Ilustrasi suhu panas (Foto: Kupastuntas)
Jakarta, Jurnas.com - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada 2026 menjadi salah satu bencana iklim paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sedikitnya 1.300 kematian berlebih akibat suhu ekstrem yang memecahkan rekor di sejumlah negara, termasuk Jerman yang mencapai 41,7 derajat Celsius dan Polandia 40,5 derajat Celsius.
Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan, bagaimana jika gelombang panas seperti di Eropa terjadi di Indonesia?
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Secara ilmiah teknis, fenomena heatwave seperti yang terjadi di Eropa tidak terjadi di Indonesia, meski bukan berarti masyarakat terbebas dari risiko cuaca panas ekstrem.
Dalam keterangan resmi BMKG menjelaskan gelombang panas merupakan fenomena meteorologi yang umumnya terjadi di wilayah lintang menengah hingga tinggi, yakni ketika massa udara panas terperangkap oleh sistem tekanan tinggi dalam waktu lama.
Sementara itu, Indonesia berada di kawasan ekuator yang memiliki dinamika atmosfer berbeda. Variasi cuaca di wilayah tropis berlangsung lebih cepat sehingga tidak mendukung terbentuknya heatwave seperti di Eropa.
Karena itu, kondisi yang biasa dirasakan masyarakat Indonesia sebenarnya adalah peningkatan suhu udara pada siang hari akibat cuaca cerah dan minimnya tutupan awan, terutama saat musim kemarau.
Meski heatwave secara teknis tidak terjadi di Indonesia, para ahli menilai dampaknya bisa sangat serius apabila suatu saat anomali iklim menyebabkan suhu meningkat secara ekstrem. Penyebab utamanya adalah kelembapan udara yang tinggi.
Berbeda dengan Eropa yang cenderung beriklim sedang, Indonesia merupakan negara tropis dengan tingkat kelembapan tinggi sepanjang tahun.
Dalam kondisi seperti itu, keringat lebih sulit menguap dari permukaan kulit. Padahal, penguapan keringat merupakan mekanisme utama tubuh untuk menurunkan suhu.
Akibatnya, tubuh lebih cepat mengalami heat stress, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), hingga heatstroke, meskipun suhu udara belum mencapai 40 derajat Celsius.
Dengan kata lain, suhu yang lebih rendah sekalipun dapat terasa jauh lebih menyengat karena dipengaruhi tingkat kelembapan yang tinggi.
Apabila suhu ekstrem berlangsung dalam waktu lama bersamaan dengan musim kemarau atau El Nino, dampaknya tidak hanya dirasakan manusia.
BMKG memperingatkan kondisi tersebut berpotensi memicu kekeringan berkepanjangan, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dan berkurangnya ketersediaan air bersih.
Dampak lainnya ialah berpotensi mengganggu sektor pertanian akibat defisit air, penurunan kualitas udara akibat asap kebakaran, dan meningkatnya risiko penyakit terkait cuaca panas.
Di wilayah pesisir, kenaikan suhu laut juga berpotensi memicu pemutihan terumbu karang (coral bleaching) yang dapat mengganggu ekosistem laut dan perikanan. Tingginya angka kematian di Eropa bukan hanya dipengaruhi suhu yang ekstrem, tetapi juga sejumlah faktor lain.
Sebagian besar rumah di Eropa dibangun untuk mempertahankan panas saat musim dingin sehingga kurang efektif menghadapi cuaca sangat panas. Diperkirakan hanya sekitar 19 persen rumah yang memiliki pendingin ruangan (AC).
Selain itu, sekitar 22 persen penduduk Uni Eropa merupakan kelompok lanjut usia yang lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat suhu tinggi.
Kondisi diperparah oleh suhu malam yang tetap panas sehingga tubuh tidak memiliki waktu untuk memulihkan diri setelah terpapar panas sepanjang hari.
Meski Indonesia tidak mengalami heatwave seperti Eropa, BMKG tetap mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai peningkatan suhu udara selama musim kemarau, terutama di tengah potensi El Nino yang diperkirakan menguat pada 2026.
Masyarakat diimbau menjaga kecukupan cairan tubuh, mengurangi aktivitas fisik di bawah terik matahari dalam waktu lama, serta memperhatikan kondisi kesehatan, terutama bagi lansia, anak-anak, dan kelompok rentan.
Di sisi lain, Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mengingatkan bahwa adaptasi terhadap cuaca panas tidak bisa hanya mengandalkan penggunaan pendingin ruangan.
Solusi jangka panjang perlu dilakukan melalui penambahan ruang hijau, penanaman pohon, pembangunan kota yang lebih sejuk, serta upaya mengurangi emisi gas rumah kaca untuk menekan laju perubahan iklim. (*)
Sumber: BMKG
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Gelombang Panas Cuaca Ekstrem Panas ekstrem di Eropa Info BMKG

















