Rabu, 02/09/2026 11:25 WIB

Trauma Masa Kanak-Kanak Bisa Ubah Cara Otak Menantikan Hal Menyenangkan





Sebuah studi baru menemukan bahwa hubungan tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa berat trauma yang dialami seseorang

Ilustrasi trauma (Foto: Doknet)

Jakarta, Jurnas.com - Pengalaman traumatis pada masa kanak-kanak dapat meninggalkan dampak yang bertahan hingga dewasa. Salah satu dampaknya mungkin terlihat dari hal sederhana yang sering dianggap sepele, yakni kesulitan merasa antusias terhadap sesuatu yang akan terjadi.

Sebuah studi baru menemukan bahwa hubungan tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa berat trauma yang dialami seseorang. Dampaknya terhadap kemampuan mengantisipasi kesenangan tampak berkaitan dengan cara hipokampus berinteraksi dengan sistem penghargaan di otak.

Penelitian yang dipimpin Kathleen O’Brien dari Temple University dan Vishnu Murty dari University of Oregon bersama sejumlah peneliti lain itu diterbitkan dalam jurnal JNeurosci.

Para peneliti membedakan dua bentuk berkurangnya pengalaman menyenangkan. Yang pertama adalah kesulitan menikmati sesuatu yang sedang terjadi. Yang kedua adalah kesulitan merasakan dorongan atau kesenangan ketika membayangkan dan menantikan sesuatu yang menyenangkan di masa depan.

Studi tersebut menemukan kaitan trauma masa kanak-kanak terutama pada bentuk kedua. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki riwayat trauma tidak selalu kehilangan kemampuan menikmati momen saat ini, tetapi sebagian dapat mengalami kesulitan membayangkan sesuatu di masa depan sebagai hal yang layak dinantikan.

Hal sederhana seperti menunggu makan malam, pesan dari seseorang, atau akhir pekan dapat menjadi kurang menarik ketika mekanisme otak yang menghubungkan pengalaman baru dengan sistem penghargaan tidak bekerja secara optimal.

Selama ini, hipokampus lebih dikenal sebagai bagian otak yang berperan penting dalam pembentukan dan penyimpanan memori.

Namun, penelitian pada hewan menunjukkan bahwa bagian otak tersebut juga dapat memengaruhi sistem dopamin yang berkaitan dengan penghargaan dan motivasi ketika menghadapi sesuatu yang baru.

Dalam penelitian ini, perhatian diarahkan pada hubungan hipokampus dengan dua bagian sistem penghargaan, yaitu ventral tegmental area (VTA) yang memasok dopamin dan nucleus accumbens yang berperan dalam mendorong seseorang mengejar penghargaan.

Hipokampus juga diketahui sensitif terhadap stres pada masa awal kehidupan karena memiliki banyak reseptor hormon stres. Sejumlah penelitian sebelumnya menemukan bahwa orang yang melaporkan kekerasan atau pengabaian saat kanak-kanak cenderung memiliki hipokampus yang lebih kecil serta perubahan lain pada struktur otak.

Penelitian ini menganalisis 92 orang berusia 18 hingga 30 tahun, dengan usia rata-rata 21 tahun. Sebanyak 37 peserta merupakan laki-laki.

Para peserta berasal dari proyek penelitian yang lebih besar di Philadelphia yang sebelumnya menyaring sekitar 1.951 orang dewasa muda untuk melihat tanda-tanda awal psikosis. Sebanyak 22 orang dalam kelompok yang dianalisis memenuhi kriteria berisiko tinggi secara klinis mengalami psikosis.

Para peneliti tetap menemukan pola yang sama setelah memperhitungkan tingkat risiko psikosis peserta.

Riwayat trauma masa kanak-kanak diukur menggunakan kuesioner standar yang mencakup kekerasan emosional, pengabaian emosional, dan pengabaian fisik. Pertanyaan mengenai kekerasan fisik dan seksual tidak dimasukkan dalam kuesioner yang digunakan untuk penelitian ini.

Peserta menjalani dua jenis pemindaian otak.

Pada pemindaian pertama, mereka hanya berbaring selama kurang dari enam menit dengan mata terbuka sambil melihat tanda silang di layar. Kondisi ini memungkinkan peneliti melihat bagian otak yang aktivitasnya bergerak bersamaan ketika tidak ada tugas khusus yang diberikan.

Pemindaian kedua menggunakan serangkaian foto pemandangan luar ruangan. Sebelum pemindaian, peserta melihat 120 gambar dan diminta menentukan apakah mereka pernah melihat gambar tersebut.

