Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Badri Munir Sukoco dalam Peluncuran Panduan dan Laporan Program Net Zero Campus di Gedung Kemdiktisaintek (Foto: Habib/Jurnas.com)
Jakarta, Jurnas.com - Potensi ribuan perguruan tinggi dan 11 juta civitas akademika di Indonesia dinilai menjadi kekuatan besar untuk mengakselerasi pencapaian target Net Zero Emission nasional pada 2060.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), Filda Citra Yusgiantoro dalam Peluncuran Panduan dan Laporan Program Net Zero Campus di Gedung Kemdiktisaintek, Jakarta, pada Selasa (20/10).
"Perguruan tinggi ini sebagai penghasil solusi iklim melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat," kata Filda.
Filda mengatakan bahwa kampus memiliki peluang besar melakukan dekarbonisasi operasional secara langsung, yang mencakup efisiensi sektor energi, pengelolaan bangunan, hingga tata kelola mobilitas.
"Di sisi lain juga perguruan tinggi ini juga berpeluang besar untuk berkontribusi secara langsung melalui dekarbonisasi kampusnya sendiri mulai dari energi, bangunan, hingga mobilitas," ujarnya.
Filda menuturkan bahwa meskipun laporan dan panduan Indonesia Net Zero Campus ini berawal dari diadaptasi dari panduan Sustainable Development Solutions Network (SDSN) dan Monash University, ia mengatakan bahwa instrumen ini tidak dirancang untuk menggantikan indikator yang sudah berjalan.
"Tentunya ini bukan untuk menggantikan apa yang sudah ada. Kami berharap program Net Zero Campus ini sebagai komplementer, sebagai panduan untuk memperkaya," ujar Filda.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Badri Munir Sukoco, mengapresiasi inisiatif kolaboratif peluncuran panduan Indonesia Net Zero Campus tersebut sebagai langkah konkret mendukung komitmen transisi energi nasional.
Meski demikian, Badri mendorong agar instrumen dekarbonisasi kampus tersebut dapat diselaraskan ke dalam sistem pelaporan yang sudah berjalan di perguruan tinggi.
Ia menjelaskan bahwa kementerian telah menerbitkan panduan mengenai Kampus Berdampak yang mencakup tiga dimensi evaluasi, yakni dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Saat ini, sebanyak 125 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 115 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) unggul telah rutin melaporkan capaian dari ketiga dimensi tersebut.
"Tentu saya berharap nanti apa yang sudah digagas di forum ini bisa diintegrasikan kepada laporan yang selama ini sudah dilakukan oleh kampus," ujar Badri.
Dengan begitu, lanjut Badri, nantinya sistem pelaporan dibentuk dalam skema terpadu yang mampu mencakup berbagai kriteria pemeringkatan global maupun nasional sekaligus.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Net Zero Emission Purnomo Yusgiantoro Center Kemdiktisaintek RI























