Direktur Riset dan Komunikasi Deep Intelligence Research (DIR) Neni Nur Hayati (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Riset Deep Intelligence Research (DIR) mencatat untuk pertama kalinya muncul indikator trust atau kepercayaan publik dalam percakapan mengenai Badan Gizi Nasional (BGN) di tengah polemik Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Temuan itu muncul setelah pergantian kepemimpinan di BGN dan di tengah isu dugaan korupsi, kasus keracunan makanan, serta kritik terhadap tata kelola program MBG.
Pemantauan DIR terhadap percakapan publik pada 22 Juli hingga 3 Agustus 2026 menunjukkan pemberitaan mengenai Kepala BGN yang baru menjangkau sekitar 685 juta pembaca di media arus utama. Dari seluruh percakapan yang dianalisis, 62,4 persen bernada positif, 35 persen negatif, dan 2,6 persen netral. Di media sosial, sentimen positif juga tercatat sedikit lebih tinggi dibanding media mainstream.
Direktur Riset dan Komunikasi DIR Neni Nur Hayati menilai hasil tersebut menjadi awal yang baik bagi kepemimpinan baru BGN yang menghadapi tantangan besar dalam menjalankan program MBG.
"Sentimennya positif, dominan sentimen positif, 62,4 persen. Itu sebenarnya good start untuk seorang Mas Dar menjalani satu tugas yang maha dahsyat ini karena dia mengemban anggaran negara yang cukup besar dengan cakupan wilayah yang sangat luas dan kompleksitas pengadaan makan bergizi gratis bukan cuma melibatkan SPPG, tapi juga supplier dan penerima manfaat," kata Neni Nur Hayati di Jakarta (5/8/2026).
Lebih lanjut, Neni mengatakan temuan yang membedakan riset kali ini adalah munculnya indikator kepercayaan publik yang sebelumnya belum terlihat dalam percakapan mengenai MBG. DIR mencatat emosi kemarahan turun menjadi 7,2 persen, sementara trust mencapai 26 persen.
Menurut Neni, indikator kepercayaan itu belum pernah muncul sejak MBG menjadi salah satu isu yang paling ramai diperdebatkan di ruang publik.
"Menariknya ternyata di media sosial itu tidak jauh berbeda sentimen positifnya, bahkan lebih tinggi sedikit. Jarang-jarang. Biasanya hasil riset itu mainstream positif, tetapi media sosial justru negatif. Yang menarik, trust di sini mencapai 26 persen. Biasanya itu tidak pernah muncul," ujarnya.
Neni menambahkan, selama periode pemantauan, DIR merekam sekitar 220 ribu unggahan yang menghasilkan 776 juta interaksi dan 9,9 juta engagement (angka pembulatan-red). Tingginya angka itu, menunjukkan MBG tetap menjadi salah satu isu dengan daya tarik terbesar di media sosial karena menyentuh langsung kepentingan masyarakat, mulai dari siswa, orang tua, sekolah, hingga pelaku usaha penyedia makanan.
Namun, bagi DIR, perubahan sentimen itu bukan berarti publik berhenti mengkritik. Kritik bergeser dari penolakan terhadap program menjadi tuntutan agar pemerintah memperbaiki tata kelola. Percakapan yang paling banyak muncul berkaitan dengan transparansi anggaran, pencegahan korupsi, penanganan kasus keracunan, dan penertiban Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bermasalah.
Neni menilai kepemimpinan Sudaryono memperoleh respons positif karena memilih membuka ruang komunikasi di tengah tekanan. Respons cepat terhadap kasus keracunan, inspeksi lapangan, serta penutupan SPPG yang dinilai bermasalah dipersepsikan sebagai langkah pembenahan. Pernyataannya bahwa dirinya maupun keluarganya tidak memiliki SPPG juga memicu meningkatnya kepercayaan publik.
"Pemulihan institusi BGN harus dilakukan dengan transparansi dan akuntabilitas, terutama dalam proses penegakan hukum, kondisi riil di lapangan, dan hasil investigasi kasus keracunan. Itu yang mendapatkan apresiasi dari masyarakat," kata Neni.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kepercayaan publik masih bersifat sementara. Menurut dia, publik masih berada pada posisi wait and see. Sedikit saja ditemukan ketidaksesuaian antara narasi dan fakta di lapangan, sentimen negatif berpotensi kembali mendominasi percakapan.
Karena itu, kata Neni, pembenahan tata kelola harus berjalan beriringan dengan komunikasi publik. Ia menyarankan BGN memperkuat diseminasi informasi di Instagram dan TikTok, dua platform yang menurut hasil riset menjadi pusat percakapan MBG.
"BGN harus aktif melakukan propaganda positif, bagaimana mengamplifikasi narasi positif di media sosial yang betul-betul sesuai dengan kenyataan di lapangan. Kuncinya tetap transparan dan akuntabel. Kalau komunikasinya bagus tetapi faktanya berbeda, sentimen negatif akan meledak lagi di ruang publik," ujarnya.
Temuan DIR menunjukkan ruang pemulihan reputasi BGN mulai terbuka. Namun, ruang itu masih harus dijaga agar berkesinambungan dengan sistem oleh pimpinan BGN yang baru.
Di tengah tingginya ekspektasi publik terhadap program dengan anggaran besar tersebut, trust yang mulai tumbuh dapat menjadi modal politik sekaligus ujian pertama bagi kepemimpinan baru: apakah mampu mengubah tata kelola MBG, atau sekadar mengubah percakapannya di ruang publik. Komunikasi yang baik, empatik, dan berbasis data menjadi hal yang penting dilakukan.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Riset DIR Kepercayaan Publik Badan Gizi Nasional Program MBG





















