Penyerang timnas Swedia, Viktor Gyokeres (Foto: Sports Mole)
Jakarta, Jurnas.com - Stadion NRG menjadi saksi bisu bagaimana lini pertahanan Swedia mendadak ramah lingkungan dengan membiarkan barisan penyerang Belanda bebas mondar-mandir mencetak gol.
Kekalahan telak 1-5 dari De Oranje pada Minggu (21/6) dini hari laga lanjutan Grup F Piala Dunia 2026 ini bukan sekadar urusan taktik yang meleset, melainkan demonstrasi nyata dari lini depan Swedia yang tampaknya sedang menderita star syndrome akut atau mungkin sekadar lupa cara mengoper bola akibat ego yang terlalu besar.
Sejak peluit pertama dibunyikan, aroma kepunahan taktik Swedia sudah tercium. Ketika pertandingan baru berjalan lima menit, Brian Brobbey sudah berhasil mencatatkan namanya di papan skor, disusul gol keduanya pada menit ke-17.
Alih-alih merespons tamparan cepat tersebut dengan kerja sama tim yang solid, dua ujung tombak Swedia, Viktor Gyokeres dan Alexander Isak, justru terlihat seperti dua matahari yang menolak berada di langit yang sama.
Gyokeres, yang musim ini dipuja-puja di level klub, tampaknya membawa aura kebintangan tersebut ke lapangan dengan cara yang keliru.
Alih-alih melihat posisi rekannya yang lebih menguntungkan, penyerang bertubuh kekar ini beberapa kali memaksakan diri melepaskan tembakan spekulatif yang dengan sangat mudah diamankan oleh Bart Verbruggen.
Egoisme serupa juga dipertontonkan oleh Alexander Isak. Alih-alih membangun permainan kombinasi untuk membongkar pertahanan rapat Belanda.
Isak kerap kali terlalu lama menguasai bola, mencoba melewati dua hingga tiga pemain lawan sendirian seolah-olah sedang bermain di halaman rumahnya sendiri, bukan di panggung Piala Dunia. Penyakit star syndrome ini membuat aliran bola Swedia macet total di sepertiga akhir lapangan.
Menatap rekan satu tim sepertinya menjadi opsi terakhir bagi kedua penyerang ini, karena opsi pertama dan kedua selalu tentang bagaimana cara mereka mencetak gol indah demi konten sorotan media sosial keesokan harinya.
Akibatnya, lini tengah Swedia yang sudah bersusah payah merebut bola harus pasrah melihat momentum serangan menguap begitu saja di kaki para penyerangnya yang terlalu mencintai diri sendiri.
Di sisi lain, Cody Gakpo dan Brian Brobbey memberikan kursus gratis tentang bagaimana cara penyerang modern bekerja sama.
Gol-gol Belanda lahir dari skema yang cair, di mana assist dari Gakpo, Dumfries, dan Crysencio Summerville menunjukkan bahwa sepak bola tetaplah permainan sebelas lawan sebelas, bukan satu lawan sebelas.
Sementara Belanda asyik berpesta gol hingga babak kedua melalui Gakpo dan Summerville.
Swedia baru tersadar dari tidur panjangnya pada menit ke-59 ketika Anthony Elanga mencetak gol hiburan setelah menerima umpan dari Isak, sebuah momen langka di mana Isak akhirnya ingat bahwa ia memiliki rekan setim.
Kekalahan memalukan ini jelas menjadi tamparan keras bagi Swedia yang kini harus rela takhtanya di puncak Grup F dikudeta oleh Belanda.
Jika tim pelatih tidak segera menyembuhkan penyakit egois dan star syndrome yang menjangkiti para penyerang utamanya.
Bukan tidak mungkin Swedia akan kembali menyajikan laga komedi yang sama di pertandingan berikutnya, di mana para penyerang mereka sibuk mencari panggung pribadi sementara timnya berjalan gontai menuju pintu keluar turnamen.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Sepakbola Dunia Piala Dunia 2026 Timnas Swedia Timnas Belanda




















