Senin, 15/06/2026 11:59 WIB

Longsor-Banjir Sumatera Tewaskan 7 Persen Populasi Orangutan Paling Langka





Penelitian terbaru mengungkap sekitar 58 individu orangutan Tapanuli tewas hanya dalam empat hari akibat longsor dan banjir yang landa hutan Batang Toru, Sumut

Orangutan Tapanuli, spesies kera besar paling langka di dunia (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Hujan ekstrem yang dipicu Siklon Senyar pada November 2025 menyebabkan pukulan telak bagi kelangsungan hidup orangutan Tapanuli, spesies kera besar paling langka di dunia.

Sebuah penelitian terbaru mengungkap sekitar 58 individu orangutan Tapanuli tewas hanya dalam empat hari akibat longsor dan banjir yang melanda hutan Batang Toru, Sumatera Utara.

Dikutip dari Live Science, temuan yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Current Biology pada 10 Juni 2026 itu menunjukkan bahwa bencana tersebut menghilangkan sekitar 7 persen dari total populasi orangutan Tapanuli yang tersisa di alam liar.

Peneliti menyebut peristiwa ini sebagai bukti bahwa perubahan iklim kini menjadi ancaman langsung dan sangat serius bagi kelangsungan spesies yang sudah berada di ambang kepunahan tersebut.

Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) merupakan spesies orangutan yang baru diidentifikasi secara ilmiah pada 2017. Spesies ini hidup terbatas di kawasan hutan Batang Toru, Sumatera Utara, dan menjadi spesies kera besar paling langka di dunia.

Berdasarkan estimasi pada 2019, populasi orangutan Tapanuli hanya berjumlah sekitar 767 individu. Dari jumlah tersebut, sekitar 581 individu hidup di blok barat hutan Batang Toru, kawasan yang paling terdampak Siklon Senyar.

Penelitian menunjukkan bahwa selama empat hari, kawasan tersebut diguyur hujan ekstrem mencapai 556 milimeter. Curah hujan yang sangat tinggi memicu longsor besar-besaran di habitat orangutan.

Melalui analisis citra satelit sebelum dan sesudah bencana, para peneliti menemukan kerusakan habitat yang sangat luas. Longsor menghantam sekitar 8.303 hektare kawasan habitat orangutan Tapanuli dan meninggalkan lebih dari 50 ribu titik bekas longsoran di lanskap hutan.

Sebagian besar kematian orangutan diduga terjadi akibat tertimbun material longsor, tertimpa pohon tumbang, mengalami trauma fisik, hingga tenggelam saat banjir menerjang kawasan hutan.

Kehilangan sekitar 58 individu setara dengan 11 persen populasi orangutan di blok barat Batang Toru atau sekitar 7 persen dari keseluruhan spesies.

Profesor biologi primata dari Liverpool John Moores University, Serge Wich, yang menjadi salah satu penulis penelitian, menyebut temuan tersebut sangat mengkhawatirkan bagi masa depan orangutan Tapanuli.

Dampak bencana tidak hanya berupa kematian langsung. Peneliti memperingatkan kerusakan tanah akibat longsor berpotensi mengganggu ketersediaan sumber pakan bagi orangutan dalam jangka panjang.

Lapisan tanah atas yang hilang akibat longsor mengandung berbagai organisme penting yang mendukung pertumbuhan vegetasi hutan. Kondisi ini dapat memperlambat pemulihan pohon-pohon penghasil buah dan daun yang menjadi sumber makanan utama orangutan.

Kerentanan spesies ini semakin tinggi karena orangutan memiliki tingkat reproduksi yang sangat lambat. Seekor induk umumnya hanya melahirkan satu anak setiap enam hingga sembilan tahun.

Akibatnya, kehilangan puluhan individu dalam waktu singkat akan membutuhkan waktu sangat lama untuk dipulihkan secara alami.

Kelompok peneliti World Weather Attribution sebelumnya menyimpulkan bahwa intensitas Siklon Senyar diperkuat oleh kombinasi perubahan iklim akibat aktivitas manusia, fenomena Dipole Samudra Hindia negatif, dan La Niña.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim diperkirakan akan meningkatkan frekuensi dan intensitas hujan ekstrem di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia.

Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa spesies-spesies langka dengan populasi kecil seperti orangutan Tapanuli akan menghadapi risiko kepunahan yang semakin besar jika kejadian cuaca ekstrem terus meningkat.

Bagi para peneliti, bencana yang terjadi di Batang Toru menjadi peringatan bahwa ancaman terhadap satwa langka tidak lagi hanya berasal dari hilangnya habitat dan aktivitas manusia, tetapi juga dari dampak perubahan iklim yang semakin nyata. (*)

KEYWORD :

Bajir dan Longsor Bajir di Sumatera Orangutan Tapanuli Orangutan Paling Langka




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :