Jakarta, Jurnas.com - Tanggal 30 Oktober 2026 kembali diperingati oleh komunitas internasional dan pecinta lingkungan sebagai Hari Lemur Sedunia (World Lemur Day).
Peringatan yang dirayakan setiap Jumat terakhir di bulan Oktober ini memiliki rekam jejak sejarah yang kuat sebagai gerakan global untuk menyelamatkan mamalia langka endemik asal Pulau Madagaskar dari ancaman kepunahan.
Sejarah
Sejarah lahirnya Hari Lemur Sedunia bermula pada tahun 2014 di Antananarivo, ibu kota Madagaskar. Peringatan ini pertama kali diinisiasi oleh seorang ilmuwan dan pakar primatologi terkemuka asal Madagaskar, Profesor Jonah Ratsimbazafy, bersama organisasi penelitian Groupe d'Étude et de Recherche sur les Primates de Madagascar (GERP).
Awalnya, gerakan ini dibentuk sebagai festival lokal dengan tujuan membangkitkan rasa bangga masyarakat Madagaskar terhadap kekayaan biodiversitas mereka yang unik.
Gagasan dasarnya adalah menyatukan edukasi lingkungan, konservasi satwa, serta promosi pariwisata berkelanjutan guna mengubah sudut pandang masyarakat lokal agar lebih aktif melindungi lemur dan habitat aslinya.
Tujuan
Inisiatif tersebut mendapat sambutan hangat dari berbagai belahan dunia. Pada tahun 2015, jaringan kampanye ini meluas ke skala internasional melalui peran Lemur Conservation Network.
Sejak saat itu, berbagai kebun binatang, lembaga konservasi, universitas, hingga organisasi lingkungan global secara rutin menggelar peringatan tahunan ini setiap akhir bulan Oktober.
Lahirnya Hari Lemur Sedunia didorong oleh kondisi populasi lemur yang kian mengkhawatirkan. Berdasarkan data persatuan konservasi alam internasional (IUCN), lemur dikategorikan sebagai salah satu kelompok mamalia paling terancam di dunia.
Dari sekitar 100 spesies lemur yang ada, mayoritas besar di antaranya menghadapi risiko kepunahan akibat maraknya deforestasi, pembukaan lahan pertanian dengan cara dibakar, penebangan hutan liar, serta perburuan ilegal.
Padahal dalam ekosistem alam, lemur memegang peranan krusial sebagai agen penyebar benih alami. Perilaku memakan buah-buahan dan menjelajahi wilayah hutan membuat primata ini membantu meregenerasi vegetasi hutan hujan tropis di Madagaskar.
Aksi Konsevarsi
Hilangnya populasi lemur dipastikan akan merusak keseimbangan rantai makanan serta kelestarian flora endemik lainnya.
Melalui momentum Peringatan Hari Lemur Sedunia pada 30 Oktober 2026 ini, berbagai lembaga konservasi dunia terus menggalang kepedulian publik.
Rangkaian acara diisi dengan kampanye edukasi kesadaran keanekaragaman hayati, penggalangan dana penyelamatan habitat, hingga dukungan nyata bagi komunitas lokal Madagaskar dalam menjaga kelangsungan hidup primata unik ini.