Sebagian gambar kemudian ditampilkan berulang kali sehingga menjadi familiar, sementara gambar lainnya benar-benar baru. Peserta juga diperlihatkan gambar target tertentu yang mengharuskan mereka menekan tombol.

Dari pemindaian tersebut, peneliti mendapatkan tiga ukuran utama terkait hipokampus dan sistem penghargaan.

Tidak satu pun dari tiga ukuran aktivitas otak tersebut mampu memprediksi kesulitan mengantisipasi kesenangan jika berdiri sendiri. Hubungannya baru terlihat ketika dikombinasikan dengan tingkat trauma masa kanak-kanak yang tinggi.

Pada peserta yang melaporkan trauma lebih berat, hubungan yang lebih lemah antara hipokampus dan nucleus accumbens saat istirahat berkaitan dengan kesulitan lebih besar dalam mengantisipasi kesenangan.

Pola serupa ditemukan ketika hipokampus menunjukkan respons yang lebih lemah terhadap gambar baru atau ketika respons tersebut lebih lemah dalam memengaruhi aktivitas VTA selama tugas.

Sebaliknya, pada peserta dengan tingkat trauma yang rendah, ukuran-ukuran tersebut tidak menunjukkan hubungan yang berarti dengan kemampuan mengantisipasi kesenangan.

Menariknya, tidak ada kombinasi tersebut yang menunjukkan hubungan dengan kemampuan menikmati pengalaman pada saat itu juga. Para peneliti melihat dua jenis hubungan otak tersebut sebagai mekanisme yang berbeda.

Hubungan hipokampus dan nucleus accumbens ketika istirahat mungkin mencerminkan karakteristik konektivitas otak yang relatif stabil. Sementara hubungan hipokampus dan VTA ketika seseorang menghadapi sesuatu yang baru lebih menggambarkan respons otak terhadap pengalaman tertentu.

Jika mekanisme tersebut melemah, pengalaman baru atau sesuatu yang tidak terduga mungkin tidak cukup kuat untuk mengaktifkan sistem dopamin yang biasanya membantu seseorang terdorong mengejar pengalaman tersebut.

Secara keseluruhan, kombinasi faktor yang diteliti menjelaskan sekitar 24 persen perbedaan antarindividu dalam kemampuan mengantisipasi kesenangan. Para peneliti menekankan bahwa temuan tersebut belum membuktikan hubungan sebab-akibat.

Penelitian hanya mengambil satu gambaran pada satu waktu. Artinya, peneliti belum dapat memastikan apakah trauma masa kanak-kanak menyebabkan perubahan pada sirkuit otak tersebut atau justru karakteristik sirkuit otak tertentu membuat seseorang lebih rentan terhadap dampak trauma.

Untuk menjawabnya, peserta perlu diikuti selama bertahun-tahun sehingga perubahan otak, pengalaman hidup, dan kondisi psikologis dapat diamati secara berurutan.

Peneliti juga mengingatkan bahwa pemindaian saat istirahat yang berlangsung singkat mungkin belum cukup untuk mengukur konektivitas otak seseorang secara sangat andal. Selain itu, penelitian belum mencakup bagian otak lain yang juga terlibat dalam sistem penghargaan, seperti amigdala dan korteks frontal.

Temuan ini memberi perhatian baru pada hipokampus, bukan hanya sebagai pusat memori tetapi juga sebagai bagian dari jaringan yang dapat memengaruhi motivasi dan kemampuan seseorang menantikan pengalaman menyenangkan.

Murty menyebut penelitian tersebut sebagai salah satu upaya awal yang menghubungkan hipokampus dengan apati pada manusia.

Para peneliti berharap penelitian lanjutan dapat menemukan bagian spesifik dari hipokampus yang terlibat dalam mekanisme tersebut. Jika hubungan itu dapat dipahami lebih jauh, temuan tersebut berpotensi membantu pengembangan pendekatan untuk meningkatkan kemampuan mengantisipasi kesenangan pada orang yang terdampak trauma masa kanak-kanak.

Namun, studi ini belum menunjukkan bahwa trauma pasti menyebabkan perubahan tersebut, dan belum menjadi bukti bahwa bagian otak tertentu dapat langsung dijadikan target pengobatan. Temuan ini lebih tepat dipandang sebagai petunjuk awal tentang bagaimana pengalaman masa kecil dan sistem penghargaan otak mungkin saling berkaitan. (*)

Sumber: Earth

KEYWORD :

Dampak Trauma Masa Kecil Kesulitan merasa antusias




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :