Selasa, 10/12/2019 06:07 WIB

Menteri Amran Temukan Solusi Baru Atasi Paceklik

Lahan rawa mampu menghasilkan pangan, terutama beras pada musim paceklik. Jadi paceklik yang terjadi pada November hingga Januari tidak menyebabkan stok padi nasional turun drastis.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat mengecek kesiapan pilot pengembangan lahan rawa di Desa Jejangkit, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Selasa (16/10).

Kalimantan - Kementerian Pertanian (Kementan) optimis kesiapan peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38 tahun 2018 yang digelar 18 hingga 21 Oktober di Kalimantan Selatan mampu memberikan terobosan serta inovasi baru untuk kesediaan pangan Indonesia.

Demikain kata Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat mengecek kesiapan pilot pengembangan lahan rawa di Desa Jejangkit, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Selasa (16/10).

Pada kesempatan tersebut, Amran menegaskan, dengan membangunkan lahan rawa menjadi produktif nantinya akan menjadi solusi saat musim paceklik.

"Yang kita inginkan saat ini adalah solusi baru untuk pangan Indonesia. Kami bangun di lahan rawa ini ada inovasi baru. Ini pesan terpenting dari pelaksanaan HPS tahun ini. Termanfaatkanya lahan rawa di Kalimantan Selatan ini, menjadi obatnya paceklik," ujar Amran.

Menurut Amran, lahan rawa mampu menghasilkan pangan, terutama beras pada musim paceklik. Jadi paceklik yang terjadi pada November hingga Januari tidak menyebabkan stok padi nasional turun drastis.

"Bulan November yang tinggal dua minggu lagi, Desember dan Januari panen padi di pulau Jawa menurun, bahkan dikenal dengan paceklik. Tetapi ditopang dari luar pulau Jawa. Rawa-rawa kita bangun dari selatan-selatan, yakni Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan," ungkap Amran.

"Ada lima provinsi yang kita bangun yang luasnya kurang lebih 10 juta hektare. Jadi generasi kita ke depan, tidak usah ragu, kita sudah menemukan solusi baru untuk pangan Indonesia. Stok beras kita aman," sambungnya.

Lebih lanjut Amran, pada peringatan HPS ke 38 di Kalimantan Selatan, luas lahan rawa menjadi lahan padi produktif seluas 4.000 hektare. Sebanyak 750 ribu di antaranya sudah ditanami padi, bahkan direncanakan siap dipanen pada puncak peringatan HPS.

Pemanfaatan lahan rawa, jelas Amran, dilakukan secara berkelanjutan untuk menghasilkan komoditas pangan strategis terutama beras. Kementan telah menyusun berbagai regulasi pendukung agar lahan rawa tetap sebagai lahan pertanian produktif.

"Regulasi untuk keberlanjutan pemanfaatan lahan rawa pasca HPS ini sudah buat dari awal, semua yang menghambat kepentingan rakyat petani kita cabut. Ada 241 regulasi pertanian pertanian telah dicabut yang menghambat percepatan produksi pangan," sebutnya.

Amran mengatakan salah satu regulasinya yakni merubaha sistem tender menjadi penunjukan langsung atau e-catalog. Dengan regulasi ini, bantuan dapat diturunkan ke petani secara cepat sesuai dengan waktu yang dibutuhkan.

"Dulu kalau mau memupuk, mengolah lahan harus tender. Kita tau turun APBN di bulam Februari, jika tender berarti baru terealisasi tiga bulan. Tapi dengan regulasi e-catalog, kami perintahkan hari ini butuh traktor, sore sudah tiba," ujarnya.

"Jadi inilah Perintah Bapak Presiden dan hasil revolusi mental. Karena tanaman, apalagi ada tikus, tidak bisa mengatakan tunggu dulu tender. Ini yang kita rubah, kita percepat agar petani sejahtera," pungkas Amran.

TAGS : HPS Kalimantan Selatan rawa Andi Amran Sulaiman




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :