Ilustrasi balita bermain (Foto: Sandy Miller/Unsplash)
Jakarta, Jurnas.com - Makanan dan minuman manis seperti permen, es krim, biskuit, hingga susu formula berperasa sering kali menjadi favorit anak usia balita.
Rasa manis memang disukai anak secara alami, namun memberikan asupan gula berlebih pada usia tumbuh kembang dapat berdampak buruk bagi kesehatan fisik maupun perkembangan perilakunya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan menyarankan agar anak di bawah usia 2 tahun tidak diberikan gula tambahan (added sugar) sama sekali, sementara balita usia 2–5 tahun sebaiknya membatasi gula tambahan maksimal 25 gram (sekitar 4 sendok teh) per hari.
Dikutip dari berbagai sumber, jika balita mengonsumsi gula melebihi batas aman secara terus-menerus, berikut ini 7 dampak negatif yang dapat terjadi:
1. Merusak Kesehatan Gigi (Karies Gigi)
Dampak yang paling sering terlihat adalah kerusakan pada gigi susu. Bakteri alami di dalam mulut memanfaatkan gula sebagai bahan bakar untuk menghasilkan asam.
Asam ini kemudian mengikis lapisan enamel gigi balita yang masih tipis, sehingga memicu karies, gigi berlubang, dan rasa nyeri yang dapat mengganggu proses makan anak.
2. Memicu Tantrum dan Lonjakan Perilaku (Sugar Rush)
Gula diserap sangat cepat oleh tubuh sehingga menyebabkan kadar gula darah melonjak secara drastis (sugar spike). Kondisi ini memberikan dorongan energi instan yang membuat balita menjadi sangat hiperaktif.
Namun, ketika kadar gula darah tersebut anjlok kembali (sugar crash), si kecil akan merasa lelah, rewel, mudah marah, dan mengalami tantrum.
3. Menyebabkan Picky Eater dan Penurunan Nafsu Makan
Asupan makanan atau minuman manis dapat memberikan rasa kenyang semu pada perut balita yang masih kecil.
Akibatnya, si kecil menjadi malas mengonsumsi makanan utama yang padat gizi, seperti sayur, buah, dan protein. Kebiasaan ini lambat laun membentuk pola makan pemilih (picky eater) dan mengganggu kecukupan nutrisi harian.
4. Meningkatkan Risiko Obesitas Sejak Dini
Gula tambahan menyumbang kalori tanpa memberikan nilai gizi yang berarti (empty calories). Kalori berlebih yang tidak terpakai oleh aktivitas fisik balita akan disimpan oleh tubuh dalam bentuk jaringan lemak.
Penumpukan lemak ini meningkatkan risiko berat badan berlebih atau obesitas pada anak sejak usia dini.
5. Melemahkan Daya Tahan Tubuh
Konsumsi gula dalam jumlah tinggi dapat menghambat kemampuan sel darah putih dalam melawan dan membunuh bakteri atau virus jahat di dalam tubuh.
Akibatnya, balita yang sering mengonsumsi makanan manis cenderung lebih rentan terserang infeksi, seperti batuk, pilek, dan demam.
6. Mengganggu Kualitas Tidur Anak
Fluktuasi gula darah akibat camilan manis yang dikonsumsi pada sore atau malam hari dapat mengganggu produksi hormon melatonin yang mengatur siklus tidur.
Balita menjadi sulit tidur nyenyak, sering terbangun di malam hari, dan mengalami penurunan kualitas istirahat yang sangat dibutuhkan untuk proses tumbuh kembangnya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Konsumsi Gula Gula Berlebih Gula Balita






















