Rabu, 21/10/2020 03:04 WIB

Cuitan Andi Arief "Berasa" Negara Terancam Hancur

Rakyat harus dijelaskan bahayanya ambisi berkuasa Jokowi dan PDIP yang berpotensi meninggalkan semangat persatuan.

Wasekjen Partai Demokrat, Andi Arief

Jakarta - Cuitan Andi Arief pada akun twitter pribadinya @andiarief kali ini menyasar ke pernyataan Politisi PAN, Eggi Sudjana yang dianggap sebagai korban atas bipolarisasi Joko Widodo.

Kata Andi,  Bipolarisasi yang dimaksud terkait benturan antara kelompok Islam dan Nasionalis. Dan Eggi, telah terjerumus dalam nikmatnya benturan Islam dan nasionalis.

"Eggi Sudjana adalah salah satu dari sekian tokoh politik yang menjadi korban tidak berdosa atas upaya bipolarisasi Jokowi yang mengakali Parlemen, UU dan MK. Egi terjerumus dalam nikmatnya benturan Islam dan Nasionalis seakan jadi laki-laki sejati dengan keislamannya," kata Andi, Senin (12/11).

Cuitan ini direspon Andi Arief dengan pernyataan Eggi yang menyebut tak setuju dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang menyebut soal politik SARA menguat sejak Pilgub DKI 2017.

"Saya tidak sependapat dengan SBY. Kalau mengikuti pendapat SBY, jadi banci. Enggak jelas," kata Eggi di Jakarta usai mengisi sebuah seminar.

Dituliskan cuitan Andi menjelaskan, setelah Pilkada DKI 2017 memang terjadi pengentalan kepercayaan. Misalnya kekuatan kiri semakin kental, namun ada juga sebagian yang ke tengah dan minoritas menjadi satu kubu. Kubu lainnya ke kanan dan sebagian tetap di tengah.

"Demokrat berupaya tarik sebagian kiri/kanan dan minoritas menyatu di kekuatan tengah agar tidak bipolar yang bahaya. Eggi Sudjana salah tafsir," kata dia.


Indonesia Terancam Konflik
Andi menuliskan, usai Pilkada DKI 2017, telah terjadi fenomena seperti fusi (penggabungan partai politik) tahun 1973. Dua kelompok lain, yakni Islam dan Nasionalis tengah pecah akibat Pilpres. Sementara Demokrat tetap jadi tengah yang sedang ditarik-tarik ke dalam dua kubu.

"Mereka yang buta dan Budeg adalah yang tidak mengerti Indonesia terancam konflik besar akibat politik bipolar," tulis Andi Arief.

Maka, kata Andi, Demokrat belajar dari pendahulu yang presidennya berupaya menghindari politik bipolar dengan cara demokratis. "Sukarno dengan Nasakom, Soeharto dengan Fusi," tulisnya.

"Sayangnya mereka lakukan dengan paksaan dan akali UU seperti Jokowi yang mengakali parlemen dan UU serta MK untuk politik bipolar," katanya.

Bahaya Ambisi Berkuasa Jokowi dan PDIP
Andi menjelaskan bahwa sepanjang 2004-2014 ketika SBY memimpin sebagai presiden perpolitik di Indonesia stabil. Saat itu adanya persatuan nasional antara mayoritas tengah, sebagian kiri dan sebagian kanan serta kelompok minoritas dalam Indonesia bersatu.

"Itulah mengapa terjadi kedamaian dalam multipartai dan menopang ekonomi tumbuh," kata Andi.

Dituliskan Andi Arief, rakyat harus dijelaskan bahayanya ambisi berkuasa Jokowi dan PDIP yang berpotensi meninggalkan semangat persatuan. "Jokowi dan PDIP menjebak suara saudara2 kita minoritas dalam perangkap elektoral dg pilkada DKI dan pengaturan Parlemen, UU dan MK pilpees PT 20 persen," cuitnya.

"Kita harus segera hijrah dari negara dengan politik bipolar menjadi negara persatuan," kata dia.

TAGS : Politik Banci Andi Arief Joko Widodo Korban Bipolarisasi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :