Kamis, 20/09/2018 12:06 WIB

AS Bersiap Gempur Kembali Suriah

Matis mengatakan melihat dukungan internasional atas apa yang disebutnya ‘serangan yang disesali namun perlu’ terkait dugaan penggunaan senjata kimia oleh Assad
 
 

Seorang perwira militer Suriah merekam video di Pusat Penelitian Ilmiah yang hancur di Damaskus, Suriah, ( REUTERS / Omar Sanadiki)

Washington - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Jim Mattis mengatakan, Gedung Putih siap kembali menggempur Suriah, jika Bashar al-Assad mengabaikan serangan koalisi Amerika Serikat pekan lalu.

"Dia akan keliru jika mengabaikan pernyataan masyarakat internasional, dan kami siap untuk menyelesaikan persoalan apa pun di masa depan," kata Mattis kepada wartawan.

Matis juga mengatakan telah melihat dukungan internasional atas apa yang disebutnya `serangan yang disesali namun perlu` terkait dugaan penggunaan senjata kimia oleh Assad.

Ucapan terbaru Mattis datang saat pertemuan dengan Menteri Pertahanan Jepang, Hisunori Onodera di Pentagon.

Pasukan rezim Assad menyerang sasaran di distrik Douma, pinggiran Ghouta Timur awal bulan ini dengan menggunakan gas beracun yang menyebabkan sedikitnya 78 warga sipil tewas, menurut Pertahanan Sipil Suriah yang juga dikenal sebagai White Helmets.

Menyusul serangan tersebut, AS, Inggris, dan Prancis bersama-sama meluncurkan serangan balasan Jumat lalu yang menargetkan kemampuan senjata kimia rezim Assad.

"Serangan itu menargetkan pusat penelitian senjata kimia dekat Damaskus, gudang senjata kimia dan pusat komando yang terkait dengan senjata kimia di barat Homs," kata Kepala Staf Gabungan AS Joseph Dunford.

Ghouta Timur telah dikepung selama lima tahun terakhir. Akses kemanusiaan ke wilayah yang merupakan rumah bagi 400.000 jiwa itu telah benar-benar terputus.

Dalam delapan bulan terakhir, rezim Assad telah mengintensifkan pengepungan, sehingga bantuan makanan maupun obat-obatan sama sekali tidak bisa tersalurkan.

Menteri Pertahanan Jepang Onodera juga mencatat bahwa serangan bersama menunjukkan keputusan komunitas internasional dalam menangani senjata pemusnah massal.

"Saya pikir ini memberi pesan tertentu terhadap Korea Utara juga," tambah dia, seraya mencatat bahwa Washington dan Tokyo harus bekerja sinergis bersama dengan komunitas internasional untuk membuat Korea Utara meninggalkan semua senjata pemusnah massal dan program rudal balistiknya dan tidak akan kembali melakukan hal yang sama di masa datang.

"Kami berhati-hati meninjau kemungkinan jalan baru menuju perdamaian dan pada saat yang sama kami tetap waspada," kata Onodera, mengacu pada Korea Utara.

Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un diperkirakan akan mengadakan pembicaraan tentang program nuklir Pyongyang pada akhir Mei atau awal Juni. Lokasi KTT belum diinformasikan.

 

TAGS : Senjata Kimia Suriah Amerika Serikat Donald Trump




TERPOPULER :