Sabtu, 24/10/2020 13:03 WIB

Menpora Apresiasi Penerbitan Buku Si Bung Mahbub Djunaidi

Mahbub dalam tulisan-tulisannya memang hampir selalu menggunakan humor untuk melihat fenomena kehidupan.

Menpora Imam Nahrawi

Jakarta – Menpora Imam Nahrawi memberikan apresiasi atas terbitnya buku “Bung Memoar tentang Mahbub Djunaidi”.  Sosok Mahbub, di mata Menpora, tidak pernah mati karena nilai-nilai, contoh keteladanan, dan juga misi perjuangannya bersemai dan terus menyebar di seantero penjuru negeri hingga saat ini. Tulisan-tulisannya yang membuat ia abadi. 

Mahbub Djunaidi, sosok aktivis dan politisi, lebih dikenal lewat tulisan-tulisannya yang satir dan jenaka di berbagai koran, tabloid, dan majalah di penghujung akhir Orde Lama hingga beberapa tahun menjelang tumbangnya Orde Baru. Mantan Ketua PWI periode 1965-1970 ini menghembuskan nafas terakhirnya bersamaan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 1995. 

“Meski sudah lebih dari dua dekade meninggal, ingatan tentangnya dari para keluarga, sahabat, kolega masih terasa begitu nyata dan hidup. Ingatan-ingatan itu akan dapat kita jumpai saat membaca buku “Bung Memoar tentang Mahbub Djunaidi,” kata Menpora yang juga memberikan pengantar dalam buku tersebut.

Menurut Menpora, sosok Mahbub Djunaidi yang begitu dekat dengan keluarga, berhasil digambarkan oleh penulis Iwan Rasta dan Isfandiari MD –yang tidak lain dan tidak bukan adalah putra Mahbub- dengan sangat nyata. Isfan menceritakan bagaimana Mahbub tak mau dipanggil oleh sebutan apa saja kecuali dengan “Si Bung”. Nggak cuma anaknya panggil si Bung, cucunya juga nggak boleh panggil kakek atau engkong. Cukup “Bung” saja (hlm. 17), tulisnya. Mahbub tidak ingin merasa tua, pikiran dan jiwanya selalu muda.

Ada juga beberapa kesaksian dari para sahabatnya, salah satunya adalah Jakob Oetama, Sekjend PWI di periode yang sama dengan Mahbub. Baginya, Mahbub adalah manusia yang khas dan berkarakter. Saat dia menulis kritik, kritik-kritik tajamnya disampaikan dengan cara yang berbeda, tidak seperti orang lain pada umumnya yang disampaikan dengan kaku dan cenderung uring-uringan. Mahbub menuliskan kritiknya dengan humor, luwes, sederhana, tidak meledak-ledak. Dari gaya tulisannya yang penuh tawa namun nyentil itulah Mahbub berhasil mempengaruhi orang-orang.

Mahbub dalam tulisan-tulisannya memang hampir selalu menggunakan humor untuk melihat fenomena kehidupan. Humor adalah cara Mahbub untuk mengajak seseorang masuk ke dalam suatu masalah, lalu melihat masalah dengan bahasa keseharian yang mudah dipahami oleh seluruh lapisan, jauh dari kesan kaku dan formal. Humor dijadikan sebagai senjata untuk menggelitik sekaligus mengkritik pemerintah yang lalai. 

Sebagai seorang penulis, kepiawaian Mahbub Djunaidi tidak ada yang meragukannya lagi. Ia adalah ‘mazhab’ penulisan kolom di Indonesia. Kalau di Amerika ada Art Burchwat maka di Indonesia ada Mahbub Djunaidi yang cerdas, tajam, aktual, dan yang penting lucu. Mahbub Djunaidi barangkali sedang berakrobat saat sedang menulis. Ibarat seorang jawara atau pendekar silat, ia tak pernah kehabisan jurus. Selalu ada dan terus ada.

Dalam buku “Bung Memoar tentang Mahbub Djunaidi” ada banyak kebahagiaan yang telah dituliskan oleh keluarga, sahabat, kolega dan bahkan para penggemarnya di era sekarang ini. Menurut Cak Imaam, sosok Mahbub memang tak pernah habis untuk diperbincangkan. Tulisannya yang segar, humornya kadang membuat kita terhenyak. Ia sosok idealis, yang selalu memperjuangkan humanisme, egaliter, berada di garis terdepan melawan segala bentuk ketidakadilan dan feodalisme.

TAGS : Menpora Imam Nahrawi Mahbub Junaidi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :