Presiden Rusia Vladimir Putin and Presiden Belarus Alexander Lukashenko (Foto: Reuters)
Moskow, Jurnas.com - Rusia membantah telah memberikan tekanan pada Belarus untuk mendukung perluasan perang di Ukraina, sementara Belarus menyatakan bahwa pihak Barat yang mencoba menyeretnya ke dalam konflik tersebut.
Negara bekas Uni Soviet ini memiliki posisi strategis yang sangat penting bagi semua pihak karena bersekutu erat dengan Moskow serta berbagi perbatasan langsung dengan Rusia, Ukraina, dan tiga negara anggota NATO.
Di tengah kondisi pasukan Moskow yang kesulitan untuk maju dan Ukraina yang terus menghujani target-target jauh di dalam Rusia dengan pesawat nirawak, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah berulang kali menyatakan keyakinannya bahwa Moskow ingin melibatkan Belarus lebih jauh di pihak Rusia.
Laporan The Wall Street Journal yang dikutip dari Arab News pada Kamis (25/6), menyebutkan bahwa Rusia ingin menggunakan Belarus sebagai batu loncatan untuk meningkatkan serangan terhadap Ukraina, dan mengancam akan memotong dukungan finansial jika Belarus tidak setuju.
"Laporan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan dan Belarus adalah sekutu terdekat kami," ujar juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, dalam bantahannya.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan Belarus Viktor Khrenin menyatakan bahwa pihak Barat yang memicu ketegangan. Dia menyoroti situasi di sepanjang perbatasan negara yang tidak stabil dan terus mengalami peningkatan eskalasi.
"Di luar perbatasan kami, formasi pasukan NATO sedang diperkuat, infrastruktur ditingkatkan, anggaran militer negara-negara tetangga diperluas, dan para politisi membuat pernyataan militeristik yang keras," kata Viktor.
"Upaya sedang dilakukan untuk memperpanjang, dan bahkan memperluas, konflik panas yang dilepaskan oleh Barat di Ukraina. Hari ini, kami sangat menyadari adanya upaya terang-terangan untuk menyeret Belarus ke dalam perang," dia menambahkan.
Eropa sebelumnya menyangkal tuduhan Rusia yang menyebut mereka bertanggung jawab atas perang di Ukraina, usai invasi skala penuh diluncurkan sejak 2022.
Pada Jumat pekan lalu lalu, Zelensky mengatakan bahwa stasiun relai sinyal di Belarus digunakan untuk memandu serangan drone Rusia ke Ukraina, dan dia memberi waktu satu minggu kepada Presiden Belarus Alexander Lukashenko untuk menyingkirkannya.
Namun pada Rabu (24/6) kemarin, Zelensky menyatakan bahwa stasiun-stasiun tersebut telah berhenti beroperasi. Terkait hal ini, Peskov menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki informasi mengenai masalah stasiun relai tersebut.
Meskipun Lukashenko tidak mengirimkan pasukan Belarus untuk bertempur bersama Rusia, dia mengizinkan Presiden Putin menggunakan Belarus sebagai tempat peluncuran untuk menginvasi Ukraina, dan kemudian setuju untuk membiarkan Rusia menempatkan rudal nuklir taktis di wilayah Belarus.
Belarus juga sering melakukan latihan militer bersama dengan Rusia serta mengizinkan Moskow menggunakan pangkalan dan lapangan latihannya.
Walaupun menjadi mitra yang dominan, Moskow juga mengandalkan Belarus yang memiliki dua kilang besar untuk memproses minyak Rusia dan menjual kembali bensin, diesel, serta bahan bakar jet ke Rusia.
Alur pasokan ini menjadi semakin penting tahun ini karena Ukraina meningkatkan serangan terhadap kilang minyak di Rusia yang menciptakan kelangkaan bahan bakar yang meluas.
Berdasarkan sumber data Reuters, dalam lima bulan pertama tahun ini, pengiriman bensin melalui kereta api dari kilang Belarus ke Rusia melonjak hampir 13 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara pengiriman diesel Belarusia meningkat tiga kali lipat.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Perang Rusia vs Ukraina Militer Belarus Hubungan Rusia dan Belarus









