Kamis, 25/06/2026 18:20 WIB

Kidung Pilu dan Keagungan Simbolis dalam Tradisi Tabot





Di Bengkulu, gaung tahun baru Islam tidak sekadar disambut dengan lampion penanda sukacita, melainkan melalui sebuah perayaan yang disebut Tabot

Ilustrasi festival Tabot di Bengkulu (Foto: Kementerian Pariwisata)

Jakarta, Jurnas.com - Ketika hilal bulan Muharram mulai menampakkan dirinya di ufuk barat, pesisir barat Sumatra bersiap melarungkan diri ke dalam sebuah riak ritus yang megah sekaligus melankolis.

Di Provinsi Bengkulu, gaung tahun baru Islam tidak sekadar disambut dengan lampion penanda sukacita, melainkan melalui sebuah perayaan kolosal yang mengakar kuat sejak berabad-abad silam.

Tradisi itu bernama Tabot, sebuah upacara yang mempertemukan kelindan sejarah kelam peradaban Islam dengan kehangatan lanskap budaya Melayu.

Setiap tahunnya, untaian ritual yang berlangsung selama sepuluh hari berturut-turut ini menyisakan ruang perenungan spiritual yang mendalam bagi siapa saja yang mengikutinya.

Untuk memahami esensi dari Tabot, jalinan waktu harus ditarik mundur hingga ke abad ke-17, ketika kongsi dagang Inggris (EIC) mendirikan benteng Fort Marlborough di Bengkulu.

Kala itu Inggris memboyong pekerja bangunan muslim asal India Selatan (dari Madras dan Bengali) yang merupakan pemeluk Islam Syiah untuk membangun infrastruktur pertahanan mereka.

Para imigran ini membawa serta tradisi berkabung tahunan untuk memperingati kisah tragis gugurnya Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam pertempuran tidak seimbang di Padang Karbala, Irak.

Kata "Tabot" sendiri secara etimologis berasal dari bahasa Arab taabut yang bermakna kotak kayu atau peti mati rahasia.

Oleh keturunan keluarga pembawa tradisi yang kini disebut sebagai "Keluarga Pewaris Tabot", peti simbolis ini dimanifestasikan menjadi sebuah menara agung setinggi belasan meter.

Struktur megah ini dihiasi kertas dekoratif warna-warni yang mencerminkan keteguhan iman dan penghormatan setinggi-tingginya kepada sang martir.

Upacara adat Tabot terikat pada rentetan ritual kronologis sakral sejak tanggal 1 hingga 10 Muharram.

Meskipun lahir dari rahim teologi Syiah yang sarat akan nuansa duka, Tabot di Bengkulu telah mengalami metamorfosis kultural.

Selama ratusan tahun bersentuhan dengan masyarakat lokal, tradisi ini telah mengikis sekat-sekat sektarian dan melebur secara harmonis ke dalam napas kebudayaan Melayu Bengkulu.

Kini, Tabot telah menjadi Festival Tabot, sebuah agenda wisata nasional Indonesia yang merangkul seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang agama maupun suku.

KEYWORD :

Tradisi Tabot 10 Muharram Husain Bin Ali Tragedi Karbala




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :