Kamis, 14/05/2026 10:07 WIB

Perpustakaan MPR RI Dorong Kreativitas Pegawai Lewat Seni Terrarium





Perpustakaan MPR RI Dorong Kreativitas Pegawai Lewat Seni Terrarium

Plt. Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, S.E., M.M. (Foto: Humas MPR)

Jakarta, Jurnas.com – Dalam upaya meningkatkan semangat literasi dan kreativitas, serta menanamkan nilai-nilai kebangsaan, Perpustakaan MPR RI berkolaborasi dengan Terramori menggelar kegiatan Literasi Kreatif dengan tema “Terrarium: Pohon Sukun, Pengasingan, dan Benih Pancasila” di Ruang Perpustakaan MPR RI, Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Hadir dalam acara tersebut Plt. Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, S.E., M.M.; Deputi Bidang Administrasi sekaligus Plt. Kepala Biro Humas dan SI MPR RI, Heri Herawan, S.H.; Pustakawan Ahli Madya, Yusniar, S.H.; pejabat Eselon III, pejabat Eselon IV, pejabat fungsional, serta pegawai di lingkungan Setjen MPR RI.

Dihadirkan juga Valentino Putra Budiman selaku founder Terramori yang membimbing pelatihan kerajinan ini. Terrarium sendiri merupakan seni menata tanaman kecil, lumut, dan elemen lainnya seperti batu atau pasir di dalam wadah kaca transparan, yang mensimulasikan ekosistem alami dalam bentuk miniatur. Kerajinan ini juga biasa disebut sebagai “hutan dalam botol” atau ekosistem mandiri untuk hiasan ruangan.

Kegiatan ini juga sejalan dengan Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia No. 4 Tahun 2023 bahwa perpustakaan berfungsi sebagai ruang pengembangan diri, kreativitas, komunitas, dan pemberdayaan masyarakat.

Plt. Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, S.E., M.M., menyampaikan apresiasinya kepada Perpustakaan MPR RI atas terlaksananya kegiatan tersebut. Menurutnya, literasi kreatif bukan sekadar aktivitas kreatif, tetapi juga sarana menanamkan nilai-nilai karakter dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.

Ibu Titi, sapaan akrab Siti Fauziah mengaku senang melihat antusiasme peserta yang hadir dari berbagai kalangan dan generasi, termasuk keterlibatan peserta laki-laki yang menurutnya menjadi warna tersendiri.

“Saya senang karena kegiatan seperti ini biasanya didominasi peserta perempuan, tetapi hari ini Alhamdulillah ada peserta laki-laki juga dan generasinya cukup berimbang. Artinya kegiatan ini bisa diterima oleh semua kalangan,” ujarnya.

Tema pohon sukun dipilih bukan tanpa alasan. Pohon tersebut memiliki makna historis dan ideologis karena menjadi bagian dari kisah perenungan Bung Karno di Ende, Nusa Tenggara Timur.

“Pohon sukun bukan sekadar tanaman pangan. Ia adalah jejak hidup yang mencatat ketabahan, kesederhanaan, dan daya cipta. Di bawah pohon sukun itulah Pancasila mulai menemukan bentuknya,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, peserta diajak tidak hanya menghasilkan karya seni berupa terrarium, tetapi juga memahami nilai-nilai penting seperti kesabaran, ketelitian, disiplin, hingga kemampuan berimajinasi. Menurut Ibu Titi, seluruh proses dalam menyusun lapisan batu, tanah, hingga tanaman memiliki filosofi yang relevan dengan dunia kerja.

“Dalam membuat terrarium ini ada aturan, ada tahapan, ada kesabaran, dan ada ketelitian. Semua unsur itu sebenarnya dibutuhkan dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari,” ungkapnya.

Perempuan pertama yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal MPR RI ini menceritakan saat proses pembuatan terrarium, di tahap menyusun batu kerikil menurutnya menjadi gambaran tantangan dalam organisasi maupun pekerjaan.

“Saya ingin membuat susunan batu seperti tangga, tetapi batunya tidak selalu nurut. Dari situ kita belajar bahwa dalam pekerjaan juga ada tantangan. Kita tidak bisa memaksakan kehendak, tetapi harus mencari cara agar semuanya bisa tersusun dengan baik,” tuturnya.

Selain menjadi ruang pengembangan kreativitas, kegiatan ini juga dinilai mampu menjadi sarana healing di tengah rutinitas pekerjaan.

“Kegiatan seperti ini bisa menjadi penyegar di tengah kepenatan bekerja. Dengan meluangkan waktu sejenak, kita bisa membangun semangat baru untuk kembali menjalankan tugas,” katanya.

Salah satu peserta, Vidya Palupi menyampaikan rasa antusiasmenya. Ia mengaku awalnya mengira membuat terrarium merupakan hal mudah karena sering melihat hasil-hasil cantik di media sosial. Namun saat praktik langsung, proses pembuatannya ternyata cukup menantang.

“Awalnya saya pikir terrarium itu tinggal pasang-pasang aja. Ternyata waktu praktik tidak semudah kelihatannya. Kreativitas kita benar-benar diuji karena hasilnya tidak selalu langsung secantik yang ada di media sosial,” ujarnya.

Vidya berharap kegiatan literasi kreatif dapat lebih sering diselenggarakan karena memberikan suasana berbeda di tengah rutinitas pekerjaan.

“Ini jadi ajang healing sekaligus bisa berkumpul dan berinteraksi dengan teman-teman dari unit lain dalam suasana yang lebih santai dan menyenangkan, bukan dalam forum rapat. Kegiatan ini juga sesuai dengan namanya, menambah kreativitas kami,” ungkapnya.

KEYWORD :

Kinerja MPR Siti Fauziah Perpustakaan MPR Pohon Sukun




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :