Kamis, 02/07/2026 13:35 WIB

Studi: Gelombang Panas Eropa Mustahil Terjadi Tanpa Perubahan Iklim





para peneliti menyebut pemanasan global telah meningkatkan kemungkinan terjadinya gelombang panas ekstrem sekaligus membuat suhu yang tercatat jauh lebih tinggi

Ilustrasi gelombang panas (Foto: kupastuntas)

Jakarta, Jurnas.com - Gelombang panas yang melanda Eropa pada 2026 disebut sebagai salah satu yang paling ekstrem dalam sejarah modern. Analisis terbaru dari para ilmuwan menyimpulkan bahwa kondisi cuaca tersebut hampir mustahil terjadi tanpa perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

Kesimpulan itu disampaikan dalam studi yang dirilis jaringan peneliti World Weather Attribution (WWA). Penelitian tersebut menganalisis data observasi dan prakiraan cuaca selama tiga hari dan tiga malam terpanas di berbagai wilayah Eropa yang terdampak gelombang panas.

Dikutip dari Earth, para peneliti menyebut pemanasan global telah meningkatkan kemungkinan terjadinya gelombang panas ekstrem sekaligus membuat suhu yang tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa dekade lalu.

Gelombang panas dipicu oleh fenomena heat dome, yaitu massa udara panas yang terperangkap di atmosfer sehingga suhu terus meningkat selama beberapa hari.

Fenomena heat dome bukan hal baru, namun para ilmuwan menilai intensitas panas kali ini jauh lebih tinggi dibandingkan peristiwa serupa di masa lalu.

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah negara Eropa mencatatkan rekor suhu baru. Prancis memecahkan rekor suhu nasional selama dua hari berturut-turut. Inggris mencatat rekor suhu tertinggi untuk bulan Juni, kemudian kembali melampauinya kurang dari 24 jam kemudian.

Spanyol mengalami dua hari terpanas sepanjang sejarah bulan Juni secara berurutan. Swiss mencatat suhu tertinggi yang pernah terjadi pada bulan Juni. Data sementara juga menunjukkan Jerman berpotensi mencetak rekor suhu baru.

Menurut peneliti, kondisi ini menunjukkan gelombang panas tidak lagi bersifat lokal, tetapi terjadi secara luas di berbagai wilayah Eropa.

Untuk mengetahui pengaruh perubahan iklim, para peneliti membandingkan gelombang panas 2026 dengan peristiwa serupa pada 1976 dan 2003, dua tahun yang sebelumnya dikenal sebagai periode panas ekstrem di Eropa.

Hasilnya menunjukkan suhu siang maupun malam pada gelombang panas tahun ini hampir tidak mungkin terjadi jika Bumi masih memiliki kondisi iklim seperti pada 1976.

Selama sekitar 50 tahun terakhir, suhu rata-rata global telah meningkat sekitar 1,1 derajat Celsius. Kenaikan tersebut dinilai cukup untuk meningkatkan peluang munculnya gelombang panas ekstrem seperti yang terjadi saat ini.

Penelitian memperkirakan apabila peristiwa yang sama terjadi pada Juni 1976, suhunya akan sekitar 3,5 derajat Celsius lebih rendah dibandingkan kondisi yang dialami Eropa sekarang.

Selain suhu siang yang sangat tinggi, ilmuwan menyoroti suhu malam hari yang tetap panas sebagai salah satu faktor paling berbahaya. Prancis bahkan mencatat malam terpanas sepanjang sejarah pengamatan.

Ketika suhu tidak turun pada malam hari, tubuh manusia kehilangan kesempatan untuk mendinginkan diri setelah terpapar panas sepanjang hari. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kelelahan akibat panas (heat exhaustion) hingga heatstroke yang dapat berakibat fatal.

Analisis WWA menunjukkan suhu malam ekstrem seperti sekarang 100 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan saat gelombang panas Eropa pada 2003 yang menewaskan lebih dari 70.000 orang.

Peneliti juga mengukur wet bulb globe temperature (WBGT) di 854 kota di 30 negara.

WBGT merupakan indikator yang menggabungkan suhu udara, kelembapan, paparan sinar matahari, dan kecepatan angin untuk mengukur tingkat tekanan panas yang dirasakan tubuh manusia.

Hasilnya, sekitar 45 persen kota telah atau diperkirakan akan memecahkan rekor tertinggi untuk indikator tersebut.

Saat nilai WBGT meningkat, kemampuan tubuh mendinginkan diri melalui keringat menjadi semakin terbatas sehingga risiko gangguan kesehatan akibat panas meningkat tajam.

Dampak gelombang panas mulai terlihat di berbagai negara. Di Spanyol, sistem pemantauan kematian memperkirakan lebih dari 200 kematian berlebih terjadi hanya dalam empat hari yang berkaitan dengan suhu ekstrem.

Sementara di Prancis, sedikitnya 55 orang dilaporkan meninggal akibat tenggelam ketika mencoba mendinginkan tubuh di sungai maupun danau.

Gelombang panas juga memicu berbagai gangguan lain, mulai dari penutupan ribuan sekolah, terganggunya layanan kereta api, pemadaman listrik di sejumlah wilayah, hingga penutupan beberapa destinasi wisata.

Para ilmuwan mengingatkan bahwa Eropa kini menjadi benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia.

Mereka memperingatkan gelombang panas dengan intensitas, durasi, dan frekuensi seperti saat ini akan semakin sering terjadi apabila emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil tidak segera ditekan.

Peneliti iklim dari Imperial College London, Friederike Otto, mengatakan temuan ini bukan sekadar persoalan ilmiah, tetapi juga menjadi pengingat bahwa keputusan dunia dalam mengurangi emisi saat ini akan menentukan seberapa sering masyarakat menghadapi gelombang panas ekstrem di masa mendatang. (*)

KEYWORD :

Gelombang Panas Cuaca Ekstrem Panas ekstrem di Eropa




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :