki.
“Kupu-kupu tidak pernah malu pada kepompong yang ia tinggalkan. Saya juga tidak,” kata Mohini.





