Rabu, 05/08/2026 00:12 WIB

Kalah dari Persib, Taktik Shin Tae-yong di Persija Mulai Dipertanyakan





Kekalahan dari Persib Bandung di Piala Presiden 2026, nasib Shin Tae-yong di klub Macan Kemayoran mulai banyak diragukan oleh para fans The Jakmania

Pelatih Persija Jakarta, Shin Tae-yong (Foto: ileague.id)

Jakarta, Jurnas.com - Piala Presiden 2026 kembali memberikan `hiburan` menarik bagi pencinta sepak bola nasional, khususnya pendukung Persija Jakarta.

Langkah Macan Kemayoran di turnamen pramusim ini resmi terhenti di babak semifinal usai ditekuk rival abadi mereka, Persib Bandung, dengan skor 1-2 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali pada Selasa (4/8) sore hari.

Hasil ini tentu memantik satu pertanyaan besar dari The Jakmania di berbagai kolom komenter media sosial, apakah Shin Tae-yong benar-benar sosok yang tepat untuk menukangi Persija?

Kedatangan Shin Tae-yong (STY) ke pelataran Jakarta beberapa bulan lalu dielu-elukan bak juru selamat. Rekam jejaknya bersama Timnas Indonesia diyakini akan langsung membawa angin segar dan trofi instan ke lemari piala klub.

Namun, performa Persija di sepanjang gelaran Piala Presiden 2026 justru menyajikan realita yang jauh dari ekspektasi.

Melihat jalannya laga semifinal melawan Persib, strategi yang diusung juru taktik asal Korea Selatan tersebut tampak membingungkan.

Pada babak pertama, Persija tampil luar biasa, luar biasa tertekan. Mengusung skema yang terlampau defensif, lini belakang yang digalang Denis Kolinger dan Ilham Rio Fahmi dibiarkan menjadi sasaran tembak para pemain Maung Bandung.

Hanya dalam kurun waktu empat menit, benteng Persija runtuh dua kali. Lini pertahanan babak belur meladeni gempuran Uilliam Barros pada menit ke-25, sebelum akhirnya melakukan pelanggaran ceroboh di kotak penalti yang sukses dieksekusi Balsa Sekulic pada menit ke-29.

Skema permainan di babak pertama memperlihatkan minimnya koordinasi antar lini. Eksel Runtukahu dan Witan Sulaeman di lini depan tampak terisolasi tanpa pasokan bola yang jelas dari lini tengah yang dihuni Stjepan Loncar maupun Fabio Calonego.

Persija memang menunjukkan tanda-tanda kehidupan di babak kedua. Masuknya Kwon Chang-hoon sempat memberi napas segar hingga mampu memperkecil kedudukan di menit ke-85.

Peluang dari Arlyansyah Abdulmanan yang membentur tiang di menit ke-70 juga menunjukkan bahwa skuad ini sejatinya memiliki kualitas individual untuk menyerang.

Sebagai pelatih bereputasi internasional dengan nilai kontrak yang tentu tidak murah, STY terkesan lambat membaca situasi matchday.

Taktik menunggu dan berharap keajaiban dari serangan balik melawan tim sekelas Persib di babak semifinal jelas sebuah perjudian yang terlalu naif.

Memang benar, Piala Presiden hanyalah turnamen pramusim yang dijadikan ajang bongkar-pasang komposisi tim. STY pun baru bertugas dalam hitungan bulan di markas Macan Kemayoran.

Namun, kekalahan dari Persib, dengan performa babak pertama yang sama sekali tanpa taring jelas menjadi tamparan keras.

Gaya kepemimpinan STY yang terkenal disiplin dan intensif seolah belum berbekas pada kedalaman taktik Persija.

Jika di turnamen pemanasan saja Macan Kemayoran sudah tampak kehabisan bensin dan gagap merespons taktik lawan sejak menit awal,

Manajemen dan pendukung Persija kini dihadapkan pada dilema, apakah harus terus bersabar menunggu proses ala Shin Tae-yong yang entah sampai kapan, atau mulai mempertanyakan apakah kapasitasnya di level klub memang cocok dengan kultur Persija?

Turnamen pramusim boleh saja usai, tetapi ujian sesungguhnya untuk Shin Tae-yong baru saja dimulai.

KEYWORD :

Sepakbola Indonesia Persija Jakarta Shin Tae-yong Persib Bandung Piala Presiden 2026




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :