Kegiatan panen pedet sebagai momentum menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki dalam mendorong pembangunan peternakan nasional, yang berdampak langsung pada kesejahteraan serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Indonesia mampu menjadi lumbung daging nasional yang terus mengalami surplus pada setiap tahunnya.
Berdasarkan data Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSIKHNAS), selama periode 2018-2020 tercatat ada 276.448 ekor kelahiran pedet sapi perah, dengan rincian betina sebanyak 141.576 ekor dan jantan 134.872 ekor.
Selama tiga setengah tahun, dalam kurun waktu 2017 sampai 2020 Kementan berhasil melakukan inseminasi buatan (IB) pada ternak sapi dan kerbau sebanyak 13.868.641 ekor
animo usaha di bidang peternakan sapi perah masih diminati masyarakat, tapi peternak masih enggan melakukan pembesaran pedet untuk menghasilkan bibit karena dianggap tidak menguntungkan.
Dalam kurun waktu dua tahun terakhir sampai pada awal Juni 2020 ini tercatat di dalam sistem iSIKHNAS bahwa telah terdapat kelahiran pedet sapi perah sebanyak 217.400 ekor.
Pakan aditif ini merupakan jasad renik asal rumen yang bersifat nonpatogen dan diberikan kepada pedet yang belum diberi pakan hijauan/prasapih atau pada pedet dalam masa pertumbuhan.
Konsumsi nasional untuk daging sapi di Indonesia saat ini adalah 700.000 ton, sementara kemampuan produksi dalam negeri masih di angka 400.000 ton.
Dari hasil Upsus Siwab pada tahun ini, yang tercatat dalam ISIKHNAS (Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional) telah ada kelahiran pedet sebanyak 48.222 ekor.
Sejak diluncurkannya pada Oktober 2016 program ini sudah menghasilkan lebih dari 2 juta ekor pedet.