Ilustrasi nyamuk menggigit kulit manusia (Foto: Polres Jogja)
Jakarta, Jurnas.com - Nyamuk ternyata tidak menggigit manusia secara acak. Penelitian terhadap lebih dari 450 orang di sebuah festival musik di Belanda menemukan sejumlah faktor yang berkaitan dengan ketertarikan nyamuk, meski belum ada satu penyebab yang bisa menjelaskan mengapa seseorang lebih sering digigit dibanding orang lain.
Nyamuk terlebih dahulu mendeteksi karbon dioksida dari napas manusia. Setelah mendekat, serangga ini menggunakan panas tubuh dan aroma khas kulit untuk menentukan target.
Dikutip dari Earth, sejumlah penelitian sebelumnya juga menunjukkan kemungkinan peran bakteri kulit dan faktor genetik. Sementara itu, kaitan golongan darah dengan daya tarik nyamuk masih menghasilkan temuan yang beragam.
Untuk mencari petunjuk tambahan, peneliti dari Radboud University Medical Center melakukan eksperimen di Lowlands Festival, Belanda, pada Agustus 2023.
Lebih dari 450 pengunjung menjadi peserta. Mereka mengisi informasi mengenai pola tidur, kebiasaan mandi, pola makan, penggunaan zat tertentu, golongan darah, dan kebiasaan lainnya.
Peneliti juga mengukur kadar alkohol melalui napas dan mengambil sampel dari kulit peserta.
Setelah itu, setiap peserta menempelkan lengan pada kandang berisi nyamuk betina Anopheles stephensi yang dipisahkan oleh jaring plastik. Kamera digunakan untuk merekam perilaku nyamuk terhadap masing-masing peserta.
Hasil penelitian menunjukkan nyamuk lebih sering mendarat pada peserta yang melaporkan mengonsumsi bir atau anggur dalam 12 jam sebelumnya.
Peserta yang menggunakan cannabis dalam dua hari sebelumnya, tidak menggunakan tabir surya, serta berbagi tempat tidur dengan orang lain juga cenderung lebih menarik perhatian nyamuk.
Peneliti belum mengetahui secara pasti mengapa konsumsi alkohol berkaitan dengan meningkatnya ketertarikan nyamuk.
Salah satu kemungkinan adalah alkohol dapat memengaruhi suhu tubuh atau jumlah karbon dioksida yang dikeluarkan. Faktor lain yang mungkin berperan adalah aktivitas setelah minum, seperti lebih banyak bergerak atau berkeringat.
Namun, hubungan tersebut belum membuktikan bahwa alkohol secara langsung membuat seseorang lebih menarik bagi nyamuk.
Peneliti menemukan peserta dengan jumlah bakteri Streptococcus yang sedikit lebih tinggi pada kulit cenderung lebih sering didatangi nyamuk.
Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang mengaitkan mikroorganisme tertentu pada kulit dengan daya tarik manusia bagi nyamuk.
Meski demikian, peneliti tidak menemukan hubungan yang jelas antara pola makan dan golongan darah dengan ketertarikan nyamuk dalam penelitian tersebut.
Penggunaan parfum juga tidak menunjukkan pengaruh yang terukur terhadap ketertarikan nyamuk.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya tarik manusia bagi nyamuk kemungkinan merupakan kombinasi berbagai faktor, bukan satu ciri tertentu.
Karbon dioksida dari napas membantu nyamuk menemukan manusia dari jarak tertentu. Setelah berada lebih dekat, panas tubuh dan senyawa kimia dari kulit dapat membantu nyamuk menentukan tempat untuk mendarat.
Kondisi kulit, mikroorganisme, aktivitas, serta faktor lingkungan kemudian dapat memengaruhi perilaku tersebut.
Peneliti juga mengingatkan bahwa hasil penelitian ini tidak bisa langsung diterapkan pada semua jenis nyamuk. Eksperimen menggunakan Anopheles stephensi, salah satu spesies yang dapat menularkan malaria dan ditemukan di sejumlah wilayah Asia, Semenanjung Arab, dan Afrika.
Karena spesies nyamuk memiliki perilaku berbeda, faktor yang menarik satu jenis nyamuk belum tentu memiliki pengaruh yang sama pada jenis lainnya.
Para peneliti menekankan bahwa faktor yang ditemukan bukan berarti seseorang pasti lebih sering digigit dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian tersebut juga belum dapat menentukan hubungan sebab-akibat untuk setiap faktor. Misalnya, orang yang minum alkohol lebih sering didatangi nyamuk, tetapi belum diketahui apakah alkohol secara langsung menyebabkan perubahan yang menarik nyamuk.
Sara Lynn Blanken, salah satu peneliti, mengatakan perlindungan langsung tetap menjadi cara paling efektif untuk mengurangi risiko gigitan.
Pakaian berlengan panjang dan obat antinyamuk tetap menjadi pilihan utama, terutama ketika berada di wilayah dengan risiko penyakit yang ditularkan nyamuk.
Nyamuk diketahui dapat menyebarkan berbagai penyakit, termasuk malaria, demam berdarah, dan Zika. Karena itu, memahami faktor yang memengaruhi perilaku nyamuk penting bukan hanya untuk menjawab mengapa sebagian orang lebih sering digigit, tetapi juga untuk membantu upaya pencegahan penyakit.
Penelitian ini menunjukkan bahwa istilah "magnet nyamuk" ternyata tidak sesederhana yang selama ini dipercaya. Ada kombinasi aroma tubuh, kondisi kulit, aktivitas, dan lingkungan yang dapat memengaruhi pilihan nyamuk, sementara sejumlah anggapan populer seperti golongan darah dan makanan tertentu belum tentu berlaku. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Target Nyamuk Aroma Tubuh Bakteri Streptococcus Daya Tarik Nyamuk



























