Rabu, 19/09/2018 07:02 WIB

Iran Eksekusi Mati Agen Mossad Israel

Setidaknya empat ilmuwan Iran Iran terbunuh dalam kurun waktu 2010-2012, apa yang disebut Teheran program pembunuhan yang ditujukan untuk menyabotase program energi nuklirnya.

Sejumlah massa Iran protes atas pembunuhan ilmuan nuklirnya (Foto: Morteza Nikoubazl/Reuters)

London - Jaksa Teheran, Abbas Jafari Dolatabadi menjatuhkan hukuman mati kepada warga Iran yang terbukti memberikan informasi kepada Israel dalam membantu membunuh beberapa ilmuwan nuklir senior di negara tersebut. Amnesty International mengatakan, pria itu adalah Ahmadreza Djalali, seorang dokter Iran yang belajar dan mengajar di Swedia.

Setidaknya empat ilmuwan Iran Iran terbunuh dalam kurun waktu 2010-2012, apa yang disebut Teheran program pembunuhan yang ditujukan untuk menyabotase program energi nuklirnya. Sebelumnya Iran menggantung satu orang pada 2012, yang disebut memiliki hubungan dengan Israel.

Atas keyakinan terakhir, jaksa Teheran Abbas Jafari Dolatabadi mengatakan, "Orang tersebut memiliki beberapa pertemuan dengan agen Mossad  intelijen Israel dan memberi mereka informasi sensitif terkait situs militer dan nuklir Iran dengan imbalan uang dan tempat tinggal di Swedia."

Dolatabadi mengatakan, Djalali memberi informasi kepada Mossad tentang 30 ilmuwan nuklir dan militer termasuk Massoud Ali Mohammadi, yang dibunuh oleh sebuah bom yang dikendalikan oleh jarak jauh yang terpasang pada sebuah sepeda motor di luar rumahnya di Teheran.

Peradilan tersebut mengatakan terdakwa juga terkait dengan pembunuhan insinyur nuklir Majid Shahriari, yang tewas dalam serangan bom pada November 2010. 

Pihak Swedia mengutuk hukuman tersebut. Ia mengatakan, pihaknya telah mengajukan masalah tersebut dengan perwakilan Iran di Stockholm dan Teheran.

"Kami mengutuk penggunaan hukuman mati dalam segala macam bentuknya. Hukuman mati adalah hukuman yang tidak manusiawi, kejam dan tidak dapat dipulihkan yang tidak memiliki tempat dalam undang-undang modern," kata Menteri Luar Negeri Swedia Margot Wallstromd dalam pesan email.

Djalali, seorang dokter dan dosen di universitas kedokteran Stockholm, Institut Karolinska, ditangkap pada April 2016 dan ditahan tanpa mendapat akses ke pengacara selama tujuh bulan, tiga di antaranya berada dalam kurungan isolasi, menurut Amnesty yang berbasis di London.

"Djalali dijatuhi hukuman mati setelah pengadilan yang sangat tidak adil yang sekali lagi tidak hanya memperlihatkan komitmen teguh pemerintah Iran terhadap penggunaan hukuman mati, namun juga penghinaan terhadap peraturan undang-undang tersebut," kata Philip Luther, direktur advokasi Amnesty Timur Tengah

 

 

TAGS : Iran Hukum mati Swedia Israel Nuklir




TERPOPULER :