Selasa, 01/09/2026 19:10 WIB

Taliban Buka Pintu Investasi untuk AS di Sektor Tambang





Kelompok Taliban mengisyaratkan keterbukaan mereka terhadap investasi Amerika Serikat di sektor pertambangan hingga infrastruktur

Tentara Taliban berjaga-jaga pada upacara peringatan dua tahun pengambilalihan Kabul oleh Taliban di Kabul, Afghanistan, 15 Agustus 2023. (Foto: REUTERS)

Jakarta, Jurnas.com - Kelompok Taliban mengisyaratkan keterbukaan mereka terhadap investasi Amerika Serikat di sektor pertambangan, infrastruktur, pertanian, dan perdagangan Afghanistan sebagai bagian dari upaya memulihkan hubungan antara Kabul dan Washington.

Menteri Luar Negeri Pjs Amir Khan Muttaqi menyatakan kepada Financial Times bahwa Taliban "sama sekali tidak keberatan" dan menyambut baik investasi AS, seraya menambahkan: "Hubungan antara Afghanistan dan AS tidak boleh dinilai dari kacamata perang 20 tahun terakhir, melainkan atas dasar kerja sama di masa depan."

Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Muttaqi tersebut. Pada periode pertamanya, Presiden AS Donald Trump pernah menyebutkan bahwa ia mempertimbangkan pengaturan untuk memanfaatkan kekayaan mineral Afghanistan agar Taliban membayar biaya perang dan rekonstruksi Washington, yang menghabiskan 117 miliar dolar AS hingga tahun 2017.

Afghanistan memiliki cadangan deposit mineral yang nilainya ditaksir lebih dari 1 triliun dolar AS, menurut studi yang dirilis oleh Survei Geologi AS (USGS).

Kandungan bumi negara tersebut menyimpan deposit emas, perak, dan platina dalam jumlah besar, serta bijih besi, uranium, seng, tantal, boksit, batu bara, gas alam, dan tembaga.

Kebijakan ekonomi Taliban "terbuka," kata Muttaqi, seraya menekankan penawaran kelompok tersebut kepada masyarakat internasional dalam mengupayakan pengakuan resmi lima tahun setelah merebut kembali kendali atas Afghanistan.

Terlepas dari jaminan Taliban bahwa kembalinya mereka ke kekuasaan akan mencakup liberalisasi kebijakan, mereka justru memberlakukan pembatasan ketat terhadap perempuan dan anak perempuan, termasuk melarang 2,5 juta dari mereka untuk mengenyam pendidikan di sekolah menengah dan perguruan tinggi, serta membatasi kebebasan bergerak mereka.

Sejak merebut kembali kekuasaan pada tahun 2021, pemerintah Taliban baru diakui secara resmi oleh Rusia.

Negara-negara lain seperti China, Pakistan, India, dan Iran telah menawarkan perjanjian perdagangan dan investasi bilateral kepada para pemimpin di Afghanistan sebagai imbalan atas jaminan keamanan.

Namun, AS tetap menjaga jarak dari Taliban, kecuali saat meminta pengembalian peralatan militer Amerika yang tertinggal setelah perang berakhir.

Muttaqi menolak permintaan AS tersebut. "Seluruh fasilitas militer dan sipil di Afghanistan, termasuk Bagram, adalah aset nasional Afghanistan," tegasnya, seraya menambahkan bahwa AS bagaimanapun dapat membuka kembali kedutaan besarnya di Kabul.

Taliban telah "menjamin keamanannya... membangun kembali jalan dan menanam pepohonan baru," ujarnya, sembari menyebut bahwa lokasi tersebut kini "sangat hidup dan menarik."

Sumber: Arabnews

KEYWORD :

Taliban Afghanistan Investasi AS AS Afghanistan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :