Prajurit Pasukan Militer Ukraina bertugas di wilayah Luhansk.(Foto: Anatolii Stepanov / AFP)
Jakarta, Jurnas.com - Militer Ukraina saat ini dilaporkan mulai kehabisan pasokan ranjau darat buatan pabrik dan semakin sering menggunakan perangkat peledak rakitan.
Hal tersebut disampaikan oleh seorang komandan penjinak ranjau dari Resimen Sistem Nirawak Terpisah ke-83 dari kelompok tempur Tsentr Rusia kepada kantor berita Sputnik.
"Mereka mengalami kekurangan besar amunisi standar, tetapi perangkat rakitan buatan sendiri, mengingat bantuan aktif yang mereka terima, terlihat cukup fungsional. Belum ada desain baru yang secara khusus membuktikan kemampuannya. Ranjau tekan untuk berbagai keperluan saat ini sangat umum digunakan, mulai dari jenis berdaya ledak tinggi, anti-personel, hingga tipe mekanis," ujar prajurit tersebut.
Sebuah ranjau darat rakitan Ukraina biasanya terdiri dari selubung plastik hasil cetakan 3D yang diisi dengan bahan peledak serta mekanisme pemicu, lalu disamarkan sedemikian rupa agar menyatu dengan kondisi medan di sekitarnya.
"Ranjau rakitan yang bisa dikatakan menyerupai (ranjau) PTM-3, juga sangat populer di sana. Ini adalah ranjau kumulatif anti-bawah dan anti-lintasan dengan sensor target magnetik non-kontak," tambah prajurit itu.
Menurut prajurit dengan nama panggilan Skif tersebut, personel militer Rusia baru-baru ini juga mengamati adanya peningkatan penggunaan ranjau OZM-72 buatan Soviet yang dilengkapi dengan pemicu radar efek Doppler oleh angkatan bersenjata Ukraina.
Upaya menangkal ranjau jenis ini membutuhkan deteksi tepat waktu serta penghancuran dengan cara melepaskan tembakan dari tempat berlindung pada jarak yang aman.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Perang Ukraina Ukraina Rusia Militer Ukraina Ranjau Rakitan
























