Jum'at, 03/07/2026 10:38 WIB

Kisah Kaum Nabi Luth yang Dibinasakan, Terekam dalam Al-Quran





Dalam Al-Qur`an, kaum Nabi Luth digambarkan melakukan berbagai bentuk kemaksiatan

Ilustrasi - Nabi Luth AS saat melakukan dakwah kepada kaum sodom (Foto: AI)

Jakarta, Jurnas.com - Dalam sejarah umat terdahulu, Al-Qur’an merekam kisah kaum-kaum yang dibinasakan bukan karena lemahnya kekuatan, tapi karena kesombongan mereka di hadapan Tuhan, mengabaikan peringatan nabi dan rasul, hingga berpihak kepada pembangkang.

Selain menceritakan perjuangan para rasul dalam menyampaikan risalah, Al-Qur`an juga mengabadikan kisah umat-umat terdahulu yang mendapat azab karena mendustakan perintah Allah SWT.

Salah satu kisah yang paling sering dijadikan pelajaran adalah kisah Nabi Luth AS dan kaumnya. Dalam Al-Qur`an, kaum Nabi Luth digambarkan melakukan berbagai bentuk kemaksiatan, termasuk perbuatan yang disebut sebagai al-fahisyah (perbuatan keji), sehingga akhirnya mendapat azab.

Al-Qur`an menjelaskan bahwa Nabi Luth diutus untuk mengajak kaumnya kembali kepada jalan Allah SWT dan meninggalkan perbuatan yang menyimpang.

Teguran tersebut termuat dalam Surah Al-A`raf ayat 80–81:

"Dan (Kami juga telah mengutus) Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya, `Mengapa kamu melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu di dunia ini? Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki, bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.`" (QS. Al-A`raf: 80–81)

Dikutip MUI, dalam Tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata al-fahisyah pada ayat tersebut merujuk pada perbuatan yang sangat buruk, yakni perilaku homoseksual yang dilakukan secara terang-terangan oleh kaum Nabi Luth.

Menurut tafsir tersebut, Al-Qur`an menggambarkan perilaku itu sebagai bentuk penyimpangan yang dilakukan secara kolektif oleh kaumnya.

Mereka yang dikenal dengan sebutan Kaum Sodom ini tidak hanya menyimpang secara moral, tetapi juga keras kepala dan menghina peringatan Allah. Mereka menganggap rendah ajakan kebaikan dan malah menantang murka Allah. 

Karena terus menolak dakwah Nabi Luth dan tetap melakukan kemaksiatan, Allah SWT memerintahkan Nabi Luth beserta para pengikutnya yang beriman untuk meninggalkan negeri tersebut.

Sementara itu, kaum yang tetap membangkang menerima azab. Akhirnya, kota mereka dibalikkan dan dihujani batu dari langit sebagai bentuk azab yang tak bisa dielakkan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Hijr ayat 73–76:

"Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur ketika matahari akan terbit. Lalu Kami jungkirbalikkan negeri itu dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar..." (QS. Al-Hijr: 73–76)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa Allah menyelamatkan Nabi Luth dan orang-orang yang beriman, sedangkan kaumnya dibinasakan. Disebutkan juga bahwa istri Nabi Luth tidak termasuk orang yang diselamatkan karena berpihak kepada kaumnya yang membangkang.

Kisah Nabi Luth dalam Al-Qur`an dihadirkan sebagai pelajaran bagi umat agar mengambil hikmah dari perjalanan umat-umat terdahulu.

Pesan utamanya adalah pentingnya menaati perintah Allah SWT, menjauhi kemaksiatan, serta tidak mengabaikan peringatan yang disampaikan para nabi.

Al-Qur`an berulang kali menegaskan bahwa kisah-kisah umat terdahulu bukan sekadar catatan sejarah, tetapi menjadi ibrah atau pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil hikmah.

Dalam konteks kehidupan saat ini, kisah tersebut mengingatkan umat Islam untuk senantiasa berpegang teguh pada ajaran agama, menjaga akhlak, serta menjadikan Al-Qur`an dan sunah sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

 
KEYWORD :

Nabi Luth Kaum Sodom Kaum Luth Azab Allah




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :