Arsip - Umat Muslim berdoa mengelilingi Kakbah di Masjidil Haram, selama ibadah haji tahunan di Mekkah (Foto: REUTERS)
Jakarta, Jurnas.com - Ibadah Haji dan Umrah merupakan momentum sakral di mana seorang hamba berdiri di ambang pintu rahmat Allah yang paling luas.
Di sana, seorang mukmin tidak hanya datang untuk membasuh dosa-dosanya, tetapi juga untuk menumpahkan segala beban kehidupan dan hajat duniawi yang menghimpit dada.
Islam tidak pernah mengajarkan pemisahan yang kaku antara urusan agama dan urusan hidup, sebab kebutuhan duniawi yang disandarkan kepada Allah adalah bentuk tawakal yang nyata.
Panduan Mandi Ihram dalam Ibadah Haji, Catat Ya
Hal ini tercermin dalam doa yang paling sering dipanjatkan oleh Rasulullah SAW, yang menyatukan kebaikan di dua alam sekaligus sesuai firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 201:
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: `Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka`.”
Keselarasan ini memberikan ruang bagi setiap jamaah untuk memohon rezeki yang berkah, kesehatan yang paripurna, hingga keharmonisan keluarga tanpa harus merasa rendah nilai ibadahnya.
Sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Qasas ayat 77, kita diperintahkan untuk mengejar kemuliaan akhirat namun dilarang keras mengabaikan peran kita di atas bumi:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.”
Keistimewaan Tanah Suci semakin sempurna dengan adanya waktu-waktu mustajab yang tidak ditemukan di tempat lain.
Puncaknya terjadi di Padang Arafah, di mana setiap rintihan hati didengar dengan penuh perhatian oleh Sang Khaliq.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Tirmidzi mengenai keutamaan waktu tersebut:
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.”
Di tempat-tempat mulia seperti Multazam atau saat putaran Tawaf, seorang hamba memiliki kebebasan penuh untuk mengadukan persoalan utang, mencari jalan keluar bagi pekerjaan, hingga memohon pasangan hidup yang saleh.
Allah sendiri yang memerintahkan hamba-Nya untuk meminta, tanpa batasan jenis hajat asalkan itu halal dan baik, sebagaimana termaktub dalam Surah Ghafir ayat 60:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman: `Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu`.”
Kendati demikian, seorang mukmin yang bijak tetap menjaga adab dalam bermunajat. Urusan dunia yang diminta bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk memperkuat ketaatan.
Meminta dunia di saat Haji dan Umrah adalah pengakuan bahwa kita adalah hamba yang lemah dan fakir di hadapan Allah dalam segala aspek, baik saat lapang maupun sempit.
Seperti yang dijelaskan oleh para ulama, selama permintaan tersebut tidak mengandung dosa, maka ia adalah inti dari ibadah itu sendiri.
Pada akhirnya, keberangkatan ke Tanah Suci adalah perjalanan untuk merendahkan hati, memohon ampunan, dan meminta kecukupan hidup dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan doa sesuai dengan hikmah-Nya yang maha luas.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman Ibadah Haji Nikmat Dunia Berdoa saat Haji














