Selasa, 08/09/2026 13:30 WIB

Sejarah Erupsi Anak Krakatau dari Dasar Laut hingga Erupsi 2026





Foto : Gunung Anak Krakatau erupsi (Foto: BNPB)

Jakarta, Jurnas.com - Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada September 2026. Namun, letusan terbaru tersebut bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sejarah panjang gunung api yang terus tumbuh dan berubah sejak kemunculannya dari laut hampir satu abad lalu.

Dikutip dari Badan Gelogi, National Geographic, dan berbagai sumber lainnya, Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda. Secara administratif, gunung ini termasuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sementara aktivitasnya dipantau melalui Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Kalianda, Lampung, dan Pasauran, Banten.

Sejarah Anak Krakatau tidak bisa dilepaskan dari tragedi letusan Krakatau 1883. Erupsi dahsyat tersebut menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan membentuk kaldera besar di Selat Sunda, sebelum aktivitas vulkanik kembali muncul puluhan tahun kemudian.

1883 menjadi awal sejarah Anak Krakatau

Pada 26 Agustus 1883, Krakatau memasuki fase letusan yang semakin dahsyat. Ledakan pertama pada siang hari mengirimkan awan abu hingga sekitar 27 kilometer di atas gunung.

Puncak letusan terjadi pada 27 Agustus. Ledakan terdengar hingga sekitar 3.500 kilometer di Australia, sementara material vulkanik dilaporkan mencapai ketinggian sekitar 80 kilometer.

Rangkaian letusan tersebut juga memicu tsunami besar. Gelombang terbesar mencapai sekitar 37 meter dan sekitar 36.000 orang di Jawa dan Sumatra dilaporkan tewas akibat tsunami yang menyusul runtuhnya gunung.

Letusan Krakatau juga melepaskan hampir 21 kilometer kubik material batuan ke atmosfer. Abu menyebar di wilayah yang sangat luas, menyebabkan kawasan sekitar gunung mengalami kegelapan selama lebih dari dua hari.

Material vulkanik bahkan beredar beberapa kali mengelilingi dunia dan dikaitkan dengan munculnya warna matahari terbenam yang merah dan oranye selama tahun berikutnya. Penurunan suhu global juga tercatat setelah letusan tersebut.

Anak Krakatau 43 tahun berada dalam fase istirahat

Setelah bencana 1883, kawasan Krakatau memasuki periode panjang tanpa aktivitas erupsi yang tercatat di permukaan.

Berdasarkan kajian pertumbuhan Anak Krakatau, fase dormansi tersebut berlangsung sekitar 43 tahun, dari 1884 hingga Desember 1927. Setelah itu, aktivitas vulkanik kembali muncul dari kawasan kaldera.

Pada 29 Desember 1927, letusan pertama dari bawah laut tercatat. Semburan material vulkanik menyerupai air mancur berlangsung hingga 15 Januari 1929.

Material vulkanik yang terus keluar kemudian menumpuk di dasar laut. Endapan tersebut perlahan membangun tubuh gunung baru hingga akhirnya menembus permukaan laut.

Tanggal 11 Juni 1929 ditetapkan sebagai momen kelahiran resmi Gunung Anak Krakatau. Sejak itu, gunung tersebut memasuki fase konstruksi, yaitu proses pembentukan dan pertumbuhan tubuh gunung melalui akumulasi lava, abu, serta material vulkanik lainnya.

Anak Krakatau terus tumbuh

Sejak muncul ke permukaan, Anak Krakatau tidak berhenti membangun tubuhnya. Setiap erupsi dapat menyumbangkan material baru yang kemudian menumpuk di sekitar kawah.

Proses tersebut membuat bentuk dan ketinggian gunung berubah dari waktu ke waktu. Anak Krakatau bahkan termasuk gunung api yang mengalami pertumbuhan fisik relatif cepat, dengan aktivitas letusan yang dapat terjadi secara berkala.

Catatan aktivitas menunjukkan periode letusan yang cukup intens. Berdasarkan data histori Magma Indonesia hingga 28 November 2023, Anak Krakatau telah mencatat sedikitnya 85 kejadian letusan, dengan periode sangat aktif pada 1993 dan 2011 ketika letusan terjadi hampir setiap hari.

Gunung ini juga memiliki fase istirahat yang dapat berlangsung antara satu hingga delapan tahun sebelum kembali memasuki periode aktif.

2018 mengubah bentuk Anak Krakatau

Salah satu bab paling penting dalam sejarah Anak Krakatau terjadi pada 2018.

Sebelum mengalami keruntuhan, ketinggian Anak Krakatau pada tahun tersebut mencapai sekitar 318 hingga 338 meter di atas permukaan laut, berdasarkan catatan yang terdapat dalam sumber. Erupsi saat itu didominasi letusan Strombolian dan lelehan lava.

Kemudian pada 22 Desember 2018, sebagian besar tubuh gunung mengalami longsoran atau flank collapse ke laut.

Material dalam jumlah besar yang masuk ke laut memicu tsunami di Selat Sunda. Gelombang tersebut menghantam pesisir Banten dan Lampung dan menjadi salah satu bencana paling penting dalam sejarah modern Anak Krakatau.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa bahaya Anak Krakatau tidak hanya berasal dari letusan, abu vulkanik, lava, atau lontaran batu pijar. Perubahan bentuk tubuh gunung dan kemungkinan longsoran material ke laut juga menjadi faktor yang harus diperhatikan.

Namun, erupsi tidak otomatis menghasilkan tsunami. Mekanisme khusus, terutama longsoran material vulkanik dalam jumlah signifikan ke laut, diperlukan untuk memicu tsunami akibat aktivitas gunung api.

Setelah tsunami, Anak Krakatau kembali membangun tubuhnya

Keruntuhan 2018 membuat tubuh Anak Krakatau menyusut drastis. Setelah itu, aktivitas erupsi kembali berperan dalam membangun tubuh gunung yang baru.

Sumber Badan Geologi menyebut pertumbuhan tubuh Anak Krakatau pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan berdasarkan evaluasi yang tersedia tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meski begitu, perubahan aktivitas dan morfologinya tetap dipantau secara intensif.

Serangkaian erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai bagian dari fase konstruksi hingga 16 Desember 2023. Setelah jeda cukup panjang, aktivitas erupsi kembali tercatat pada 2 Juli 2026.

Aktivitas meningkat pada 2026

Sebelum kembali erupsi pada Juli 2026, aktivitas Anak Krakatau telah menunjukkan sejumlah perubahan.

Data dalam sumber mencatat emisi gas SO2 dan anomali panas yang terdeteksi satelit sejak Juni 2026. Aktivitas kegempaan dan asap kawah kemudian meningkat hingga status gunung dinaikkan dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga pada 2 Juli 2026.

Sejak tanggal tersebut, status Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga.

Erupsi bertipe Strombolian kemudian menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik. Aktivitas tersebut berlangsung hingga awal September sebelum gunung memasuki fase erupsi menerus.

Erupsi Anak Krakatau September 2026 menghasilkan lava fountain

Pada Jumat malam, 4 September 2026, aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat. Pada pukul 23.07 WIB, gunung mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh.

Semburan berwarna merah menyala terlihat jelas dari pos pengamatan. Fenomena tersebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava yang berkaitan dengan keluarnya lava.

Erupsi menerus tersebut kemudian berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Meski erupsi menerus telah berhenti, status aktivitas Anak Krakatau tetap Level III atau Siaga dan potensi letusan susulan masih dinilai tinggi.

Rangkaian erupsi 4-6 September juga disertai penyebaran abu vulkanik. Data yang tercantum dalam sumber menyebut sebaran abu membentuk dua klaster, termasuk ke arah Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, Selat Sunda bagian selatan, hingga wilayah di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.

Bahaya Anak Krakatau tidak berhenti pada letusan

Sejarah Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini memiliki karakter yang terus berubah.

Lava, abu, dan material vulkanik dapat membangun tubuh gunung, tetapi pada kondisi tertentu perubahan struktur juga dapat menyebabkan sebagian tubuhnya runtuh. Peristiwa 2018 menjadi contoh bahwa longsoran material ke laut dapat menghasilkan tsunami tanpa harus didahului gempa tektonik besar.

Karena itu, pemantauan Anak Krakatau tidak hanya berfokus pada tinggi kolom erupsi. Perubahan morfologi gunung, pergerakan material, aktivitas magma, dan kondisi laut di sekitarnya juga menjadi bagian penting dari pengawasan.

Saat ini, Anak Krakatau masih berada dalam fase pertumbuhan kembali. Setiap erupsi dapat menjadi bagian dari proses pembangunan tubuh gunung sekaligus menyebabkan perubahan pada bentuknya.

Hampir satu abad setelah muncul dari dasar laut, Anak Krakatau masih memperlihatkan bahwa sebuah gunung api dapat terus berevolusi. Dari kelahirannya pada 1929, pertumbuhan cepat, keruntuhan pada 2018, hingga erupsi terbaru pada September 2026, sejarahnya menunjukkan bahwa perubahan kecil maupun besar pada gunung api di Selat Sunda tetap menjadi bagian penting yang harus dipantau. (*)

KEYWORD :

Erupsi Gunung Anak Karakatau Letusan Gunung Berapi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :